Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

DONNY PRASETYA: Tak Ada Kepastian dalam Segala Hal

Usaha makanan dan minuman dianggap banyak orang sangat menjanjikan karena relatif mudah menjualnya. Meski demikian, penataan dan pengelolaan yang baik tetap dibutuhkan.
Inda Marlina
Inda Marlina - Bisnis.com 27 April 2014  |  11:40 WIB
Bisnis restoran adalah bisnis yang sangat dinamis. - twitter
Bisnis restoran adalah bisnis yang sangat dinamis. - twitter

Bisnis.com, JAKARTA - Usaha makanan dan minuman dianggap banyak orang sangat menjanjikan karena relatif mudah menjualnya. Meski demikian, penataan dan pengelolaan yang baik tetap dibutuhkan. Bisnis makanan bisa menghasilkan untung berlimpah, tetapi apabila salah strategi bisa-bisa rugi yang didapat. Di situlah tantangan terbesarnya.

Tantangan inilah yang dirasakan Donny Prasetya yang kini sedang mengembangkan bisnis restoran.

Dia mulai tertarik membuka restoran sekembalinya dari studi di Washington D.C, Amerika Serikat. Dia berada di Negeri Paman Sam selama sekitar 10 tahun. Selama merantau di AS sejak 1994-2004, Donny memanfaatkan tidak hanya kuliah dan bekerja sebuah bank, tetapi juga mencoba banyak hal termasuk mengasah kepiawaiannya dalam memasak yang telah dimilikinya sejak masa kanak-kanak.

Salah satu yang dia lakukan yakni mengikuti sekolah memasak selama 1 tahun. Dari sinilah niat membangun bisnis restoran semakin mantap dan kuat. Itulah sebabnya saat pulang ke Indonesia, pada 2006 Donny memberanikan diri membuka Restoran Q SmokeHouse di kawasan Setiabudi One dan Senopati, Jakarta. Restoran ini menggunakan konsep barbeque sebagai menu utama.

“Bisnis restoran adalah bisnis yang sangat dinamis dan selama proses itu saya sangat menikmatinya,” ujar Donny.

Di tengah kesibukannya sekarang sebagai bankir di sebuah bank swasta, pria lulusan The George Washington University dengan indeks prestasi kumulatif 4.00 di bidang bisnis teknologi ini menyiapkan sendiri resep dan kreasi menu restorannya.

Donny juga tidak segan mempelajari consumer behaviour lewat riset berdasarkan teknik penelitian dalam ilmu Antropologi, yaitu Etnografi. Riset ini dilakukannya sebagai salah satu upaya untuk menemukan strategi terbaik dalam berbisnis makanan.

Metode penelitian tersebut dilakukan dengan teknik observasi partisipasi, yaitu mengamati sekaligus menjadi bagian dari subyek yang diamatinya. Riset dilakukan Donny melalui pengamatan di sejumlah restoran di samping membaca buku serta memperhatikan kekhasan konsumen di setiap daerah. “Taste di Bandung dan di Jakarta itu beda. Begitu pula dengan gaya hidup dan penghasilan penduduknya. Itu semua mempengaruhi perbedaan selera makan,” katanya.

Dalam berbisnis restoran dia juga terus-menerus mempelajari psikologi konsumen dan ‘memetakan’ kekuatan sumber daya manusia atau para karayawannya. Seluruh karyawannya, diajari cara memahami makanan yang dijual.

Jadwal yang padat antara menjadi bankir dan mahasiswa doktoral di Universitas Indonesia tidak lantas membuatnya berhenti bereksperimen memasak. Berbagai menu baru selalu diuji coba dulu di rumah. Di kantornya pun, eksperimen dengan bahan-bahan seadanya sering dilakukan untuk mencoba membuat kudapan baru untuk dinikmati bersama-sama. “Saya ingin menangkap esensi dari entepreneur yang ternyata membutuhkan kreativitas tinggi.”

Meski saat ini bisnisnya berjalan cukup baik, bukan berarti semua itu berjalan tanpa hambatan. Berbagai kendala sudah dirasakan Donny sejak dia mulai membuka restoran pertama. Dalam pengamatannya dia menemukan fakta bahwa bahan-bahan pangan dan bumbu di Indonesia tidak hanya dipengaruhi antara hukum permintaan dan persedian, tetapi juga dipengaruhi oleh iklim politik. Lho, Apa hubungannya?

Sebagai contoh ketika pada masa awal memutuskan untuk menggunakan daging sapi sebagai menu utama, tidak lama kemudian harganya melonjak sebagai imbas dari isu kasus suap impor daging. Begitu pula dengan bumbu-bumbuan seperti bawang putih, bawang merah, atau cabai yang juga memiliki kemiripan. Dia pun mencoba menemukan solusi, misalnya, membuat menu baru dan mengganti menu spesial daging sapi dengan ikan.

Kondisi ini membuat bisnis restoran di Indonesia memiliki kekhasan dalam hal tantangan dan dinamikanya karena tidak ada jaminan dan kepastian dalam hampir segala hal. Ini berbeda dengan bisnis restoran di Amerika Serikat yang serba terjamin keberlanjutan dan kestabilan pasokan bahan baku maupun harganya. “Semua teman saya di Indonesia yang sukses, pernah membuka restoran,” ujarnya sembari tertawa.

BIODATA

Nama                                  

Donny Prasetya

Tempat, Tanggal Lahir

Jakarta, 4 Januari 1975

Pendidikan

University of Maryland at College Park (Smith)

Bachelor of Science in Decision Science (1997)

Master of Science in Finance  (2008)

The George Washington University

Master of Science in Business Technology (2000 – 2001)

Universitas Indonesia

Program Doktoral Manajemen Strategi (2012-sekarang)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

restoran
Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top