UKM Menjamur, Jasa Pembuatan Kemasan Produk Kian Moncer

Fenomena ini ditangkap sebagai peluang bisnis oleh beberapa pengusaha. Mereka menawarkan jasa pembuatan kemasan yang jumlahnya bisa disesuaikan dengan kebutuhan pelaku UKM. Beberapa produk yang dihasilkan a.l. kemasan makanan, kardus, hingga kantong kertas (paperbag).nn
Feni Freycinetia Fitriani | 26 Juni 2014 13:11 WIB
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Jumlah pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) di Indonesia terus bertambah. Setiap hari selalu ada pelaku usaha baru bermunculan  bak jamur di musim hujan.

Pelaku usaha tersebut pasti membutuhkan material untuk mendukung bisnis mereka. Selain bahan baku, mereka juga membutuhkan kemasan untuk membungkus produk-produk yang mereka hasilkan. Sayangnya, rata-rata produsen kemasan menerima pesanan dalam jumlah banyak dan menyasar industri besar. Pebisnis UKM pun kesulitan memproduksi kemasan sesuai kebutuhan mereka.

Fenomena ini ditangkap sebagai peluang bisnis oleh beberapa pengusaha. Mereka menawarkan jasa pembuatan kemasan yang jumlahnya bisa disesuaikan dengan kebutuhan pelaku UKM. Beberapa produk yang dihasilkan a.l. kemasan makanan, kardus, hingga kantong kertas (paperbag).

Bukan itu saja, mereka juga menawarkan jasa pembuatan desain kemasan unik dan kreatif. Produk-produk UKM kini tampil ciamik dan tak kalah keren dengan merk ternama. Tak heran, jasa pembuatan desain dan produksi kemasan tersebut diserbu oleh para pelaku UKM.

Salah satu pengusaha yang sukses memproduksi kemasan untuk UKM adalah M. Gondo Kuswanto. Di bawah bendera Yogyakartas, pria berusia 35 tahun ini menyediakan berbagai jenis kemasan unik dan paperbag sejak 2012 silam.

Alasan Gondo merintis bisnis kemasan tak lain karena melihat pertumbuhan industri UKM di Indonesia. Setiap pelaku usaha pasti akan membutuhkan kemasan dan kantong untuk membungkus produk mereka.

“Awalnya saya menjalankan bisnis percetakan buku. Ketika bisnis ini meredup, saya melihat banyak pebisnis di bidang makanan dan fesyen yang bermunculan di Yogyakarta. Saya pikir fenomena ini juga terjadi di berbagai kota di Indonesia. Makanya, saya tidak ingin menyia-nyiakan peluang ini, ” ujar pria asal Yogyakarta ini.

Dia melayani jasa pembuatan aneka kardus makanan dan paperbag yang terbuat dari kertas karton dan dupleks. Kemasan tersebut biasanya dipakai untuk membungkus aneka roti, snack, dan kue-kue. Selain itu, dia juga memproduksi kemasan untuk produk fesyen, misalnya baju, dompet, dan sepatu.

Tak hanya memproduksi kemasan karton, dia juga menyediakan layanan jasa pembuatan desain kemasan yang bisa disesuaikan dengan produk, merk, dan logo perusahaan. “Karena banyak pelaku UKM yang belum mengerti tentang pentingnya desain sebuah kemasan, kami menawarkan jasa pembuatan desain untuk membantu mereka,” tuturnya.

Soal harga, Gondo mengakui harga produk kemasan akan mencapai nilai ekonomis jika diproduksi dalam jumlah besar. Oleh karena itu, dia memberlakukan pesanan minimal sekitar 1.000 buah. Harga per kemasan dibanderol mulai dari Rp700—Rp1.700 per buah.

Namun demikian, lantaran menyasar kalangan UKM, dia menawarkan paket khusus. “Dengan uang Rp750.000 pelaku usaha UKM sudah bisa mendapatkan paket kemasan yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan mereka,” katanya. Margin keuntungan yang didapat dari bisnis ini mencapai 10%—20%.

Dia menggunakan kertas dupleks beragam ukuran, yaitu 250gram, 310gram, 350gram, dan 400gram. Sedangkan untuk paperbag, dia memanfaatkan Craft paper dan ivory dengan ukuran 125gram, 150gram, dan 200gram.

Dia membutuhkan waktu sekitar 1—2 minggu untuk waktu produksi. Waktu paling lama biasanya terjadi di pembuatan desain. “Kami coba sesuaikan desain kemasan dengan color identity UKM. yang sudah punya color identity. Namun, jika UKM tidak memilikinya, kami akan membuatkan desain yang bisa meka pilih,” katanya.

Pada mulanya, Gondo mempromosikan bisnis yang dikelolanya dari mulut ke mulut (word of mouth). Tak disangka, respons yang didapat sangat positif. Untuk memperluas jangkauan pasar, dia membangun situs www.yogyakartas.com. Hasilnya, dia mendapat banyak pesanan dari konsumen dari luar daerah, misalnya Aceh, Jakarta, Bandung, Medan, Balikpapan, hingga Malaysia.

Seiring berjalannya waktu, bisnis kemasan Gondo terus tumbuh. Dia mengklaim mampu mendapat 10—20 klien setiap bulan. Selain klien dari pengusaha UKM, dia juga mendapat pesanan dari produsen kelas menengah dan besar yang bergerak di industri ritel. Namun, sekitar 75% dari konsumen adalah pengusaha UKM.

Gondo mengakui potensi bisnis kemasan di Indonesia sangat prospektif. Tingginya kebutuhan konsumen, khususnya pelaku UKM, menjadi faktor utama yang membuat bisnis ini memiliki masa depan cerah. “Pertumbuhan usaha kemasan ini akan tumbuh seiring dengan meningkatnya jumlah wirausaha di Indonesia. Sekarang sudah banyak, ke depannya akan lebih banyak lagi,” katanya.

Tag : peluang usaha
Editor : Nurbaiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top