Survei Pengaruh Perusahaan: Masyarakat Negara Maju Lebih Sinis, Masyarakat Negera Berkembang Lebih Positif

Masyarakat di negera maju jauh lebih sinis memandang peran perusahaan dibandingkan dengan masyarakat umum di negara berkembang.nn
Tisyrin Naufalty Tsani
Tisyrin Naufalty Tsani - Bisnis.com 23 September 2014  |  18:43 WIB
Survei Pengaruh Perusahaan: Masyarakat Negara Maju Lebih Sinis, Masyarakat Negera Berkembang Lebih Positif
Ilustrasi - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA — Masyarakat umum di negara maju dan negara berkembang ternyata memiliki pandangan yang berbeda tentang peran perusahaan.

Masyarakat di negera maju jauh lebih sinis memandang peran perusahaan dibandingkan dengan masyarakat umum di negara berkembang.

CNBC dan perusahaan komunikasi strategis global Burson-Marsteller meluncurkan hasil survei Indikator Persepsi Perusahaan.

Survei tersebut didukung oleh perusahaan riset Penn Schoen Berland dan dilakukan terhadap lebih dari 25.000 orang masyarakat umum dan lebih dari 1.800 eksekutif bisnis di 25 negara.

Survei tersebut memberikan laporan mendalam tentang persepsi mereka mengenai peran dan tanggung jawab perusahaan dalam masyarakat dan kontribusinya terhadap perekonomian.

Salah satu temuan pentingnya adalah adanya kesenjangan tajam antara negara maju di Amerika Utara dan Eropa Barat dengan negara berkembang seperti China, Rusia, dan Brazil.

Perbedaan itu terutama mengenai pendapat masyarakat tentang pengaruh perusahaan terhadap pemerintah dan peran perusahaan terhadap pengelolaan lingkungan.

Selain itu, peran perusahaan sebagai mesin pencetak lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi di negara bersangkutan.

Berdasarkan survei ini, masyarakat umum di negara maju memiliki pandangan yang jauh lebih sinis terhadap perusahaan dibandingkan dengan masyarakat umum di negara berkembang.

Di negara maju, hanya 52% masyarakat yang memiliki pandangan positif terhadap perusahaan, sementara di negara berkembang terdapat 72% masyarakat yang berpandangan positif.

Penelitian lebih lanjut terhadap negara berkembang menemukan bahwa masyarakat dan eksekutif perusahaan umumnya cenderung melihat perusahaan sebagai sumber harapan, bukan sumber ketakutan, jika dibandingkan masyarakat di negara maju.

"Survei ini mampu mengungkap bahwa enam tahun setelah krisis ekonomi, meskipun reputasi perusahaan dan pemimpin bisnis kian membaik, masih ada pekerjaan penting yang harus dilakukan untuk menghilangkan keraguan akan dampak yang mereka timbulkan," kata Donald A. Baer, Chair & CEO Burson-Marsteller Global melalui siaran pers, Selasa (23/8/2014).

Menurutnya, survei ini dapat menjadi panduan bagi perusahaan untuk lebih memperdalam lagi keterlibatan mereka dan pemimpin perusahaan dengan masyarakat luas dalam rangka membangun ekonomi negara serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang menjadi peran penting perusahaan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perusahaan

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top