Rio Novia Indra: Pernah Gagal Berkongsi, Kini Sukses Bisnis Resto

Bagi pencinta kuliner yang suka merasakan sensasi baru, mungkin dapat mencoba menu Restoran Ayam Penyet Margo, yang menghadirkan sambel khusus pedas.
Rahmayulis Saleh
Rahmayulis Saleh - Bisnis.com 02 November 2014  |  13:20 WIB
Rio Novia Indra: Pernah Gagal Berkongsi, Kini Sukses Bisnis Resto
Berkat sambal pedas ini, para pecinta kuliner selalu datang ke restorannya. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Bagi pencinta kuliner yang suka merasakan sensasi baru, mungkin dapat mencoba menu Restoran Ayam Penyet Margo, yang menghadirkan sambel khusus pedas.

Restoran dengan tagline  Pedess Gila!! ini, memang menjual sensasi rasa pedas pada menu ayam. Ide untuk membuat mulut konsumen merasa kepedasan dan akhirnya berteriak mengaku pedas ini digagas oleh Rio Novia Indra.

Bisnis kuliner yang dimilikinya ini dirintis tanpa sengaja. Tepatnya pada 2011, Rio menemukan warung ayam goreng yang rasanya lezat. “Saya tertarik untuk membantu pengusaha warung itu supaya bisa menjadi bagus dan besar. Akhirnya kami bekerja sama. Saya menyediakan modal dan mencari tempat usaha,” tutur pria yang suka membaca buku motivasi dan biografi orang terkenal ini.

Modal awal Rp250 juta digunakannya untuk menyewa ruko dan melengkapi kebutuhan restoran. Optimismenya terus tumbuh karena yakin dengan cita rasa ayam goreng yang dikelolanya ini. Awalnya roda bisnis berjalan lancar, tetapi sayangnya tidak berlangsung lama.

Omzet yang didapatkan terus menurun. Situasi ini membuat Rio memutuskan keluar dari kongsi. Kegagalan yang dialaminya tidak membuatnya mundur. Setahun kemudian, Rio mendirikan bisnis kuliner sendiri.

Posisinya yang saat itu masih menjabat sebagai Project Development Manager di restoran ayam siap saji Kentucky Fried Chicken dilepaskannya, agar dapat berkonsentrasi di bisnis pribadinya. Selama enam bulan masa transisi, Rio mengaku sering termenung.

“Ya, bayangkan saja biasanya tiap pagi berangkat ke kantor dengan pakaian rapi dan necis, kini hanya mengurusi restoran kecil, dan tidak perlu berbaju rapi benar. Waktu itu, saya belum menemukan ruh untuk berjualan,” kenangnya.

Namun, karena keputusan sudah ditetapkan, Rio akhirnya menguatkan tekat mengangkat usaha yang dirintisnya itu. Saya dan tim berupaya untuk mencari merek dagang sendiri, dan juga mencari keunggulan produk agar dapat bersaing dengan kompetitor lainnya.

“Akhirnya, saya menemukan ide dari sambal dan mun-cul  tagline  Pedess Gila!!.  Kami bersyukur pelanggannya  banyak dan semua itu memompa semangat kami. Satu per satu cabang pun dibuka mulai dari ITC Depok yang sudah tutup, D’Mall, jalan Margonda Raya, hingga masuk ke kantin kampus Universitas Indonesia dan Universitas Pancasila,” jelasnya.

Semakin hari, jumlah pelanggan restorannya semakin banyak sehingga seringkali tidak tertampung. Melihat potensi pasar yang sangat besar, Rio memberanikan diri mencari tempat yang lebih luas untuk dijadikan restoran.

“Saya menemukan tiga ruko yang sebelumnya digunakan sebagai ruang pamer kendaraan di Margonda Raya. Saya langsung me nyewanya dan merenovasinya sesuai dengan ciri khas restoran,” ungkapnya.

Dia mengaku investasi di lokasi baru ini membuatnya merogoh kocek cukup dalam.

Investasi sebesar Rp1 miliar dikeluarkannya untuk sewa, biaya renovasi, dan pembelian perlengkapan untuk interior restoran seperti meja, kursi, dan perlengkapan dapur,” katanya. Restoran di tempatnya yang baru ini berkapasitas 450 orang, dan diresmikan pada Desember 2013.

Pengembalian modal ternyata butuh waktu hanya sekitar setahun, atau lebih cepat dari target ditetapkan 16 bulan. “ Alham du lillah, pada September lalu sudah mendekati angka 100%. Insya Allah dalam tahun ini dapat balik modal,” katanya.

Seiring dengan perkembangan bisnis kulinernya, Rio berencana untuk melebarkan sayap ke Jakarta. Beberapa rekan dan pelanggan banyak yang memintanya untuk membuka cabang di Ibu Kota. Dia mengaku membuka kesempatan bagi pemodal lain untuk bergabung, tetapi tidak dengan cara waralaba, melainkan kemitraan.

POLA USAHA MANDIRI

Dia mengungkapkan berdasarkan pengalaman selama belasan tahun menjadi karyawan dan pimpinan, kepuasan yang didapatkan jika berhasil membuka usaha sendiri. “Menjadi karyawan itu lebih tinggi tingkat stresnya. Berbeda jika membuka usaha sendiri. Kita dapat mengatur dan merencanakan target yang ingin dicapai,” katanya.

Rio menuturkan dalam menjalankan usaha, yang paling penting adalah fokus pada jenis bisnis yang akan ditekuni. Setelah itu langsung terjun dan mengelola sendiri. “Jangan mudah menyerahkan begitu saja bisnis kepada orang lain. Yang ada uang habis,” katanya.

Selain itu, upayakan untuk menampilkan sesuatu yang berbeda dari usaha sejenis yang sudah terlebih dahulu berdiri. Dengan demikian, para pelanggan akan tertarik dan ingin mencoba. Inovasi menu baru menjadi hal yang penting karena dapat menjaga loyalitas pelanggan. Jika pelanggan sudah loyal, maka harus mempertahankan menu yang disukai pelanggan.

Hal terakhir yang tidak kalah penting agar mampu bersaing di dunia kuliner adalah kebersihan restoran, dan pelayanan kepada pelanggan. Rio mengatakan menu makanan dan minuman yang tersedia di restorannya mencapai lebih dari 100 macam.

Setiap tiga bulan sekali selalu muncul menu baru dari makanan atau minuman. Setiap hari, Rio dan karyawannya selalu menyiapkan 100 hingga 200 ekor ayam dan 30 ekor bebek untuk dipresto, dan kemudian baru diolah baik goreng atau bakar sesuai keinginan pelanggan. “Semua itu sudah yang memasoknya dan segar, termasuk ikan. Kesegaran ini membuat makanan yang diolah terasa enak,” ujarnya.

Rio yang ketika memulai bisnis dari hanya 16 karyawan, hingga sekarang sudah mencapai 80 orang mengaku menu spesial yang disajikannya dieksplorasi secara khusus oleh tim kuliner restorannya. “Untuk sambal, kami memakai cabai rawit jawa yang lumayan pedas, berwarna kemerahan. Tidak ada campuran dengan bumbu lainnya, kecuali sedikit bawang putih,” katanya.

Dia menuturkan setelah melakukan beberapa kali percobaan, akhirnya menemukan cara untuk membuat sambal yang pedas. Dari sekian banyak jenis cabai, katanya, yang punya rasa sangat pedas adalah jenis cabai rawit Jawa yang mudah ditemukan di Jakarta.

Dia mengatakan untuk membuat sambal dengan tingkat kepedasan di angka tujuh, tidak perlu menambah dengan bahan-bahan lainnya. “Cabainya cukup kami ulek dengan tangan sehingga rasanya sangat pedas. Jadi benar-benar seperti masakan rumahan,” katanya berbagi rahasia.

Dia mengatakan untuk satu ekor ayam diperlukan cabai sebanyak 23 biji. Sementara itu, untuk dua ekor diperlukan 45 biji cabai. Jumlah cabai yang ganjil ini ternyata menghasilkan rasa cabai dengan tingkat kepedasan yang sama. “Kalau genap, seperti 24 biji cabai, rasa pedasnya berkurang,” ujarnya sembari tertawa.

Kini tersedia lima macam sambal yang disediakan di restorannya yakni, sambal penyet, sambal kremes, sambal cabai hijau, sambal tempe, dan sambal udang.

Berkat sambal pedas ini, para pecinta kuliner selalu datang ke restorannya. Hasilnya, pundi-pundi Rio pun makin berisi, dan usahanya restorannya pun semakin berkembang pesat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
restoran

Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top