Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

KIAT MANAJEMEN: Gap dalam Kepemimpinan

Diskrepansi adalah suatu kesenjangan atau gap yang terjadi akibat perbedaan dari apa yang diharapkan dengan hasil yang diterima. Dalam kepemimpinan, hal ini seringkali dialami baik oleh pemimpin maupun orang-orang yang dipimpin.
Fatchiah Kertamuda
Fatchiah Kertamuda - Bisnis.com 23 Januari 2015  |  11:17 WIB
Diskrepansi adalah suatu kesenjangan atau gap yang terjadi akibat perbedaan dari apa yang diharapkan dengan hasil yang diterima. Dalam kepemimpinan, hal ini seringkali dialami baik oleh pemimpin maupun orang-orang yang dipimpin.  -
Diskrepansi adalah suatu kesenjangan atau gap yang terjadi akibat perbedaan dari apa yang diharapkan dengan hasil yang diterima. Dalam kepemimpinan, hal ini seringkali dialami baik oleh pemimpin maupun orang-orang yang dipimpin. -

Diskrepansi adalah suatu kesenjangan atau gap yang terjadi akibat perbedaan dari apa yang diharapkan dengan hasil yang diterima. Dalam kepemimpinan, hal ini seringkali dialami baik oleh pemimpin maupun orang-orang yang dipimpin.

Kesenjangan atau gap tersebut dapat terjadi di segala lini dalam suatu institusi. Ketidaksesuaian harapan dan hasil ini dapat menuai kesalahpahaman antara pemimpin dan orang-orang yang dipimpinnya. Hal inilah yang dapat memicu konflik di suatu institusi. Apabila hal tersebut tidak dapat diatasi maka akan menimbulkan perpecahan ataupun disharmonisasi yang berdampak pada kinerja seseorang.

Diskrepansi dapat terjadi jika pemahaman terhadap visi dan misi dari seorang pemimpin atau atasan dimaknai berbeda dari orang-orang yang dipimpinnya. Penting bagi pemimpin untuk dapat menjelaskan dan mensosialisasikan tujuan, visi dan misi dari institusi yang dipimpinnya.

Hal ini penting agar orang-orang yang dipimpinnya dapat menjalankan tugas yang diberikan kepadanya dengan tetap mengacu dari tujuan yang diinginkan. Walaupun demikian terkadang kesenjangan dan perbedaan pemahaman dapat menuai konflik baik internal maupun eksternal dirinya. Inilah awal dari diskrepansi yang terjadi.

Namun, hal ini perlu untuk diatasi dan dibenahi oleh pemimpin. Peran pemimpin adalah meminimalisasi kesenjangan di antara kedua belah pihak.  Meski demikian, hal tersebut tidak semudah yang dibayangkan. Untuk menemukan titik agar dapat mengatasi diskrepansi, seorang pemimpin  membutuhkan energi yang tidak sedikit.

Lawyer (1973) mengemukakan tentang teori diskrepansi. Menurutnya, diskrepansi merupakan  perbedaan antara hasil aktual yang diterima seseorang dengan hasil yang diharapkannya. Dalam kepemimpinan, diskrepansi ini akan menuai ketidakpuasan seorang pemimpin apabila apa yang sesungguhnya diharapkan ternyata tidak sesuai.

Hal inilah  yang dapat menimbulkan perubahan perilaku dari seorang pemimpin. Perilaku dan  kinerja yang ditunjukkannya dapat mempengaruhi orang-orang yang dipimpinnya. Harapan dan ekspektasinya terhadap berbagai hal terutama produktivitas, kinerja yang diinginkannya terjadi berbanding terbalik dengan hasil aktual, akan menghasilkan ketidakpuasan.

Oleh karena itu, agar institusi atau perusahan dapat mengenali kondisi orang-orang yang dipimpinnya berdasarkan kepuasan dan ketidakpuasan yang dirasakannya, maka seorang permimpin perlu untuk peka terhadap setiap kebutuhan orang-orangnya.

Pemimpin harus mampu untuk membedakan antara manajemen dan kepemimpinan, sehingga tugas-tugas yang dijalankan oleh setiap orang yang ada di lingkungannya dapat teramati dengan cermat oleh pemimpin.

Pemimpin yang mengenal terhadap setiap orang yang bekerja untuknya akan menyadari bahwa terkadang muncul perlakukan berbeda kepada satu orang dengan orang lain.  Hal inilah yang dapat memicu kesenjangan dari orang-orang yang dipimpinnya.

Peran pemimpin adalah mencoba untuk memaknai diskrepansi yang terjadi dalam kepemimpinannya. Hal ini penting untuk  menghindari gap yang sangat berhubungan dengan kepuasan. Meminimalisasi diskrepansi antara harapan dan kenyataan yang diinginkan oleh seseorang maka akan meningkatkan kepuasan seseorang baik itu pemimpin maupun orang-orang yang dipimpinnya.

Timbulnya diskrepansi dapat dikarenakan persepsi yang berbeda antara pemimpin dan orang-orang yang dipimpinya. Persepsi pemaknaan terhadap kepemimpinan dan manajemen yang berbeda dari pemimpin dan orang-orang yang ada disekitarnya akan menyebabkan perbedaan seluruh konsep yang ada di institusi yang dipimpinnya.

 

Kurangi Kesenjangan

Oleh karena itu penting bagi pihak institusi atau perusahaan untuk dapat meminimalisasi kesenjangan tersebut. Upaya-upaya yang perlu dilakukan oleh suatu institusi untuk menyamakan persepsi satu sama lain membutuhkan kerja sama yang baik dari kedua belah pihak.

Akan tetapi sering kali kendala atau hambatan yang dihadapi muncul di situasi yang seyogyanya mampu menjembatani perbedaan yang ada. Namun demikian bukan berarti hal tersebut tidak bisa diupayakan agar iklim kerja dapat menjadi lebih kondusif.

Di dalam satu pertemuan yang dilakukan oleh pemimpin terdapat beberapa upaya dapat dilakukan oleh pemimpin untuk dapat mengurangi diskrepansi atau kesenjangan di antaranya:

Pertama, seorang pemimpin hendaknya dapat menjadi inovator yang dapat mencetuskan ide-ide yang penting untuk membantu orang-orang  yang dipimpinnya agar dapat lebih produktif melalui beragam aktivitas yang dilakukan. Ide yang penting tersebut tentunya tidak sekadar gagasan saja, tetapi perlu benar-benar diimplementasikan untuk kesejahteraan orang-orang yang dipimpinnya.

Kedua, pemimpin yang memberikan solusi atas permasalahan yang dihadapi bukannya menambah persoalan bagi orang-orang yang dipimpinnya. Keberhasilan seorang pemimpin dalam mengatasi permasalahan dalam kepemimpinannya akan membantu kesenjangan antara keduanya.

Ketiga, agar dapat meminimalisasi diskrepansi antara pemimpin dan orang-orang yang dipimpinnya diperlukan kepercayaan. Kepercayaan yang diberikan pemimpin akan menumbuhkan rasa percaya diri dan juga akan meningkatkan performa orang-orang yang dipimpinnya.

Kepercayaan yang diberikan dapat menginspirasi bawahan untuk membuktikan bahwa tugas yang dipercayakan padanya dapat dilaksanakan dengan baik.

Keempat, diskrepansi tidak akan terjadi bila seorang pemimpin secara aktif memberikan waktunya untuk dapat berdialog dan berinteraksi dengan orang-orang yang dipimimpin secara berkala.

Pertemuan berkala antara pimpinan dan bawahan akan menumbuhkan rasa kebersamaan yang pada akhirnya dapat terbina keharmonisan di lingkungan kerja. Melalui pertemuan tersebut seorang bawahan akan memperoleh cara atau strategi yang dapat diterapkan dalam pekerjaan yang dijalaninya.

Selain itu pemimpin pun dapat ‘mendengarkan’ apa yang sesungguhnya terjadi di lingkungan kerjanya. Diskrepansi dalam kepemimpinan yang terlalu dalam dapat mengakibatkan perbedaan antara pemimpin dan orang-orang yang dipimpinnya.

Oleh karena itu, berbagai strategi dan cara harus dapat menjadi prioritas bagi pemimpin agar dapat menjalankan kepemimpinannya. Meskipun baik disadari atau tidak kesenjangan tetap akan terjadi di setiap institusi manapun.

Akan tetapi peran bijak pemimpin menjadi penting agar kesenjangan tersebut tidak menimbulkan konflik yang dapat memecahkan keutuhan dari institusi yang dipimpinnya. Selain itu, kepekaan dan kepedulian pemimpin menjadi kunci penting agar insitusi yang dipimpinnya tetap dalam kondisi sehat dan menunjukkan performa yang optimal.

 

Penulis:

Fatchiah Kertamuda

Dosen Psikologi Universitas Paramadina

 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

leadership kiat manajemen

Sumber : Bisnis Indonesia Week End edisi 25/1/2015

Editor : Setyardi Widodo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper
To top