INVESTASI JASA MARGA (III): Adhityawarman: Jasa Marga Tak Pernah Menyerah

Kalau kita lihat pertumbuhan ekonomi daerah setelah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi) yang sekarang ekonomi dan bisnisnya mumpuni, ya Jawa Timur. Investasi kita besar di sana ada Rp7 triliun untuk tiga ruas yang sedang on going yakni SurabayaMojokerto, GempolPasuruan, dan Gempol Pandaan. Ditambah dengan yang sudah ada yakni SurabayaGempol total investasi sekitar Rp11 triliun.
Dimas Novita Sari | 25 Februari 2015 15:22 WIB
Adityawarman - Bisnis/Abdullaj Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - PT Jasa Marga Tbk. menggelontorkan investasi tak kurang dari Rp11 triliun untuk membangun jalan tol di Jawa Timur. Angka investasi itu tercatat yang terbesar kedua setelah proyek di kawasan Jakarta dan sekitarnya. Bagaimana operator jalan tol terbesar di Tanah Air itu melihat potensi Jatim, berikut wawancara Bisnis dengan Direktur Utama Jasa Marga Adithyawarman.

Bisa digambarkan investasi perseroan di Jatim?

Kalau kita lihat pertumbuhan ekonomi daerah setelah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi) yang sekarang ekonomi dan bisnisnya mumpuni, ya Jawa Timur. Investasi kita besar di sana ada Rp7 triliun untuk tiga ruas yang sedang on going yakni Surabaya—Mojokerto, Gempol—Pasuruan, dan Gempol— Pandaan. Ditambah dengan yang sudah ada yakni Surabaya—Gempol total investasi sekitar Rp11 triliun.

Dengan investasi kami di Jatim, relatif jalur jalan tol di Jawa sudah hampir terhubung. Hanya empat ruas yang belum selesai yakni Pemalang—Batang, Batang—Semarang, Solo—Ngawi, Ngawi—Kertosono. Jika empat ruas itu selesai, berarti jalan tol Pulau Jawa tersambung minimal sampai dengan Gempol. Sekarang ini pemerintah mencanangkan empat ruas itu paling lambat selesai awal 2018.

Dengan operasional ruas baru di Jatim, target panjang jalan yang dikelola Jasa Marga?

Target kami 1.000 km pada 2018. Sekarang kami sudah pegang konsesi 790 km, sekitar 70% lebih dari panjang jalan tol nasional. Kalau jalan tol Ngawi—Kertosono panjangnya 180 km, sekarang sudah hampir 800 km ditambah 180 km kan sudah dekat mencapai 1.000 km.

Kami juga sedang ikut yang kecil yakni Pasir Koja—Soreang, kalau digabung jadi 1.000 km. Jadi, Jasa Marga itu bukan ambisius. Kami didirikan untuk dua tugas pokok, yakni pertama memperpanjang jalan tol. Kedua, mengoperasikan karena core busines- nya di situ. Kewajiban Jasa Marga membantu pemerintah. Jadi pandangan kami tidak hanya bisnis tetapi ada misinya juga itu bagian dari pemerintah.

Khusus di Jatim, apakah ruas yang baru melintasi titik ekonomi?

Jadi daerah industrinya ada dua, di Rungkut, Surabaya dan sudah tersambung. Satu lagi yakni di  Gempol, Pasuruan. Titiknya ada di sana, yakni kami punya Gempol—Surabaya. Dan dua lagi akan melintasi kawasan industri. Sebenarnya ada dua yang mendesak yakni Surabaya—Mojokerto karena kegiatan di sana sangat besar. Kalau dilihat dari Kriyan itu jalan nasional sudah padat, jalan nasional macet sekali karena dengan jarak yang tidak begitu jauh butuh tiga jam jarak tempuh.

Hanya saja memang di Surabaya ini masalah tanah agak lama. Pengadaan tanah di Surabaya—Mojokerto ini sudah masuk tahun ke-20. Tetapi Jasa Marga tidak akan pernah menyerah.

Selain itu, kami juga melihat potensi ke Malang. Selain pusat pariwisata di sana juga daerah berkembang. Kami lihat juga Surabaya—Pasuruan adalah bagian dari ruas Transjawa yang akan menyambung ke Banyuwangi. Nanti nyebrang dengan kapal ferry sudah sampai ke Denpasar, Bali. Nantinya, kami ambil semua dari Transjawa, terus ada potensi pengembangan Malang dan Surabaya bagian selatan dan jalan Daendels. Cukup besar investasi kami di sana.

Dukungan pemerintah daerah di Jatim dalam pembebasan lahan?

Kalau dari kepala daerah tingkat satu, sangat luar biasa. Misalnya dengan Soekarwo [Gubernur Jatim] ada rapat, datang semua mulai dari bupati hingga camat. Apalagi Soekarwo sangat luar biasa, dia tahu jalan tol itu untuk apa, untuk pertumbuhan. Saya punya pengalaman langsung dalam pengadaan lahan di Jawa Timur. Dulu jalan tol Waru—Juanda, harganya tinggi sekali. Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) menetapkan Rp300.000 per meter, tetapi mereka minta Rp4 juta per meter. Kalau di  Gempol—Pandaan relatif tidak mahal, tetapi memang ada yang harus dirayu-rayu.

Jadi, tahun ini ruas mana saja yang siap beroperasi?

Kalau dari tiga ruas itu, yang pertama pada Maret 2015 Gempol—Pandaan sepanjang 12 km. Kemudian sisi Surabaya—Gempol yang hilang akibat lumpur Lapindo yakni Kejapanan—Gempol sepanjang 3 km. Jadi yang diresmikan ada 15 km. Kemudian pada Agustus akan buka dari Kriyan sampai Mojokerto kira-kira 18 km. Ruas itu tanahnya sudah 100% dan konstruksi 87% jadi pada Agustus bisa dioperasikan. Selanjutnya pada November yakni Gempol—Pasuruan seksi Gempol—Rembang sepanjang 14 km. Tahun ini, Surabaya kami punya hampir 100 km, ditambah ruas eksisting Gempol—Surabaya.

Kira-kira kontribusi dari Jatim?

Kontribusi diharapkan 15% dari 100 km. Sebanyak 80% pusat kegiatan perusahaan ada di Jabodetabek. Selama ini, Surabaya 9%—10%. Dengan ada tambahan jadi 15%, baru terasa pada tahun depan.

Harapan setelah operasional ini?

Pertumbuhan itu selaras dengan jumlah penduduknya. Kami akan melakukan titik-titik simpul yang pusatnya sudah akan maju, dengan harapan simpul itu bisa menyambung dan menjadi pendorong pertumbuhan ekonominya. Ekonomi tidak bertumpu di Jabodetabek saja.

Pusat-pusat lain seperti Surabaya, Semarang, dan Medan sudah kami lakukan. Dengan begitu melalui jalan tol bisa dorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Sumber : Bisnis Indonesia (25/2/2015)

Tag : bumn, jasa marga
Editor : Stefanus Arief Setiaji

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top