Panganan OLahan Dorong Peluang Usaha Budi Daya Jamur Tiram

Semakin banyaknya permintaan terhadap jamur segar untuk diolah menjadi berbagai macam makanan olahan, membuat bisnis produksi jamur juga ikut terangkat.
Nenden Sekar Arum | 17 Maret 2015 09:58 WIB
Budidaya jamur memiliki prospek cerah. -

Bisnis.com, JAKARTA - Semakin banyaknya permintaan terhadap jamur segar untuk diolah menjadi berbagai macam makanan olahan, membuat bisnis produksi jamur juga ikut terangkat.

Tak heran, banyak orang yang mulai mencoba untuk membudidayakan jamur. Selain perawatannya yang cenderung mudah, modal awal yang diperlukan juga relatif rendah.

Seperti paket budi daya jamur tiram seharga Rp1,2 juta yang ditawarkan oleh CV King Djamur Farm asal Ponorogo Jawa Timur.

Pemilik King Djamur Farm, Muchlis Yuda mengatakan orang yang tertarik bermitra dengan membeli paket tersebut akan mendapatkan pelatihan secara online melalui video tutorial, sekaligus mendapatkan satu botol benih untuk 1.000 jamur.

"Mitra cukup menyiapkan lahan untuk penyemaian benih dengan luas sekitar 2 m x 3 m untuk 1.000 baglog atau media tanam,” katanya.

Kemudian untuk proses penanaman, perawatan dan cara panen semuanya akan dibimbing melalui video. Karena teknis pelaksanaannya cukup sederhana, mitra tidak akan kesulitan untuk menjalankan setiap langkahnya.

Muchlis mengatakan, dari proses penanaman hingga siap panen membutuhkan waktu sekitar 1,5 bulan, dengan masa panen tiap hari selama empat bulan berturut-turut.

Dia menekankan, hal yang paling penting dalam merawat jamur adalah urusan suhu, sehingga diperlukan penyiraman secara rutin tiap harinya agar bisa menjaga suhu pada kisaran 23-25 derajat celsius.

Sementara itu, untuk satu baglog benih jamur bisa menghasilkan sekitar 4 ons jamur tiram, sehingga total masa panen bisa menghasilkan 4.000 ons atau 400 kg.

Adapun, harga jual tiap kilogram jamur tiram sekitar Rp15.000, dengan kata lain dalam sekali masa panen, mitra bisa mendapatkan penghasilan sebesar Rp6 juta.

“Untuk jamur tiram, peluang gagal panen sangat rendah, sekitar 3%-5% dari totalbaglog yang disemai,” katanya.

Setelah panen selesai, mitra bisa kembali membeli bibit jamur dengan harga Rp2.100 per baglog jamur, atau sebesar Rp1.300 jika mitra membuat baglog atau medium tanam sendiri.

Selain paket kemitraan, Muchlis juga menawarkan paket investasi budi daya jamur. Hanya dengan modal Rp31,38 juta, mitra bisa balik modal dalam setahun dan untung mencapai Rp3,5 juta tiap panen.

“Nilai investasi tersebut untuk budidaya 15.000 baglog dengan hasil panen mencapai 4.500 kg. Setiap keuntungan dibagi dengan sistem bagi hasil 60:40, 40% untuk mitra,” katanya.

Selain itu, Muchlis juga akan membantu memasarkan hasil panen mitranya tersebut, melalui promosi kepada pemasok jamur rekanannya.

“Permintaan terhadap jamur segar sangat besar, bahkan di daerah saya saja belum semua permintaan terlayani. Jadi, bisnis budi daya jamur ini masih memiliki prospek yang cerah,” katanya.

Bagi masyarakat yang tertarik dengan paket budi daya jamur yang ditawarkannya, Muchlis mengundang untuk mendatangi desa budi daya jamur terpadu yang dikelolanya di Desa Turi, Kecamatan Jetis, Ponorogo.

Selain jamur, Muchlis juga mengembangkan budi daya cacing dan pembuatan pupuk organik dengan tanah kascing, atau tanah bekas budi daya cacing yang bisa digunakan untuk menanam jamur.

“Semua produk yang kami kembangkan terintegrasi dan bisa mendukung semua lini bisnis,” paparnya.

Tag : peluang usaha
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top