Renyahnya Laba dari Keripik Pisang Aneka Rasa Gowrilas

Keripik pisang merupakan salah satu camilan yang populer di kalangan masyarakat Indonesia. Selain rasanya yang khas, harganya juga sangat ramah di kantong. Dengan pangsa pasar yang luas, bisnis pembuatan keripik pisang terus berputar hingga saat ini.
Nenden Sekar Arum | 02 April 2015 15:59 WIB
Salah satu pemain yang menerapkan branding dan packaging khusus anak muda adalah Ivan Budi dan Susan Irwanta yang menggunakan merek dagang Gowrilas. - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA - Keripik pisang merupakan salah satu camilan yang populer di kalangan masyarakat Indonesia. Selain rasanya yang khas, harganya juga sangat ramah di kantong. Dengan pangsa pasar yang luas, bisnis pembuatan keripik pisang terus berputar hingga saat ini.

Meskipun pemain yang terjun dalam bisnis ini sudah banyak, bahkan di antaranya merupakan pemain lama, tetapi peluang bisnis ini tak pernah jenuh. Terutama bagi pelaku-pelaku usaha yang terus menerapkan inovasi demi menarik minat konsumen.

Awalnya, keripik pisang hanya diolah secara sederhana dengan dua macam rasa, gurih dan manis. Seiring dengan berjalannya waktu, dan terus bergesernya tren di kalangan masyarakat, sekarang banyak keripik pisang yang hadir dengan rasa dan tampilan yang lebih modern.

Para pemain baru dalam bisnis ini banyak menawarkan berbagai keunikan dari produknya, serta diarahkan pada konsumen yang lebih khusus. Misalnya, dengan proses pemasaran yang eksklusif melalui media sosial dengan target pasar anak muda.

Salah satu pemain yang menerapkan branding  dan packaging khusus anak muda adalah Ivan Budi dan Susan Irwanta yang menggunakan merek dagang Gowrilas.

Bisnis tersebut diawali dari keinginan Ivan untuk memulai usaha. Saat itu dia melihat di lingkungan tempat tinggalnya ada produsen keripik pisang yang sangat sederhana, kemudian dia coba untuk membeli keripik jadi dan membungkusnya dengan kemasan-kemasan kecil seharga Rp1.000 dan Rp500.

Saat itu, dia hanya membutuhkan modal sekitar Rp300.000 untuk membeli keripik pisang dan kemasan plastik. “Saat itu saya bungkus satu per satu dan diberi merek Jalapia. Keripik itu kemudian saya masukkan ke warung dan kantin di sekolah-sekolah,” kenang Ivan.

Melihat bisnisnya yang seperti jalan di tempat, Ivan pun kemudian memutar otak supaya penjualannya terus meningkat. Dia pun mulai mencoba untuk mengemas ulang produknya dengan isi dan merek baru.

Pengujung 2014, dia kemudian bertekad untuk memproduksi keripik pisang sendiri, dengan brand dan kemasan yang lebih modern, sehingga dapat menarik minat konsumen terutama kalangan muda.

Bermodalkan sekitar Rp3 juta-Rp4 juta, Ivan dan Susan mulai mengolah keripik pisang dengan resep dan cita rasa yang berbeda. Pasangan tersebut memilah bahan baku pisang premium dengan rasa-rasa yang unik, seperti green tea, milo, taro, oreo, dan kopi.

“Kami sengaja pilih rasa-rasa yang sedang ngetren di kalangan anak muda, sehingga mereka penasaran dan ingin mencoba,” katanya.

Dalam sebulan, permintaan terhadap keripik pisang Gowrilas bisa mencapai 6.000 kemasan. Di mana lebih dari 90% dijual melalui agen dan reseller sedangkan sisanya disebar ke beberapa toko oleh-oleh di Bandung.

Ivan mengaku sengaja tidak menjual produknya secara langsung ke konsumen atau memasukkannya ke berbagai toko offline supaya terkesan eksklusif. Dengan cara tersebut juga dia berharap Gowrilas akan terus dicari konsumen.

“Sekitar 1.000 bungkus dalam sebulan dikirim ke Malaysia, karena kami sudah memiliki reseller di sana, dan respons dari masyarakat di sana juga baik.” katanya.

Dalam waktu dekan, Gowrilas juga akan meningkatkan kapasitas produksinya hinggal lebih dari 10.000 bungkus per bulan. Pasalnya, reseller yang berada di Malaysia sudah mengatakan tingginya peminat cemilan asal Indonesia di Malaysia.

Di samping itu, Ivan juga menargetkan untuk bisa menyasar seluruh daerah di Indonesia, dengan memperluas jaringan reseller dengan kuantitas produk yang lebih banyak, serta pemasaran secara online melalui akun istagram @gowrilas.

Adapun, sebungkus Gowrilas yang berisi 170 gram, dibanderol masing-masing Rp20.000 untuk eceran, dan seharga Rp15.000 untuk reseller. Dengan kata lain, dalam sebulan Ivan dan Susan bisa meraup omzet sekitar Rp90 juta.

“Margin keuntungan yang kami ambil tidak terlalu besar, hanya sekitar 30%, karena harga bahan baku yang digunakan juga lumayan tinggi. Yang penting kuantitas penjualannya juga tinggi,” imbuhnya.

Selain itu, Ivan juga rajin menjadi sponsor dalam berbagai acara atau kegiatan yang dilaksanakan di kampus-kampus. Selain bisa mempromosikan produknya, dia juga bisa dengan mudah menyasar target pasar yang merupakan mahasiswa.

“Beberapa kali kami juga meng-endorse artis untuk mencoba dan merekomendasikan produk Gowrilas,” katanya.

Semakin meningkatnya permintaan terhadap produknya tersebut barang tentu membuat Ivan sumringah. Namun, dia juga mengaku sedikit ketar-ketir terkait pasokan bahan baku pisang nangka yang dia gunakan.

Pria yang berdomisili di Bandung itu mengaku beberapa kali kesulitan untuk mendapatkan bahan baku karena kurangnya persediaan dari petani. Selama ini, dia memasok pisangnya dari petani di kawasan Jawa Barat.

“Pasokan pisangnya semapt susah, karena banyak yang menggunakan. Kami coba cari petani lainnya di luar Jawa Barat, tapi memang masih kami perhitungkan tingkat efisiensinya,” katanya.

Meski demikian, Ivan optimistis bisnisnya masih akan terus tumbuh dengan peluang yang tetap besar. Walaupun pemain baru dalam bisnis ini mulai bermunculan, persaingan yang terjadi malah memacu dirinya untuk terus berinovasi dan meningkatkan kualitas produk.

Tag : peluang usaha
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top