RUMAHTOPI.COM: Belasan Juta Mengalir Setiap Bulan Hanya dari Jualan Topi

Memperluas pasar dalam bisnis aksesori penutup kepala bisa dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya dengan memperluas model dan jenis topi yang dijual.\n
Nenden Sekar Arum | 24 September 2015 04:48 WIB
Ilustrasi - e/commerce

Bisnis.com, JAKARTA - Memperluas pasar dalam bisnis aksesori penutup kepala bisa dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya dengan memperluas model dan jenis topi yang dijual.

Hal itu dilakukan oleh Iqbal Rahmanuel yang membangun rumahtopi.com sebagai toko online yang menjual berbagai macam jenis topi yang tidak mudah didapatkan dipasaran.

Pria yang berdomisili di Surabaya tersebut memulai bisnis penjualan topinya karena kesulitan mencari model topi yang dia butuhkan, baik di toko-toko maupun secara online.

“Awalnya saya iseng mencari topi yang modelnya tidak umum yaitu topi pelukis dan topi komando, ternyata sulit ditemukan meskipun sudah browsing ke berbagai website,” katanya.

Dia pun menemukan banyak orang yang mengalami permasalahan yang sama di berbagai forum internet dan sejak itu dia melihat hal tersebut sebagai peluang bisnis.

Dengan modal awal Rp5 juta, dia membangun website rumahtopi.com serta memasok berbagai macam jenis topi yang tidak mudah ditemukan di pasaran. Sekarang, dalam sebulan, Iqbal bisa menjual sekitar 150-200 topi, dengan omzet sekitar 17 juta-20 juta dan margin keuntungan sekitar 45%.

Rumah Topi menjual sekitar 25 jenis topi dengan lebih dari 100 model yang berbeda, seperti snapback, trucker, newsboy, ushanka, hingga flat cap yang susah ditemukan di Indonesia. Semua topi tersebut didatangkan dari pengrajin di Bandung dan pabrik di China. “Topi-topi itu juga tersedua untuk pria, wanita dan anak-anak,” imbuhnya.

Selain menjual topi secara online melalui website rumahtopi.com, Iqbak juga memanfaatkan media sosial dan strategi search engine optimization dan marketing supaya konsumen yang membutuhkan topi dapat dengan mudah menemukan websitenya. “Kami juga melakukan promo langsung dan berinteraksi dengan konsumen melalui media sosial,” katanya.

Setelah tiga tahun menjalankan bisnis ini, Iqbal mengaku menemui beberapa kendala yang bisa menghambat perkembangan bisnisnya. Salah satunya adalah jauhnya pemasok produk, serta belum adanya tenaga kerja yang bisa mengerjakan topi made by order. Padahal banyak sekali permintaan dengan jumlah besar untuk pemesanan topi customized.

“Kami cukup sering menolak pesanan topi made by order, bahkan pernah menolak pesanan 1.000 topi. Daripada kami menerima tapi tidak sanggup menyelesaikannya, lebih baik kami jujur supaya konsumen tidak kecewa,” katanya.

Untuk itu, dalam waktu dekat dia ingin membuat pusat produksi sendiri di Surabaya, selain untuk menerima pesanan topi customized, juga untuk mengelimasi produk-produk impor yang saat ini masih ditemukan di Rumah Topi.

“Saya kira bisnis pembuatan topi ini masih prospektif karena belum banyak produsen yang fokus menggarap pasar ini,” katanya.

Dia juga berharap, pada masa depan Indonesia bisa menjadi produsen topi berkualitas dan mampu mengekspor produk ke luar negeri, karena banyak pengrajin lokal yang memiliki kreativitas yang tinggi hanya kurang dalam hal manajemen produk.

Tag : peluang usaha
Editor : Bastanul Siregar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top