Andy Chandra: Ingin Digandrungi Malah Ketagihan

Kalau ada alasan biar banyak fans ketika seseorang tiba-tiba nyemplung berolahraga, barangkali Andy Chandra yang punya.
Sri Mas Sari | 03 Oktober 2015 17:45 WIB
Andy Chandra. Butuh extra effort untuk menawarkan produk/produk pasar modal, khususnya reksadana.

Bisnis.com, JAKARTA - Kalau ada alasan ‘biar banyak fans’ ketika seseorang tiba-tiba ‘nyemplung ’ berolahraga, barangkali Andy Chandra yang punya.

Manajer Pengembangan Bisnis PT Aberdeen Asset Management itu ingin terkesan keren ketika pertama kali bergabung ke klub badminton di SMP Hang Kesturi Medan, 20 tahun lalu.

Bukan karena punya hobi sejak kecil, apalagi ngefans dengan atlet bulutangkis kala itu, macam Arby Wiranata, Susi Susanti, atau Alan Budikusuma. Andy, didorong oleh masa pubernya, justru ingin menghimpun fans, terutama dari kalangan remaja putri.  "Dulu kalau masuk klub olahraga, rasanya lebih gampang terkenal," ungkapnya sambil tertawa.

Malang, tak ada cewek yang kecantol. Dia kalah ganteng dan tak lebih jago bertarung di lapangan dari teman satu klubnya. Tapi paling tidak, kata dia, taraf hidupnya naik dari sekadar kutu buku menjadi cool.

Motivasi ala anak baru gede itu perlahan bertransformasi menjadi hobi yang awet sampai kini. Bahkan, tak sekadar untuk membugarkan tubuh. Badminton baginya adalah wadah untuk tetap merawat kedekatan dengan kawan-kawan lamanya.

Lulusan Jurusan Komputerisasi Akuntansi Universitas Bina Nusantara (Binus) itu dua kali sepekan tanding dengan dosen, teman sejurusan, dan karyawan almamaternya.

Selasa dan Jumat malam selepas jam kerja adalah waktu yang dia tunggu untuk meredakan penat. Membaur di pinggir lapangan selepas tanding, dia bersama teman, bekas dosen, dan karyawan Binus, bisa bertukar kabar dan saling berkelakar.  "Orangnya asyik-asyik, lucu-lucu. Stres saya jadi hilang," katanya.

Maklum, mengemban tugas sebagai manajer pengembangan bisnis, dia harus pintar menjaga relasi dengan distributor. Tidak mudah baginya menjual produk reksadana di tengah kadar pengetahuan masyarakat Indonesia tentang pasar modal yang rendah.

"Butuh extra effort untuk menawarkan produk-produk pasar modal, khususnya reksadana," ungkap Andy yang bergabung di Aberdeen—dulu NISP Asset Management sebelum diakuisisi Aberdeen pada September 2014—sejak Januari 2011.

Sudah menguras isi kepala, waktunya kerap tersita untuk menghadiri meeting sampai malam dengan investor, bank, perusahaan asuransi, atau e-platform.

Sejak badminton menjadi hobinya, Andy punya harapan agar pembinaan di kalangan anak muda diperkuat, mulai dari tingkat sekolah, universitas, hingga Pelatnas. Dia melihat olahraga badminton di kalangan anak muda tak semoncer dua dasawarsa lalu.

Tag : eksekutif
Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top