Natasha Dematra: Raih Prestasi Dengan Rendah Hati

Di usianya yang tergolong muda, Natasha Dematra telah berhasil mengantongi lebih dari 100 penghargaan untuk prestasinya mulai dari musik hingga film. Uniknya, segudang prestasi tidak membuatnya berpuas hati.
Tisyrin Naufalty Tsani | 24 Januari 2016 18:55 WIB
Natasha Dematra.

Bisnis.com, JAKARTA - Di usianya yang tergolong muda, Natasha Dematra telah berhasil mengantongi lebih dari 100 penghargaan untuk prestasinya mulai dari musik hingga film. Uniknya, segudang prestasi tidak membuatnya berpuas hati. Gadis kelahiran Jakarta, 9 April ini merasa masih belum berbuat apapun. Dia masih bermimpi besar dan terus mencoba hal-hal baru.

Putri dari sutradara dan penulis novel Damien Dematra ini menapakkan karier di dunia film saat sang ayah memberikan tanggung jawab untuk menyutradarai film berjudul Mama, Aku Harus Pergi.

Di usianya yang masih sangat belia, yakni 11 tahun, Natasha menjadi sutradara film panjang perempuan termuda. Atas prestasinya itu, dia mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia, dan film yang disutradarainya mendapatkan penghargaan dari Royal World Records.

Menjadi sutradara di usia muda ternyata tidak mendatangkan kesulitan baginya. Semuanya itu karena Natasha harus mengarahkan para pemain yang kebanyakan adalah anak-anak seusianya. “Untung semua kru juga friendly,” katanya.

Pengalaman menyenangkan saat membuat film perdananya ini ternyata tidak terjadi lagi di film kedua yakni Tears of Ghost. Dia menjelaskan saat membuat film kedua, dia justru merasa disepelekan di lokasi syuting. “Ada beberapa orang yang kalau aku suruh males-malesan, harus aku gertak dulu,” ujarnya.

Tantangan mengarahkan kru film di lapangan ini disikapinya dengan ketegasan. Pada produksi film tersebut, dia merasakan rasa penat dan capek yang teramat sangat atas perannya sebagai aktis sekaligus sutradara.

Dia mengenang saat proses pengambilan gambar, seringkali kru tidak segera melakukan apa yang dia arahkan, tetapi justru sibuk dengan aktivitas masing-masing di luar pekerjaan. Namun, semua tantangan itu tidak membuatnya lantas mundur teratur.

Manajemen tegas yang dia terapkan dirasakannya cukup efektif. Dia sempat berteriak dan mengancam akan pulang, dan tidak meneruskan proses syuting demi mendapatkan perhatian para kru.

Akhirnya, dengan segala kerja keras, film tersebut selesai diproduksi. Film Tears of Ghost yang disutradarinya ternyata mendapatkan penghargaan kembali. Dari situlah, Natasha mulai mendapatkan apresiasi dari kru dan khalayak.

Ejekan dan pandangan meremehkan dari orang-orang yang menganggapnya hanya sebagai anak kemarin sore, dijadikannya cambuk tantangan untuk membuktikan semua itu tidak benar. Pengagum berat aktis Angelina Jolie pernah dianggap tak mengerti soal editing film. Cemoohan tersebut dijadikannya sebagai penyemangat untuk menguasai teknik penyuntingan film. Kembali lagi, kerja kerasnya diganjar dengan penghargaan sebagai editor terbaik dari International Independent Film Awards.


//Dukungan Keluarga//


Keberhasilan Natasha di dunia layar lebar memang tidak pernah lepas dari dukungan ayahnya, Damien Dematra. Khalayak mengenal Damien sebagai novelis, penulis skenario, sutradara, produser, fotografer internasional, dan pelukis. Saat ini, tercatat 81 novel baik dalam bahasa Indonesia maupun Inggris, 62 skenario film dan serial televisi, dan memproduksi 32 film dalam berbagai genre, telah dihasilkannya.

Sederet prestasi yang diterima sang ayah ternyata membuat Natasha terpacu untuk terus berprestasi. Prinsip yang ditularkan Damien kepada putrinya ini adalah cara belajar paling mudah adalah dengan mempraktikkan secara langsung. Hal ini dipengangnya erat-erat dan terus dijalankan hingga saat ini. Dari mulai menjadi pemain di sejumlah film garapan ayahnya, hingga membuat filmnya sendiri, akhirnya pengetahuan Natasha tentang dunia layar lebar baik di depan maupun di belakang layar semakin bertambah.

Tidak puas dengan menjajaki dunia film, pada 2014, Natasha mulai terjun di dunia tarik suara. Dewi Fortuna sepertinya enggan beranjak darinya. Kembali Natasha mendapatkan penghargaan di aktivitas barunya ini. Segudang aktivitas pada akhirnya membuatnya harus memutuskan untuk mengikuti home schooling saat duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Pilihan ini diambilnya dengan tujuan untuk mudah membagi waktu.

Saat ditanyakan hal apa saja yang masih diraihnya, dengan sangat lancar Natasha mengungkapkan impinannya untuk menulis buku. Menurutnya, buku adalah jendela dunia yang mampu mengubah dunia. Saat ini, dia tengah merampungkan karya perdananya. Sayangnya, dia belum mau menceritakan buku tentang apa yang saat ini sedang dirampungkan. Di sela-sela kesibukannya menulis, dia juga belajar fotografi agar dapat lebih tepat memilih angle saat membuat film.

Natasha yang memutuskan untuk homeschooling sejak masuk usia SMP agar lebih mudah membagi waktu ini mengungkapkan, masih menyempatkan diri untuk melakukan nail art untuk mengisi kebosanan. 
Selain itu, dia juga bercita-cita membentuk yayasan untuk anak-anak. Yayasan ini masih berkaitan dengan film. Dia mencontohkan berapa persen pendapatan yang dihasilkan dari film akan dialokasikan ke yayasan, dan disalurkan untuk membantu anak-anak yang terkena bencana. Dara yang sudah mengunjungi puluhan negara di dunia ini juga berencana melanjutkan pendidikan di S1 bidang Teologi, dan S2 bidang performing art atau filsafat.

Saat ditanya apa kunci suksesnya di usia muda, dia malah merasa belum berbuat apa-apa. “Saya masih ingin meraih dan melakukan banyak hal. Yang penting adalah terus bangun dan mewujudkan mimpi itu. Kunci yang lain adalah jangan takut mengikuti kata hati. Orang tua juga harus memberikan kesempatan kepada anaknya untuk berkembang, dan jangan membatasi apa yang ingin dilakukan anak dalam hal mengasah minat dan bakat,” tutur penggemar susu ini.

BIODATA:

Nama: Natasha Johana Dematra
Tempat/ Tgl. lahir: Jakarta, 9 April 1998.
Karier: sutradara, aktris, produser film, editor film, penyanyi, pencipta lagu, duta perdamaian-HAM-toleransi, duta kreativitas, dan world traveller.

Penghargaan a.l.:

-    Sutradara Perempuan Termuda Di Dunia dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).
-    Aktor Muda Dibawah Umur 18 Tahun Terbaik dari Global Independent Film Awards.
-    Sutradara Muda Terbaik dari Global Independent Film Awards.
-    Aktris Terbaik dari Yosemite International Film Festival untuk film From Seoul To Jakarta.
-    Medali Emas Pemeran Utama Wanita Terbaik dalam film Dream Obama dari International Independent Film Awards (IIFA).
-    Sineas Muda Terbaik Award Of Recognition untuk film Tears Of Ghost dari IndieFEST Film Awards.
-    Nominasi Film Terbaik untuk film Mama, Aku Harus Pergi dari Miami Independent Film Festival.
  


Sumber : Bisnis Indonesia, Minggu (24/1/2016)

Tag : film, prestasi, SOSOK
Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top