Kariyanto Hardjosoemarto: Berkelindan antara Mobil dan Batik

Produk otomotif tidak melulu soal kecepatan, mesin, atau kemampuan berkendara melintasi segala medan. Bagi Kariyanto Hardjosoemarto, mobil tidak ubahnya selembar kain batik yang menonjolkan keindahan karya seni.
Azizah Nur Alfi | 06 Maret 2016 00:25 WIB
Kariyanto Hardjosoemarto, Deputy Director Sales Operation Mercedes-Benz Indonesia. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Produk otomotif tidak melulu soal kecepatan, mesin, atau kemampuan berkendara melintasi segala medan. Bagi Kariyanto Hardjosoemarto, mobil tidak ubahnya selembar kain batik yang menonjolkan keindahan karya seni.

Sentuhan seni ini yang kemudian mampu mendongkrak nilai jual dengan jumlah nominal yang terbilang cukup fantastis. “Keduanya merupakan piece of art. Baik mobil dan batik, sama-sama seni,” tutur Kerry, sapaan akrab Kariyanto.

Berangkat dari Telaga Sarangan--sebuah kampung kecil yang terletak di Magetan, Jawa Timur--Kerry terbukti mampu menaklukan kerasnya Jakarta. Pengalaman selama 16 tahun di bidang otomotif membuatnya dipercaya sebagai Deputy Director Sales Operation Mercedes-Benz Indonesia sejak 1 Februari 2015. Tidak mengherankan jika dia kerap diminta untuk berbagi pengalaman kepada para siswa di almamaternya, Sekolah Menengah Atas Taruna Nusantara.

Kematangan dalam bidang otomotif tidak dapat dilepaskan dari pengalamannya malang melintang di beberapa perusahaan otomotif ternama. Sebut saja, PT Toyota Astra Motor sebagai karier awalnya, berlanjut ke PT General Motors Indonesia, PT Ford Motor Indonesia, dan ikut merintis PT Piaggio di Indonesia.

Hingga akhirnya, pada 2012 sosok yang satu ini melabuhkan kariernya di Mercedes-Benz Indonesia sebagai Deputy Director Business and Network Development. “Saya pikir kalau bicara merek otomotif, top premiumnya adalah Mercedes-Benz. Semua ini kesempatan yang sangat baik,” katanya.

Budaya perusahaan yang beragam mulai dari Jepang, Jerman, Amerika, dan Italia berpengaruh membentuk gaya kepemimpinannya. Salah satu yang menjadi ciri khas kepemimpinannya adalah memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi anak buah untuk menggali ide, dan memaparkannya di depan jajaran manjer lini atas.

Melalui cara tersebut, Kerry percaya telah menciptakan peluang yang sama kepada seluruh anak buah untuk berkompetisi secara sehat untuk mencapai kemajuan. Cara ini dipelajarinya saat bergabung dengan PT Toyota Astra Motor. “Saya merasa bangga ketika tampil di depan CEO. Itu membuat saya lebih percaya diri dan lebih baik,” katanya.

Selain membuka ruang yang luas kepada anak buah untuk berprestasi, alumni jurusan Manajemen Universitas Pelita Harapan ini, dikenal sebagai pemimpin yang memegang teguh prinsip menjaga hubungan baik antarsesama, dan menjaga komunikasi.

Kedua prinsip ini diterapkan kepada anak buah, konsumen, dan mitra bisnis. Dia menyakini cara ini tidak hanya menjadi solusi yang tepat jika timbul masalah, tetapi juga dapat digunakan untuk mempertahankan predikat Mercedes-Benz sebagai market leader di segmen premium Indonesia.

“Komunikasi penting digunakan untuk mendekatkan produk dengan konsumen melalui berbagai chanel. Baik konvensional melalui iklan, kegiatan, hingga komunitas. Apalagi untuk menyasar segmen kaum muda, pola komunikasinya sudah berubah,” katanya.

KOLEKTOR BATIK KLASIK

Di tengah kesibukannya, Kerry ternyata memiliki hobi yang sangat dekat dengan kebudayaan leluhur. Lembaran kain batik klasik gaya Yogyakarta dan Surakarta selalu menarik perhatiannya. Saat ini, dia menyimpan dengan rapi sedikitnya 25 lembar kain batik klasik di kediamannya. Lembaran kain ini merupakan hasil perburuan ke berbagai pemeran dan sentra penjualan batik di daerah.

Dalam 10 tahun sudah dia mengkoleksi batik. Kecintaannya tidak hanya berhenti sebagai kolektor tetapi juga mengenakan baju berbahan batik di setiap kesempatan. Menurutnya, selain merasa nyaman menggunakan batik, dengan kain tradisional ini dia merasa lebih mudah dikenal dan diingat para mitra.

Meski terhitung hobi, dia mengaku tidak menyiapkan anggaran dan waktu khusus untuk memburu batik. “Kalau memang tertarik, ya harus mengeluarkan lebih untuk satu bulan itu,” katanya sembari tertawa.

Menurut Kerry, batik klasik khususnya gaya Yogyakarta dan Surakarta mencerminkan keagungan sebuah karya seni. Hal ini terlihat dari motif dan perpaduan warna hitam dan cokelat yang justru lebih elegan dan tidak lekang oleh zaman.

Keaslian karya ini dilihat dari proses pengerjaan secara manual dengan menggunakan tangan terampil manusia. Hasilnya, sangat sulit menemukan selembar batik tulis dengan rupa yang sama persis meskipun bermotif sama.

Lelaki kelahiran 19 Juli 1977 ini, mengaku batik memiliki korelasi dengan otomotif. Dia menilai batik klasik tidak ubahnya dengan mobil premium yang diproduksi tidak secara massal. Berbeda dengan batik kontemporer yang mudah dijumpai karena nyaris sama dengan yang lain. Fenomena ini sama dengan mobil yang diproduksi massal.

Dalam pertarungan di dunia otomotif, desain kendaraan menjadi hal yang penting. Apalagi jika diproduksi dengan desain customize yang menunjukan craftmanship dan mengedepankan sisi estetika dari sebuah kendaraan. “Dalam batik, autentisitasnya sulit untuk ditiru. Kalau [batik] kontemporer banyak,” katanya. ()

Nama : Kariyanto Hardjosoemarto
Tanggal Lahir : 19 Juli 1977

Pendidikan :
• Lulusan Manajemen Universitas Pelita Harapan (1995-1999)
• SMA Taruna Nusantara (1992-1995)

Karier :
• PT Mercedes-Benz Indonesia (2012-sekarang)
• PT Piaggio Indonesia (2011-2012)
• PT Ford Motor Indonesia (2005-2011)
• PT General Motors Indonesia (2003-2005)
• PT Toyota Astra Motor (2000-2003)

Sumber : Bisnis Indonesia, Minggu (6/3/2016)

Tag : mobil, batik, mercedes benz
Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top