Sir Martin Sorrel, CEO Bergaji Terbesar se-Inggris Raya

Carilah pekerjaan yang Anda gemari dan balaslah sesegera mungkin orang yang mengirim pesan ke Anda, karena mungkin itu adalah celah bisnis bagi Anda...
Yustinus Andri DP | 21 Maret 2016 12:30 WIB
Sir Martin Sorrel adalah Chief Executive Officer (CEO) dari WPP. - reuters

Bisnis.com, LONDON - “Carilah pekerjaan yang Anda gemari dan balaslah sesegera mungkin orang yang mengirim pesan ke Anda, karena mungkin itu adalah celah bisnis bagi Anda...

Sir Martin Sorrel adalah Chief Executive Officer (CEO) dari WPP, perusahaan global berbasis di Dublin, Republik Irlandia yang bergerak di bidang periklanan dan public relations.

Dia berulangkali menyebutkan kutipan di atas ketika ditanyai mengenai rahasia kesuksesannya.

Kalimat tersebut rupanya bukan omong kosong belaka. Sejumlah kliennya di WPP menyebutkan Sorrel paling cepat dalam merespon pesan pertanyaan dari mereka.

Sorrel mengaku kebiasaan itu tak lepas dari kecintaan pada pekerjaan yang dilakoninya. Hasil dari kerja keras itu membuat pria kelahiran London 14 Februari 1945 ini, berhasil menerima upah tahunan sebesar 63 miliar poundsterling pada 2015 dari WPP.

Fakta tersebut membuat Sorrel menjadi salah satu CEO bergaji terbesar sepanjang sejarah di Birtania Raya. Sejumlah media di Inggris memperkirakan, Sorrel telah berhasil mengumpulkan 150 miliar pounsterling dari gaji mulai dari 2010 hingga saat ini. Nominal ini sempat dibantah oleh WPP.

WPP masih enggan merilis angka pasti gaji Sorrel sejak 2010 hingga saat ini karena berpotensi memicu kritik terhadap gaji CEO di Inggris. Di sisi lain, kebijakan itu juga akan menuai protes lanjutan dari para pemegang saham WPP.

Sebelumnya, WPP telah memiliki rencana kerja menerapkan kebijakan Leap (the leadership acquisition plan) pada 2010. Kebijakan inilah yang membuat Sorrel mampu memperoleh total gaji 63 miliar poundsterling.

Mengacu skema Leap, penghitungan bonus untuk CEO atas dasar kinerja WPP selama 5 tahun terakhir. WPP sendiri mencatatkan kinerja cukup fenomenal selama setengah dekade terakhir, dengan meraih kenaikan harga saham hingga 98%. Dalam kurun waktu yang sama, perusahaan ini juga meraih pertumbuhan nilai pasar hingga 1,93 triliun poundsterling.

Namun dalam rapat pemegang saham 2012, sebanyak 60% peserta pertemuan memprotes skema ini karena dinilai menyerap dana perusahaan terlalu besar. Akhirnya pemegang saham sepakat mengganti Leap dengan skema kinerja saham eksekutif. Skema ini membuat perusahaan tidak akan membayar lebih dari 20 miliar poundsterling pada Sorrel, dan akan mulai berlaku 2018.

Keputusan itu bukannya tanpa protes dari Sorrel. Dalam sebuah artikel di Financial Times, dia menuliskan pembelaannya. Menurut Sorrel, dia menjalankan perusahaan layaknya wirausahawan sejati.

“Saya yang mewujudkan uang [keuntungan] atas perusahaan, dan saya mungkin lebih berharga daripada uang itu.”

Terinspirasi Ayah

Menurut Sorrel, keberhasilannya tak lepas dari inspirasi ayahnya yang merupakan seorang peritel besar pada era 1960-an. Sorrel mengaku telah membaca koran Financial Times sejak usia 13 tahun. Dia beralasan bacaan dari koran itu akan memperkaya wawasannya ketika diajak diskusi oleh sang ayah.

“Saat saya berusia 14 tahun, dia bertanya apa yang akan saya lakukan ketika besar nanti. Saya pun menjawab, ingin menjadi pebisnis seperti ayah,” katanya.

Jawaban itu langsung ditanggapi dengan mengirim Sorrel muda ke Harvard Bussines School. Pesan sang ayah dijadikannya target pribadi. Alhasil, dia memperoleh gelar MBA dari Harvard.

Ketika lulus, Sorrel langsung memasuki dunia bisnis. Pada 1975, dia bergabung dengan perusahaan periklanan Saatchi-Satchi. Di perusahaan ini dia berhasil meraih sejumlah prestasi, dan kerap bersanding bersama Maurice dan Charles yang merupakan pemilik perusahaan.

Pengalamannya di Saatchi-Saatchi membuatnya ingin mendirikan perusahaan periklanan baru.

Pada 1985, Sorrel meminjam dana 250.000 poundsterling untuk membeli 29,9% saham di perusahaan pembuat keranjang belanja yang bernama WPP plc, (Wire and Plastic Products). Dia bekerjasama dengan Preston Rabl yang juga berencana membeli 12,5% saham WPP. Kerjasama ini membuat keduanya berhak memperoleh mayoritas saham perusahaan.

Perlahan, dia mengubah perusahaan manufaktur itu menjadi perusahaan yang total bergerak di bisnis periklanan dan public relations. WPP di bawah Sorrel bahkan berhasil menorehkan sejumlah prestasi dengan mengakuisisi sejumlah pesaing.

Agen iklan seperti JWT dan Ogilvy & Mather serta perusahaan public relations seperti Finsbury dan Hill & Knowlton berhasil diakuisisinya. Hasilnya, WPP saat ini menjadi salah satu perusahaan periklanan dan public relations legendaris sekaligus terbesar di dunia. Tak hanya itu, Sorrel berencana melebarkan sayap usaha WPP ke sektor keuangan dan perbankan.

Pengetahuan yang sangat luas di bidang ekonomi, bisnis, periklanan dan media massa, membuat pria berusia 71 tahun itu kerap diundang menjadi pembicara dan narasumber terkait kondisi ekonomi terbaru.

Baru-baru ini, dia memberikan masukan sekaligus komentar terkait referendum Inggris untuk keluar dari Uni Eropa (British Exit/Brexit). Dia berujar, ekonomi Inggris akan hancur apabila Brexit terlaksana. Pendapatnya ini pun diikuti oleh sejumlah pengusaha Inggris lainnya, yang akhirnya bersuara untuk menolak terlaksananya Brexit. (Bloomberg/Reuters)

Sumber : Bisnis Indonesia, Senin (21/3/2016)

Tag : ceo, Sir Martin Sorrel
Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top