TIPS PEMASARAN: Promosi Itu Investasi, Tidak Rugikan Pebisnis

Promosi adalah sebuah investasi, maka langkah yang lebih penting dilakukan adalah dengan melakukan evaluasi dengan melakukan test-test dan pengukuran. Hikmahnya adalah promosi tidak akan membuat pebisnis rugi.
Martin Sihombing | 15 Februari 2017 12:28 WIB
Suasana pameran promosi pariwisata Ferien Messe di Wina, Austria. - KBRI/PTRI Wina

Bisnis.com, JAKARTA - Promosi, dalam satu badan usaha, adalah urat nadi perjalanan hidup usaha itu. Setidaknya, promosi membantu perusahaan untuk meraup untung lebih banyak lagi, jika dilakukan secara benar. Namun, promosi kerap dianggap biaya sehingga tidak mampu memberikan hasil yang optimal. Pertanyaanya, promosi biaya atau investasi?

Dua pengamat pemasaran dan dosen  I Made Wirya Saputra dan  Gde Semadi Putra mengakui hal itu di Jakarta.

Made mengatakan  apa akibatnya kalau anggaran promosi dikurangi ?  "Ya, perusahaan akan semakin lemah untuk berpromosi atau membuat program-program komunikasi kepada pelanggan juga akan berkurang, dan akhirnya penjualan pun akan terus mengalami penurunan."

"Mereka lupa kalau anggaran promosi tersebut adalah investasi."  Kalau dilihat lebih mendalam, fungsi promosi itu ada bermacam-macam. Bila produk tersebut  produk baru,  fungsi promosi lebih pada pengenalan produk atau bersifat mendidik konsumen. Saat penjualan produk sudah meningkat,  fungsi promosi  mengingatkan. Di saat produk sudah matang,  promosi berfungsi untuk mempertahankan citra produk atau perusahaan.

"Ujung-ujungnya adalah penjualan juga. Mengingatkan konsumen untuk tetap membeli produk Anda, citra meningkat akhirnya berimbas pada penjualan," tuturnya, seperti juga ditulis dalam blog pribadinya.

Menurut dia, jauh lebih penting kalau Anda melakukan pengukuran-pengukuran tentang efektivitas promosi yang dilakukan daripada hanya melakukan tindakan pemotongananggaran. Misalnya, Anda mengeluarkan biaya promosi Rp 400 juta,  Anda akan memperoleh hasil Rp 4 Milyar. Namun, jika biaya promosi dinaikkan, misalnya menjadi Rp 600 juta, tetapi hasil pendapatan yang diperoleh tidak bertambah, maka program promosi tersebut harus dievaluasi.

"Banyak yang berpendapat kalau promosi atau iklan adalah biaya. Jika dianggap sebagai biaya,  anggaran tersebut akan mudah untuk dikurangi," tuturnya. Namun, jika Anda berpikir sebaliknya,  promosi adalah  investasi,  langkah yang lebih penting dilakukan adalah  melakukan evaluasi dengan melakukan test-test dan pengukuran.

Menurut dia, justru di saat-saat krisis anggaran promosi seharusnya dinaikkan. Jika orang lain tidak bisa melakukan kegiatan promosi karena anggaran dikurangi, maka Anda punya kesempatan lebih banyak untuk mengkomunikasikan produk Anda karena anggaran Anda meningkat. Anda akan memperoleh kesempatan yang lebih baik dari pesaing Anda untuk melakukan komunikasi kepada pelanggan.

PROMOSI TIDAK MERUGIKAN

Sementara itu, Gde Semadi Putra --seperti ditulis di http://semadiputra.com//--  menuturkan promosi tidak akan membuat pebisnis rugi. Promosi adalah investasi yang  membuat produk/jasa/brand bisnis  semakin dikenal di masyarakat. Pembuat  pebisnis rugi adalah ketika tidak terjadi penjualan terhadap produk /jasa. "Promosi bukan biaya tapi investasi,' ujar  Gde Semadi Putra

Apapun cara penjualannya tetap diperlukan promosi terlebih dahulu. Bahkan perusahaan dengan produk minuman aqua pun tetap beriklan, kenapa? Supaya brand awareness konsumen mereka tetap melekat. Bahkan Honda pun masih tetap beriklan, kenapa? Supaya brand awareness konsumen engga hilang. "Karena hal yang pasti dalam bisnis hanyalah perubahan," ungkapnya.

Gde mengatakan generasi bertumbuh, yang dulunya remaja menjadi, dewasa lalu menjadi orang tua dan benar-benar tua, jadi pemikiran sebagai konsumen produk pun bertumbuh. Sebelumnya menjadi konsumen yang membuat keputusan berdasarkan ingin/tidak ingin menjadi perlu/tidk perlu, dua pertimbangan sangat berbeda outcomenya.

Apalagi jika produk atau jasa kita tergolong baru ataupun brand kita tergolong baru, menurut dia, tentu perlu promosi yang lebih inovatif, khususnya untuk perusahaan baru. Pada setiap zaman pasti ada perusahaan besar, menengah dan kecil. Si kecil bisa jadi besar, yang besar bisa jadi kecil lagi, tergantung kemampuan pengelolanya dalam mengembangkan atau mempertahankan perusahaanya.

Promosi seinovatif apapun yang diterapkan pasti memerlukan biaya. Kadang promosi dengan biaya tergolong murah misal dengan mengajak semua pegawai menyebar brosur, murah? "Ya! Karena biaya yang dikeluarin cuman cetak brosur + gaji pegawai. Contoh kedua sebar email massal, murah? Ya! Cuman perlu komputer, internet dan email gratiss tisss."

Promosi mahal, contohnya, mengundang artis ibukota untuk menyanyi di event launching produk. Pasang iklan di media elektronik (televisi) nasional, mahal? "Ya! Tapi semua tentu ada benchmarknya, perusahaan startup biasanya perlu persentase budget promosi yang lebih tinggi dibanding perusahaan yang sudah berjalan. :Penentuan mahal atau murah di atas berdasarkan nominal rupiah yang dikeluarkan."

Sebenarnya, kata dia, mahal atau murahnya promosi yang dilakukan sebuah perusahaan tergantung dari penjualan dan keuntungan yang didapat. Ada perusahaan dengan biaya promosi Rp100 miliar dengan omset Rp10 trilliun, dengan keuntungan Rp1,5 trilliun. Ada pula perusahaan dengan budget promosi sebesar Rp10 juta, dengan omset Rp100juta dengan keuntungan Rp30 juta. "Mana lebih mahal? Silahkan anda cari tahu jawabannya," ujarnya.

"Mahal dan murah sangatlah relatif dalam bisnis karena promosi menurut saya bukanlah biaya melainkan investasi. Well, dalam laporan laba rugi secara akunting, ini tidak akan pernah terjadi karena laporan akunting sudah standar internasional seperti itu." Kenapa investasi? "Ya karena budget yang dikeluarkan pebisnis dalam promosi ini tidak semata-mata hangus dan lenyap begitu saja."

PASTI ADA RESPON

Dalam setiap promosi terlepas dari berhasil atau tidaknya, pasti ada sejumlah audiens yang merespons. Mereka merespons dengan berbagai cara, contoh riilnya, seorang anak orang kaya (cuman contoh) berjalan-jalan ke mall bersama temannya, kebetulan di mall tersebut ada pameran properti, ada SPG  yang cuman mau buang-buang brosur (semua orang dikasi brosur, tanpa melihat kemampuan beli, semuanya disebarin). Singkat cerita, sampailah anak ini di rumah, dan dilihatlah brosur properti itu oleh orang tuanya yang memang sedang kelebihan likuiditas dan ingin berinvestasi di property. "Keesokan harinya terjadi deal jual beli properti," ceritanya.

"Ini adalah cerita sebenarnya yang saya alami sendiri. Hikmahnya adalah, promosi tidak akan membuat pebisnis rugi," kata Gde.

Tag : promosi, pemasaran
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top