DESAINER WEBSITE: Kreativitas Jadi Amunisi Utama

Ambisi Irene Sofieanita untuk menjadi seorang desainer website dimulai dengan bergabungnya dia ke perusahaan teknologi informasi. Kala itu, perempuan lulusan Universitas Bina Nusantara ini sudah menjalin kemitraan dengan sejumlah perusahaan besar, meski statusnya masih sebagai karyawan perusahaan swasta
Amanda Kusumawardhani | 26 November 2017 13:16 WIB
Kreativitas jadi tuntutan utama. - .

Bisnis.com, JAKARTA- Ambisi Irene Sofieanita untuk menjadi seorang desainer website dimulai dengan bergabungnya dia ke perusahaan teknologi informasi. Kala itu, perempuan lulusan Universitas Bina Nusantara ini sudah menjalin kemitraan dengan sejumlah perusahaan besar, meski statusnya masih sebagai karyawan perusahaan swasta.

Bekerja sebagai seorang karyawan diakuinya memang bukan hasratnya, tetapi dia menilai pengalamannya di perusahaan tersebut sangat bermanfaat untuk membangun portofolionya sebagai desainer website kelak.

“Saat bekerja di perusahaan dulu, banyak klien dari perusahaan besar yang menyatakan ketertarikannya dengan desain yang saya buat. Lalu saya membuat penawaran kecil-kecilan kepada teman-teman terdekat terkait dengan proyek pembuatan website dan sistem teknologi informasi sejak 2013,” katanya.

Pelan tapi pasti, Irene akhirnya memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya dan mulai merintis usahanya di bidang konsultan teknologi informasi. Perjalanannya dimulai pada 2015 ketika dia mendirikan perusahaan berbentuk CV dengan nama Tng Desain.

Merintis perusahaan teknologi informasi pada saat itu diakuinya memang tidak mudah. Strategi awal yang membuat perusahaannya tetap eksis hingga saat ini adalah tidak takut untuk mencoba tantangan dan membuka diri untuk bekerjasama dengan pihak lain.

Selama dua tahun, Irene menyebutkan Tng Desain masih melakukan pola kerja sama dengan pihak lain dalam mengerjakan proyek dari klien. Tapi, sejak awal tahun ini, kinerja Tng Desain memiliki performa positif yang ditunjukkan dengan jumlah klien yang ditangani hingga 8 perusahaan.

“Sejak berdiri, Tng Desain setidaknya sudah menangani 20 klien. Tapi mulai awal tahun ini, bisnis kita maju pesat. Dorongan utamanya adalah peluncuran program baru kami yakni pembuatan website untuk online shop per Oktober ini. Rata-rata omzet pada tahun ini bahkan mencapai 100 juta,” tuturnya.

Dia merinci paket teranyar itu bahkan dibanderol hanya Rp750.000 dengan benefit free update system hingga 1 tahun. Paket terbaru tersebut melengkapi jasa Tng Desain lainnya yakni paket custom.

Adapun, paket custom tersebut mencakup profil perusahaan hingga pembuatan sistem manajemen internal perusahaan. Berbeda dengan pembuatan website online shop yang bisa diselesaikan dalam jangka waktu 3-5 hari, sedangkan paket custom bisa dikerjakan hingga 1,5 tahun lamanya.

Tak hanya itu, harga yang dipatok untuk paket custom ini tergolong lebih mahal dibandingkan paket website online shop. Harga termurah dibanderol mulai Rp100 juta-Rp300 juta yang bergantung pada tingkat kesulitan dan lama waktu pengerjaannya.

Pembuatan website untuk online shop diakuinya merupakan terobosan Tng Desain untuk merambah pasar online shop yang saat ini tengah menjamur di Indonesia. Irene mengemukakan Indonesia tengah mengalami transformasi ke era digital.

“Sebagai perusahaan, situasi ini adalah sebuah peluang yang harus digali. Salah satu alasan kami mengeluarkan produk website untuk online shop  adalah untuk meningkatkan skala bisnis dan mendongkrak jumlah klien,” tambahnya.

Tahun depan, dia dan timnya yang berjumlah 6 orang ini sedang merancang produk terbaru yakni sistem online booking untuk restoran dan sistem website untuk bloggerOnline booking restoran ini dijelaskannya merupakan peluang yang harus digali sejalan dengan tingginya minat masyarakat mengakses Go-Food, Zomato, dan aplikasi kuliner lainnya.

“Beli makanan tidak perlu langsung ke lokasinya, melainkan bisa dibeli melalui aplikasi. Hal yang sama juga bisa dilakukan bagi konsumen yang tidak ingin menunggu lama makanan saat di restoran. Untuk itu, sistem online booking restoran ini adalah peluang bisnis,” jelasnya.

Bermula dari Kegelisahan

Layaknya perusahaan rintisan di Indonesia yang berawal dari sebuah kegelisahan, SimpliDots juga berangkat dari persoalan rumitnya mengelola bisnis yang bergerak di sektor distribusi.

Jowan Kosasih bersama dua rekannya yakni Hendy Sumanto dan Ginanjar Nugroho memutuskan untuk mendirikan perusahaan pada 2017 yang mampu menyelesaikan masalah yang dialami perusahaan di Indonesia, khususnya di Medan.

“Alasannya sederhana karena bisnis keluarga saya juga bergerak di sektor distribusi. Mulainya dari situ dan kami mengembangkan produk berdasarkan masalah yang pernah bisnis keluarga saya alami. Perusahaan distribusi sering tidak efisien sehingga menggerogoti kinerja perusahaan,” kata Jowan.

Jowan merinci perusahaan distribusi seringkali mengalami persoalan dalam pengelolaan bisnisnya mulai dari beban kerja yang tidak seimbang antar karyawannya, divisi penjualan yang tidak termotivasi mencapai target penjualan, banyaknya pekerjaan yang dilakukan secara manual, hingga kinerja karyawan yang tidak terukur.

Adapun, SimpliDots memiliki beragam fitur antara lain mobile app for orderdebt collection and delivery (mobility), web backoffice hosted in cloud (scalable), route management and employee position trackingbig data mining and analysis (big data), live notification (new product, promo, announcement), sales target gamification, dan support online / offline capability.

Sejak diperkenalkan ke pasar, SimpliDots sekarang sudah memiliki 8 pelanggan dan mayoritas bergerak di FMCG (fastmoving consumer goods). Selanjutnya, klien SimpliDots sebagian besar berasal dari Sumatera Utara dan Australia.

 Dia mengungkapkan SimpliDots berbeda dengan perusahaan rintisan lainnya yang kebanyakan lebih menyasar ke business to consumer (B2C), melainkan lebih fokus ke segmen business to business (B2B) yang jarang tersentuh.

“Kami menerapkan bisnis model SaaS (software as a service), dimana untuk menggunakan SimpliDOTS, klien harus berlangganan. Dengan berlangganan, kita juga bisa lebih fokus untuk memberikan pelayanan dan kualitas yang lebih baik,” tuturnya.

Dari segi harga, Jowan menyebutkan harga yang dikenakan kepada konsumen sangat bergantung dari paket yang dibutuhkan. Secara umum, produk SimpliDots bisa diakses mulai dari harga Rp3 juta.

Terkait pendanaan, SimpliDots masih mengandalkan dana pribadi para pendiri dan juga dari biaya pengembangan dan biaya langganan yang dibayarkan oleh klien yang sudah menggunakan produknya.

SimpliDots memiliki tim berjumlah 12 orang yang mencakup tiga pendirinya, 6 developer, 2 user interface/experience, 1 marketing dan public relation.

“Kami sengaja tidak menerima proyek dari pemerintah karena terkenal rumit sehingga kami hanya menerima proyek dari swasta saja. Sejauh ini, promosi melalui mulut ke mulut, tentunya selain instagram dan website perusahaan,” tambahnya.

Jowan mengemukakan tantangan terbesar yang dialaminya sejauh ini adalah dari segi sumber daya manusianya. Pasalnya, sebagian besar staf yang direkrut adalah lulusan baru sehingga memerlukan waktu pelatihan cukup panjang.

Dari sisi eksternal, kesulitan terbesar adalah mencari klien awal yang mau menggunakan SimpliDOTS karena cukup sulit untuk mengubah pola pikir klien yang awalnya menggunakan sistem konvensional menjadi sistem digital terutama berbasis cloud

 

Tag : peluang usaha
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top