DESAINER WEBSITE: Bermula dari Kegelisahan

Layaknya perusahaan rintisan di Indonesia yang berawal dari sebuah kegelisahan, SimpliDots juga berangkat dari persoalan rumitnya mengelola bisnis yang bergerak di sektor distribusi.
Amanda Kusumawardhani | 26 November 2017 13:19 WIB
. - .

Bisnis.com, JAKARTA-  Layaknya perusahaan rintisan di Indonesia yang berawal dari sebuah kegelisahan, SimpliDots juga berangkat dari persoalan rumitnya mengelola bisnis yang bergerak di sektor distribusi.

Jowan Kosasih bersama dua rekannya yakni Hendy Sumanto dan Ginanjar Nugroho memutuskan untuk mendirikan perusahaan pada 2017 yang mampu menyelesaikan masalah yang dialami perusahaan di Indonesia, khususnya di Medan.

“Alasannya sederhana karena bisnis keluarga saya juga bergerak di sektor distribusi. Mulainya dari situ dan kami mengembangkan produk berdasarkan masalah yang pernah bisnis keluarga saya alami. Perusahaan distribusi sering tidak efisien sehingga menggerogoti kinerja perusahaan,” kata Jowan.

Jowan merinci perusahaan distribusi seringkali mengalami persoalan dalam pengelolaan bisnisnya mulai dari beban kerja yang tidak seimbang antar karyawannya, divisi penjualan yang tidak termotivasi mencapai target penjualan, banyaknya pekerjaan yang dilakukan secara manual, hingga kinerja karyawan yang tidak terukur.

Adapun, SimpliDots memiliki beragam fitur antara lain mobile app for orderdebt collection and delivery (mobility), web backoffice hosted in cloud (scalable), route management and employee position trackingbig data mining and analysis (big data), live notification (new product, promo, announcement), sales target gamification, dan support online / offline capability.

Sejak diperkenalkan ke pasar, SimpliDots sekarang sudah memiliki 8 pelanggan dan mayoritas bergerak di FMCG (fastmoving consumer goods). Selanjutnya, klien SimpliDots sebagian besar berasal dari Sumatera Utara dan Australia.

 Dia mengungkapkan SimpliDots berbeda dengan perusahaan rintisan lainnya yang kebanyakan lebih menyasar ke business to consumer (B2C), melainkan lebih fokus ke segmen business to business (B2B) yang jarang tersentuh.

“Kami menerapkan bisnis model SaaS (software as a service), dimana untuk menggunakan SimpliDOTS, klien harus berlangganan. Dengan berlangganan, kita juga bisa lebih fokus untuk memberikan pelayanan dan kualitas yang lebih baik,” tuturnya.

Dari segi harga, Jowan menyebutkan harga yang dikenakan kepada konsumen sangat bergantung dari paket yang dibutuhkan. Secara umum, produk SimpliDots bisa diakses mulai dari harga Rp3 juta.

Terkait pendanaan, SimpliDots masih mengandalkan dana pribadi para pendiri dan juga dari biaya pengembangan dan biaya langganan yang dibayarkan oleh klien yang sudah menggunakan produknya.

SimpliDots memiliki tim berjumlah 12 orang yang mencakup tiga pendirinya, 6 developer, 2 user interface/experience, 1 marketing dan public relation.

“Kami sengaja tidak menerima proyek dari pemerintah karena terkenal rumit sehingga kami hanya menerima proyek dari swasta saja. Sejauh ini, promosi melalui mulut ke mulut, tentunya selain instagram dan website perusahaan,” tambahnya.

Jowan mengemukakan tantangan terbesar yang dialaminya sejauh ini adalah dari segi sumber daya manusianya. Pasalnya, sebagian besar staf yang direkrut adalah lulusan baru sehingga memerlukan waktu pelatihan cukup panjang.

Dari sisi eksternal, kesulitan terbesar adalah mencari klien awal yang mau menggunakan SimpliDOTS karena cukup sulit untuk mengubah pola pikir klien yang awalnya menggunakan sistem konvensional menjadi sistem digital terutama berbasis cloud.

Tag : peluang usaha
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top