Menggali Peluang Sebagai Teknopreneur Finansial

Bagi sebagian kalangan, akses untuk layanan finansial masih belum mudah untuk didapatkan. Sementara itu pemberi layanan finansial juga masih belum menggarap secara luas potensi pelanggannya
Agne Yasa | 19 Januari 2018 13:38 WIB
. - .

Bisnis.com, JAKARTA- Bagi sebagian kalangan, akses untuk layanan finansial masih belum mudah untuk didapatkan. Sementara itu pemberi layanan finansial juga masih belum menggarap secara luas potensi pelanggannya.

Misalnya saja mahasiswa atau petani yang  mungkin saja belum dianggap sebagai kelompok pelanggan potensial untuk layanan finansial.

Namun, seiring perkembangan teknologi, permasalahan pembiayaan bagi segmen yang belum tergarap, kini dilihat sebagai peluang. Apalagi potensi teknologi finansial untuk berkembang semakin dilirik oleh para teknopreneur atau pelaku wirausaha teknologi.

Para teknopreneur atau perusahaan rintisan juga mulai mencari peluang untuk menggali segmen khusus, yaitu segmen yang tidak terlayani oleh layanan finansial yang ada selama ini.

Memang dari data yang ada, populasi pemilik akun bank di Indonesia masih sedikit dibandingkan total populasi penduduk.  Dari beberapa data mengungkapkan hanya sekitar 36%  dari total penduduk di dalam negeri yang memiliki akun bank. Sementara itu, pemilik kartu kredit hanya 1% dari total populasi.

Padahal kebutuhan pembiayaan selalu ada, seperti layanan finansial konvensional berupa pinjaman atau cicilan.

Dalam waktu lima tahun, diprediksi ekosistem teknologi finansial akan makin matang dan pelaku bisnis teknologi finansial juga kian banyak.

Peluang itu yang ditangkap pendiri Crowde, Yohanes Sugihtononugroho, dari pengalamnnya ketika menjadi pembudidaya jamur. Ketika itu, dia melihat secara langsung kesulitan yang dialami para petani untuk mendapatkan modal tambahan dalam mengelola pertanian.

Terinspirasi dari hal tersebut, Yohannes Sugihtononugroho membuat platform investasi untuk membantu para petani dengan skema gotong royong. Melalui teknologi ini, Crowde membuka peluang layanan finansial dalam membantu akses modal para petani.

Di segmen mahasiswa, ada Edward Widjonarko yang mendirikan Cicil. Pengalaman pribadi ketika menjadi mahasiswa yaitu kesulitan mendapatkan akses fasilitas pembiayaan membeli laptop untuk skripsi, mendorong Edward menghadirkan akses pembiayaan bagi mahasiswa.

Dia mendirikan Cicil sebagai akses layanan pembiayaan untuk membeli perlengkapan penunjang kebutuhan kuliah dengan memberdayakan teknologi.

Namun, memilih untuk menekuni usaha rintisan lewat platform teknologi pembiayaan ini juga bukan tanpa tantangan.

Beragam strategi harus dijalankan untuk memperluas adopsi layanan ini, termasuk dalam upaya edukasi dan sosialisasi.

Membidik segmen secara khusus yaitu petani dan mahasiswa juga perlu upaya tersendiri dalam menjangkau penggunanya.

Di tengah semakin banyaknya usaha rintisan sejenis, keduanya juga harus mampu untuk terus berinovasi agar usaha rintisannya berkelanjutan.

Untuk mengetahui bagaimana strategi Crowde dan Cicil dalam menggarap segmen pelanggannya, simak kisahnya.

 

Tag : peluang usaha
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top