PELUANG USAHA: Beri Akses Layanan Finansial ke Petani

Berawal dari menggeluti bisnis budi daya jamur, membuka mata Yohanes Sugihtononugroho terhadap permasalahan akses pelayanan finansial di kalangan petani.
Agne Yasa | 19 Januari 2018 14:00 WIB
. - .

Bisnis.com, JAKARTA- Berawal dari menggeluti bisnis budi daya jamur, membuka mata Yohanes Sugihtononugroho terhadap permasalahan akses pelayanan finansial di kalangan petani.

Menurutnya, ada beberapa permasalahan yang sering dihadapi para petani ketika menjalankan kegiatan pertaniannya.

Pertama, sulitnya memperoleh modal tambahan untuk mengelola pertanian mereka. Kedua, ketergantungan dengan tengkulak. Ketiga, akses informasi yang terbatas.

Dari permasalahan tersebut menginspirasi Yohanes untuk membantu, mulai dari menjalankan proyek pertanian. Namun, modal yang terbatas mendorongnya untuk mencoba menawarkan pada rekan-rekannya untuk bergabung lewat pendanaan gotong royong dengan bentuk bagi hasil.

“Orang-orang yang saya tawarkan begitu tertarik dengan skema kerja sama bisnis itu. Saya berpikir untuk membuat lebih banyak orang lagi bergabung dengan mulai membuatnya dalam bentuk digital,” jelasnya.

Berawal dari keinginan memecahkan persoalan akses pendanaan tersebut, Yohanes sebagai founder dan Risyad Gani sebagai co-founder membuat platform investasi dengan nama PT Crowde Membangun Bangsa (Crowde) pada 2015. Tujuannya, untuk membantu para petani dengan skema gotong royong.

“Untuk membuka peluang lebih besar lagi bagi setiap orang mulai melakukan investasi. Akhirnya, kami menentukan nilai minimal investasi sebesar Rp10.000,” ujarnya.

Yohanes menjadi teknopreneur muda yang kini usianya 25 tahun, dia menjalani bisnis pertanian sejak berusia 22 tahun dengan berbekal pendidikan management business dari Universitas Prasetya Mulya. Adapun Risyad Gani berusia 25 tahun dengan bekal pendidikan  Economic dari Melbourne University.

Yohanes mengatakan Indonesia sebagai negara agraris sehingga industri pertanian menjadi usaha yang menjanjikan. Namun, dia melihat ironi karena petani kurang sejahtera dengan pedapatan yang rendah.

“Saya bersama Risyad yang kebetulan memiliki background finance, kami bersama-sama membentuk skema bisnis yang sesuai dan dapat membantu para petani,” ujarnya.

Saat ini pihaknya telah menyalurkan lebih Rp15 miliar, membantu lebih dari 750 petani, dengan lebih dari 2.500 jumlah proyek, serta melibatkan lebih dari 10.000 investor. Crowde juga telah resmi terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keungan sebagai penyelenggara layanan pinjam meminjam uang berbasis teknologi informasi.

Dari data yang diperoleh Crowde, setiap tahunnya, jumlah petani Indonesia menurun 5%, sementara itu kebutuhan pangan meningkat 15% setiap tahunnya. Adapun profesi petani memiliki pendapatan paling rendah dibandingkan profesi lain, yaitu 2,1 kali lebih mrendah dibandingkan profesi lain.

Untuk itu, perusahaan financial techonology Crowde sebagai portal crowdfunding ini juga terus berupaya melakukan pendampingan ke para petani dalam memanfaatkan sistem pendanaan gotong royong ini.

Herisiswanto, Business Development Crowde mengatakan membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk membiasakan petani dalam menggunakan teknologi digital.

Untuk itu, pihaknya juga berkolaborasi dengan berbagai pihak, baik itu komunitas, perusahaan, komunitas atau organisasi nonpemerintah yang bergerak di bidang pertanian.

Dari segi investor, sosialisasi dilakukan melalui pemanfaatan sosial media, acara maupun program agrowisata, dimana Crowde mengajak masyarakat yang berminat menjadi investor untuk berkunjung ke proyek petanian para petani yang telah memperoleh dana melalui program Crowde. 

Adapun skema yang dijalankan adalah bagi hasil dan pinjaman. Setiap petani yang ingin mengajukan pendanaan diberikan kebebasan dalam menentukan skema yang ingin dijalankan, beserta jumlah persentase bagi hasil yang akan ditawarkan oleh investor.

Kemudian Crowde akan melakukan verifikasi pada proyek petani tersebut, ketika selesai diverifikasi dan memenuhi standar, maka proyek akan di data ke dalam platform kemudian di publish pada laman web www.crowde.co.

Kemudian setelah itu, akan menunggu paling lama 14 hari untuk proses penggalangan dana. Ketika dana telah terkumpul maka akan disalurkan kepada petani.

Setelah itu, petani akan menjalankan proyek sesuai dengan jumlah hari yang telah mereka tentukan sebelumnya. setelah proyek selesai maka modal dari investor beserta keuntungan akan di salurkan kepada Crowde yang nantinya disalurkan kepada investor.

Adapun untuk monetisasi, Crowde menerapkan sistem komisi bagi setiap proyek yang telah didanai sesuai kebutuhan. Saat ini, selain bidang pertanian, Crowde juga telah merambah bidang lain seperti peternakan dan perikanan. Terdapat puluhan bidang investasi yang dpaat dipilih, seperti  cabai, timun, sapi, hingga lele.

Crowde tidak bermain sendiri di segmen ini, sudah mulai banyak usaha sejenis yang berkembang. Dari pengamatan Crowde sendiri, saat ini terdapat lebih dari lima startup yang berfokus pada pendanaan di sektor pertanian.

Salah satu strategi yang diterapkan Crowde agar bisa mampu bersaing adalah memahami kebutuhan pelanggannya, yaitu dengan cara membangun komunikasi yang baik dengan para pelanggan dan terus melakukan inovasi sesuai dengan kebutuhan mereka.

Pada 2018, Crowde memiliki sejumlah target yang ingin dicapai yaitu peningkatan pendapatan per kapita petani sebesar 30%, dengan cara mentransformasi petani buruh menjadi agropreneur.

Kemudian, peningkatan jumlah petani muda yaitu usia 24-30 tahun, sebesar 10%. Selian itu, menciptakan ekosistem pertanian yang efisien dan efektif dengan semangat gotong royong

Adapun jika ada yang ingin merintis usaha rintisan serupa, pihak Crowde mengatakan pertama-tama yang harus dilakukan adalah produk atau jasa yang ditawarkan sebaiknya dapat menyelesaikan permasalahan masyarakat.

“Tidak perlu ribet malah hal-hal yang simpel yang kadang kala tidak diperhatikan orang-orang,” kata Herisiswanto.

Kemudian setiap produk atau jasa memiliki MPV (minimum product value) dan biaya yang perlukan.

Selanjutnya memahami calon pelanggan dan dari mana  perusahaan akan menghasilkan pendapatan.

Untuk modal, pihak Crowde mengungkapkan setidaknya untuk diawal, tidak sebesar membangun sebuah perusahaan konvensional. Terlebih zaman sekarang sudah banyak faktor yang dapat membuat setiap orang untuk membuat perusahaan khususnya perusahaan digital.

Tag : peluang usaha
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top