PELUANG USAHA: Berkat Inovasi Produk Ini, Panjat Kelapa Selihai Tupai

Petani tidak perlu lihai seperti tupai untuk naik kelapa. Bahkan, tidak perlu mengeluarkan kocek lebih untuk menyewa tukang panjat. Cukup menggunakan alat bernama Ponkod, berbuah-buah kelapa dapat dengan mudah dipetik.
Ni Putu Eka Wiratmini | 04 Februari 2018 13:10 WIB
. - .

Bisnis.com, JAKARTA- Petani tidak perlu lihai seperti tupai untuk naik kelapa. Bahkan, tidak perlu mengeluarkan kocek lebih untuk menyewa tukang panjat. Cukup menggunakan alat bernama Ponkod, berbuah-buah kelapa dapat dengan mudah dipetik.

Founder Ponkod Gede Juliana Eka Putra mengatakan alat ini terinspirasi dari kerja petani yang ada di Bangladesh dan India. Dengan alat bantu sederhana, petani di negara itu dapat dengan mudah menaiki kelapa.

Ide ini pun kemudian dia kembangkan, dibuat semakin canggih, dan sudah dipakai puluhan petani yang ada di Tabanan dan Karangasem Bali. Apalagi soal harga, untuk alat yang sangat membantu ini, tergolong cukup murah yakni Rp1,8 juta.

 “Kita sudah jual dari pertengahan bulan lalu, respons mereka sangat senang ada alat ini karena tidak perlu sewa tenaga lagi," katanya.

Dia berani memastikan dengan bantuan Ponkod, kecelakaan kerja saat memanjat kelapa dapat diminimalisir. Apalagi, dengan bantuan Ponkod, petani cenderung seperti berjalan biasa. Bedanya, bukan di atas tanah, tetapi di atas pohon kelapa.

Sistem kerjanya, pemanjat cukup memasang dan merekatkan Ponkod pada pohon kelapa. Kemudian, giliran tubuh yang diikat dengan alat ini. Setelahnya, tinggal berjalan seperti menaiki tangga dan alat akan otomatis mengikuti gerakan kaki, seperti kaki kiri naik dan kaki kanan menahan beban begitu juga sebaliknya.

“Kalau dengan memanjat biasa, sehari bisa panjat 20-25 kelapa tetapi dengan Ponkod bisa naik sampai 45 pohon,” katanya.

Hingga saat ini, bobot maksimal yang dapat menggunakan Ponkod hanya 100 kg. Selain itu, alat ini baru diujikan pada pohon dengan ketinggian sampai 15 meter.

Gede berencana akan mengekspor alat ini ke Filipina. Sementara, saat ini sudah banyak daftar tunggu pesanan yang harus dia penuhi, dengan jumlah hingga 50 pelanggan. Sebagian besar pelanggan yang masuk daftar tunggu berada di wilayah Sulewesi yang memiliki ladang kelapa sangat luas.

"Produksi kita masih belum memenuhi, sekali produksi kita butuh tiga hari untuk satu alat, makanya sekarang cukup banyak waiting list," sebutnya. (k23)

Tag : peluang usaha
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top