Manfaatkan Teknologi, Co-founder Eatlah Sukses Miliki Empat Bisnis Sekaligus

Memiliki bisnis sesuai passion kini menjadi impian bagi setiap anak muda. Mengembangkan bisnis dari titik nol juga menjadi tantangan tersendiri, khususnya bagi usaha kecil dan menengah (UKM).
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh | 28 Maret 2018 12:21 WIB

Bisnis.com, JAKARTA- Memiliki bisnis sesuai passion kini menjadi impian bagi setiap anak muda. Mengembangkan bisnis dari titik nol juga menjadi tantangan tersendiri, khususnya bagi usaha kecil dan menengah (UKM).

Salah satu usaha yang bergerak di bidang kuliner, Eatlah, makanan khas berbalur salted-egg yang berdiri sejak 2016 kini kian diminati oleh masyarakat Jakarta. Hanya berjarak 2 tahun, Eatlah kini telah memiliki 12 cabang di Jakarta dan juga Bandung.

Eatlah didirikan oleh tiga anak muda asal Indonesia yang sempat mengenyam pendidikan di Singapura. Dari situlah ide makanan yang mereka sebut makanan casual dengan ciri khas salted-egg, menjadi makanan kekinian yang kini terus berkembang.

Cerita menarik muncul dari salah satu co-founder Eatlah, Michael Chrisyanto, yang ternyata memiliki tiga bisnis lain yang dirintisnya di luar Eatlah.

Selain bisnis kuliner, ternyata pria yang akrab disapa Mike ini membagi waktunya setiap hari untuk bisnis di bidang clothing line yaitu Monstore, lalu Sosj, konsultan desain untuk perusahaan ternama, seperti brand Union Group di Jakarta. Juga yang baru-baru ini dirintis adalah KAVVI, sebuah brand untuk sepatu wanita yang dijual secara online.

Lalu bagaimana lulusan graphic design ini membagi waktu di antara mengurus berbagai macam usaha yang dimilkinya dalam satu waktu? Teknologilah yang membantunya.

“Saat ini kebanyakan orang terlalu fokus pada kerjaan, sampai lupa bahwa ada banyak sekali teknologi yang dapat membantu. Teknologi banyak memberikan kemudahan untuk membangun dan menjalankan bisnis, tergantung bagaimana kita bisa memaksimalkan manfaatnya.” ungkap Michael kepada Bisnis, Senin (26/3/2018).

Michael menambahkan, setiap harinya ia selalu menggunakan 14 jam waktunya untuk mengurus empat bisnis yang dimilikinya.

Pria yang lahir di Jakarta ini mengaku, dengan bisnis yang dibangunnya, ia memerlukan solusi yang memungkinkannya untuk bisa bekerja secara mobile.

Contohnya pada bisnis Eatlah, Michael bersama dua rekannya memanfaatkan teknologi digital dalam berbagai aspek, sebut saja layanan pengantaran makanan secara online seperti GO-FOOD. Bahkan dengan memanfaatkan pengantaran secara online, 80% dari hasil penjualan Eatlah didapatkan melalui layanan GO-FOOD.

Selain pengantaran, Michael menjelaskan untuk mengatur outlet yang dimilikinya, ia menggunakan teknologi sistem kasir digital atau point-of-sale modern yang memberinya kemudahan dalam mengatur bisnis.

“Dengan sistem kasir digital untuk manajemen operasional misalnya, kami menggunakan Moka POS di seluruh outlet Eatlah saat ini. Bedanya dengan sistem konvensional, sistem ini memungkinkan kami untuk cek penjualan secara real-time, darimanapun dan kapanpun, jadi tidak perlu dipantengin terus di outlet," tambah Michael.

Di hampir semua bisnisnya yang lain, Michael juga menggunakan teknologi point-of-sale modern, serta dukungan teknologi lainnya seperti website dan sosial media untuk media berjualan.

Khusus untuk POS yang digunakan, fitur yang ditawarkan juga meliputi kemudahan bagi karyawan outlet untuk menggunakannya karena user interface yang simple dan interaktif.

Selain memanfaatkan teknologi, tips yang diberikan oleh Michael untuk anak muda yang ingin memulai bisnis adalah selalu mulai rencana dengan konsep, dan perhitungkan budget dengan sangat matang.

“Konsep, branding, produk, dan tentu saja manfaatkanlah teknologi yang ada,” tukasnya.

Tag : teknologi
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top