Tory Burch, Cerita “The Next Big Thing in Fashion”

Pernahkah Anda meminjam salah satu koleksi pakaian ibu Anda? Tory Burch pernah, dan ini membawanya menuju kesuksesan di dunia fesyen. Bendera brand di bawah namanya sendiri dikibarkan di banyak negara, termasuk Indonesia.
Renat Sofie Andriani | 09 April 2018 10:38 WIB
Tory Burch - Instagram

Bisnis.com, JAKARTA – Pernahkah Anda meminjam salah satu koleksi pakaian ibu Anda? Tory Burch pernah, dan ini membawanya menuju kesuksesan di dunia fesyen. Bendera brand di bawah namanya sendiri dikibarkan di banyak negara, termasuk Indonesia.

Mahakarya desainnya mulai dari ballet flat shoes, handbag, hingga tunik bermotif dikenakan berbagai usia dan kalangan, serta dijual di sekitar 200 butik dan 3.000 department store seluruh dunia.

Host ternama Oprah Winfrey pernah menjulukinya 'the next big thing in fashion'. Kerajaan Tory Burch ditaksir bernilai miliaran dolar sejak dibangun lebih dari satu dekade lalu.

Dia adalah pemimpin perusahaan yang tidak hanya menyediakan pakaian tetapi juga aksesoris mendunia seperti kacamata dan perhiasan. Beberapa kali namanya pun menempati daftar titel bergengsi Forbes.

Tak melulu berkehidupan glamor, ia memanfaatkan pengalaman dan pengaruhnya untuk kebaikan lebih besar dengan mendirikan Tory Burch Foundation, sebuah organisasi yang didedikasikan untuk memberdayakan wirausaha wanita.

“Ini semua adalah cerita. Bertahun-tahun cerita,” ucap Tory dalam suatu kesempatan berbicara mengenai kesuksesannya.

Berdarah Seni

Terlahir dengan nama Tory Robinson pada 17 Juni 1966, ia dibesarkan di Valley Forge, Pennsylvania, oleh pasangan Buddy dan Reva Robinson. Masa kecilnya dilalui indah di sebuah rumah besar dengan orangtua dan tiga saudara laki-lakinya.

Keluarga Robinson hidup dalam lingkaran elit. Orangtua Tory adalah sosialita yang kerap berkeliling dunia. Kegemaran sang ibu berbelanja ke luar negeri, misalnya membeli tunik dari Maroko, lambat laun mempengaruhi selera putrinya serta menginspirasinya di masa depan.

“Saya selalu memperhatikan ibu saya, Reva, mengenakan gaun malam, dan terlihat sangat bergaya. Ayah memiliki selera gayanya sendiri. Ia biasa mendesain setiap potongan pakaiannya dan memiliki detail yang luar biasa,” kenang Tory kepada Women's Wear Daily.

“Ayah akan melapisi jaket malamnya dengan syal Hermes serta melengkapi seluruh kemejanya dengan aksesoris. Dia adalah salah satu inspirasi terbesar saya,” lanjutnya, seperti dikutip College Fashion.

Tumbuh bersama ketiga saudara laki-lakinya, Tory kecil cenderung bergaya tomboy. Salah satu hobinya adalah memanjat pohon dan menunggang kuda. Di bangku sekolah, ia juga pernah ditunjuk menjadi kapten tim tenis.

Tory kemudian memutuskan mengambil jurusan sejarah seni di University of Pennsylvania. Setelah lulus pada 1988, ia pindah ke New York, bekerja di bidang humas dan pemasaran untuk merek-merek ternama seperti Zoran, Vera Wang, Ralph Lauren, dan Narciso Rodriguez.

Tory Story

Diam-diam ia memiliki ambisinya sendiri. Bertahun-tahun ia merencanakan masa depannya sebagai seorang desainer dengan menempelkan potongan gambar dari majalah mode dalam bukunya.

Selama periode tersebut dia menikah dengan William Macklowe, putra maestro real estat Harry B. Macklowe. Namun dalam tahun pertama pernikahan, keduanya bercerai.

Pada tahun 1996, ia kemudian menikah dengan J. Christopher Burch, seorang investor di Internet Capital Group. Pernikahan mereka berbuahkan tiga anak laki-laki.

Pada 2004, Tory memutuskan untuk terjun ke desain fashion. Butuh delapan bulan kerja keras untuk membuat koleksi pertamanya. Dilansir Famous Entrepreneurs, koleksi pertamanya diluncurkan dari apartemennya di Manhattan diikuti oleh sebuah butik di pusat kota.

Tory Burch LLC

Butik ritelnya meluncur seiring dengan label fesyennya yang diberi nama ‘TRB by Tory Burch’ pada Februari 2004. Pada hari pembukaan, satu persatu karyanya terjual. Padahal, idenya untuk memiliki toko sendiri sempat diragukan banyak orang.

“Semua orang mengatakan seharusnya saya tidak melakukan hal seperti itu. Gagasan untuk meluncurkan produk lebih dari dua kategori bahkan disebut gila. Saya tidak mendengarkan. Saya hanya punya firasat ini dan perlu mengikuti naluri saya,” ujarnya, dikutip Vogue.

Meskipun telah mengalami kesuksesan di awal perjalanannya, nama Tory Burch justru digaungkan oleh Oprah Winfrey. Pada awal 2005, Tory membuat keputusan cerdas memberi salah satu wanita berpengaruh tersebut tunik dari koleksinya.

Lalu pada Maret 2005, dia diundang untuk tampil di The Oprah Winfrey Show, di mana ia disebut-sebut sebagai 'the next big thing in fashion'. Penjualan koleksi Tory Burch meroket dalam satu malam dan situs resminya mencatat delapan juta kunjungan.

Pada 2006, ia mengganti label fesyennya menjadi lebih sederhana dan catchy dengan namanya sendiri 'Tory Burch'.

“Saya sudah mencoba 10 nama berbeda yang tidak ada hubungannya dengan nama saya, tetapi kemudian ada masalah hak cipta,” katanya, dikutip Fast Company.

Adalah desainer perhiasan Kenneth J. Lane yang menyarankannya mengubah label lamanya menjadi namanya sendiri. “Butuh waktu dua tahun, tapi saya mengubahnya. Itu adalah pembelajaran, dan sangat sulit bagi saya karena sebenarnya saya bukan orang yang selalu suka disorot,” tambah Tory.

Pahitnya Bercerai

Pencapaian sukses karirnya tidak selalu melewati cerita yang menyenangkan. Pada 2006, ia bercerai dengan Chris Burch setelah terikat pernikahan selama sekitar 10 tahun lamanya.

“Saya telah mengalami banyak masa sulit. Perceraian apalagi yang disoroti publik bukanlah sesuatu yang Anda inginkan,” katanya, berbicara tentang perselisihan dengan mantan suaminya ini.

Chris Burch, juga diketahui berlaku sebagai mitra bisnisnya, dan ikut menginvestasikan US$2 juta dalam bisnis tersebut sejak awal. “Saya adalah orang yang sangat menjaga urusan pribadi. Saya mencoba membuatnya sepribadi mungkin,” jelas Tory.

Setelah bercerai, permasalahan antara keduanya ternyata tidak berhenti. Pada 2011, Chris meluncurkan 'C Wonder' dengan produk-produk serupa namun harga yang lebih murah.

Chris kemudian menggugat Tory, menudingnya berusaha menghalangi hubungan dengan para pemasok. Tory Burch LLC balas menggugat dan mengklaim C Wonder adalah merek 'tiruan'

Setelah mencapai kesepakatan, Chris terpaksa mundur sebagai co-chair Tory Burch.

Jatuh Cinta Lagi

Setelah mengalami perceraian dan hubungan pahit berkepanjangan dengan mantan suaminya, rasanya akan sulit untuk kembali memercayai cinta. Tory diketahui sempat menjalin hubungan dengan atlet Lance Armstrong dan Lyor Cohen.

Lalu pada awal 2016, ia mengambil langkah berani dengan menerima lamaran Pierre-Yves Roussel, chairman dan CEO LVMH, setelah menjalin hubungan sekitar dua tahun.

Mereka pertama kali bertemu dalam suatu pertemuan bisnis formal. “Setelah itu kami tidak bertemu selama hampir satu tahun. Dia mengirimi saya email, tetapi saya tidak menyadarinya,” ujar Tory.

Jodoh tidak akan ke mana-mana. Keduanya kembali berkomunikasi dan sepertinya untuk hal ini Tory harus berterima kasih kepada mantan suaminya.

Selama masa perselisihan hukum, Chris memasukkan nama Pierre bersama nama-nama lain dalam daftar yang diminta kesaksiannya oleh pengadilan.

“Jadi saya harus meneleponnya dan berkata, 'Ya, saya tahu kita pernah bertemu tetapi saya menghubungi karena Anda dipanggil untuk datang ke persidangan,” kenang Tory. Perlahan hubungan bisnis mereka berkembang menjadi bentuk persahabatan.

“Sampai kami menyadari, mungkin ini sebenarnya lebih dari persahabatan..” ujarnya tersenyum. Meskipun mereka belum menetapkan tanggal pernikahan, Tory telah bertemu desainer rumah mode Alexander McQueen Sarah Burton untuk mendiskusikan ide-ide gaun pengantinnya.

“Saya harus menyewa seorang perencana pernikahan,” Tory tergelak. “Kami merasa sangat beruntung, memang butuh beberapa saat untuk bertemu cinta dalam hidup kita.”

Keseimbangan Hidup

Sementara itu, bisnisnya semakin berkembang. Logo emasnya yang ikonik telah berevolusi. Pada 2015, ia meluncurkan Tory Sport, suatu koleksi busana olahraga dengan tokonya sendiri.

Ketertarikan filantropisnya terwujud dalam Program Modal Tory Burch Foundation, sebuah joint venture dengan Bank of America. Program ini telah meminjamkan lebih dari US$30 juta untuk startup wirausaha perempuan sejak tahun 2014.

“Ada banyak tantangan untuk wanita dan saya pikir salah satunya adalah kurangnya kepercayaan diri. Itu adalah sesuatu yang saya alami di awal perjalanan,” katanya.

Ini pula yang mendorongnya meluncurkan kampanye Embrace Ambition. “Masih ada konotasi negatif seputar wanita dan ambisi. Itu adalah hal yang luar biasa jika dilakukan seorang pria tetapi tidak oleh seorang wanita. Stereotip itu harus hilang,” tegas Tory.

Di sisi lain, ia mengakui sangat menjaga keseimbangan dalam hidupnya. Ia bisa tidak menengok telepon genggamnya atau menanyakan update apapun kepada asistennya.

“Saya tidak mengecek email secara obsesif. Saya harus memiliki semacam keseimbangan dalam hidup saya. Saya bisa saja bekerja 24 jam selama 7 hari penuh, tetapi itu tidak sehat dan bukan pekerjaan terbaik Anda. Semua CEO harus mempelajari itu,” tutupnya.

Tag : desainer
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top