Yang Lan, 'Oprah Winfrey' asal China

Dia pernah dinilai tidak cukup cantik untuk tampil dalam televisi. Pendapat ini dibungkamnya dalam sekejap mata dan sekarang, Yang Lan memimpin kerajaan media dan menjadi salah satu wanita ternama di China.
Renat Sofie Andriani | 23 April 2018 10:06 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Dia pernah dinilai tidak cukup cantik untuk tampil dalam televisi. Pendapat ini dibungkamnya dalam sekejap mata dan sekarang, Yang Lan memimpin kerajaan media dan menjadi salah satu wanita ternama di China.

Melejitnya popularitas Yang Lan di China kerap dibandingkan dengan kesuksesan pengusaha media ternama Oprah Winfrey di Amerika Serikat. Alasannya sangat mudah, Yang adalah pengusaha mandiri dan wanita paling berkuasa di media China.

Saat menjalani masa seniornya di perguruan tinggi, Yang ambil bagian dalam audisi terbuka untuk sebuah variety show di Beijing dan mengalahkan 1.000 peserta lainnya. Acara tersebut menjadi yang paling populer di China dan meraup lebih dari 200 juta pemirsa reguler pada masanya.

Bersama suaminya, Bruno Wu, Yang memimpin kerajaan media, Sun Media Group. Pada tahun 2007, ia meraih penghargaan 'She Made It' untuk jurnalisme TV dan pada tahun 2013 namanya disebut-sebut dalam List of Power Women 2013 versi majalah Forbes.

Ia telah melejit untuk menjadi wanita paling berkuasa di media China dan menjangkau jutaan orang melalui bisnisnya.

Sang Nenek Jadi Inspirasi

Lahir pada 31 Maret 1968, Yang Lan adalah buah hati seorang insinyur teknologi komunikasi dan seorang profesor Sastra Inggris. Kecintaannya pada tayangan televisi membuncah ketika ayahnya membeli televisi ketika dia berusia 11 tahun.

Dilansir Woman at Work, tumbuh besar bersama neneknya dan jauh dari orang tuanya, Yang Lan menemukan inspirasi pada neneknya yang pernah buta huruf dan melarikan diri dari rumah saat masih gadis karena menolak dijodohkan.

Kepada Yang, sang nenek terus mengingatkan bahwa perempuan memiliki kemampuan yang sesungguhnya dan dapat melakukan apa saja dengan tekad kuat.

“Nenek selalu berkata, 'Untuk menjadi seorang wanita kamu harus belajar berdiri sendiri'. Nenek pergi ke Shanghai, di mana dia mencari nafkah di pabrik jahit. Dia memiliki keberanian untuk mencari kebebasan dan untuk menjadi dirinya sendiri,” ujar Yang.

Bungkam Penilaian Orang

Setelah menyelesaikan jenjang sekolah lanjutan, Yang Lan memilih untuk mempelajari bahasa Inggris di Beijing Foreign Studies University. Pada masa seniornya, ia tergerak mengikuti audisi untuk posisi pemandu acara sebuah variety show yang diadakan China Central Television.

Sekitar seribu pesaing dan tujuh putaran audisi harus dilewatinya, namun Yang berhasil menyingkirkan mereka semua dan mendapatkan posisi itu. Ada kejadian menarik saat ia menjalani proses audisi.

Rupanya banyak orang sempat menganggap Yang tidak cukup cantik untuk tampil dalam televisi. Namun dalam sekejap ia mampu berani menunjukkan diri yang sebenarnya dan membungkam penilaian itu.

“Ketika jumlah kandidat berkurang menjadi hanya dua, saya diberitahu bahwa saya memenuhi semua kriteria, tetapi saya tidak cukup cantik,” kata Yang Lan, dikutip Marie Claire.

“Jadi di babak final audisi, saya sedikit marah dan berkata, 'Di televisi China, kita memiliki wajah-wajah dengan senyum lebar [cantik], tetapi kita tidak memiliki gagasan yang sangat otentik.'” kenangnya.

Keberanian Yang dalam mengungkapkan pendapatnya mengesankan para produser. Sepuluh menit kemudian, mereka berkata, “Yang Lan, Anda terpilih.”

Sebagai pemandu Zheng Da Variety Show, acara talk show terbaik China dari tahun 1990 hingga 1993, Yang memusatkan perhatian pada isu-isu seperti ketegangan ekonomi di antara keluarga-keluarga kelas menengah yang sedang tumbuh di China, serta menghindari sensasionalisme yang dinilainya mencirikan talk show Amerika pada saat itu.

Yang juga tidak keberatan dengan kendali program yang diberikan saluran televisi milik negara tersebut. “Dalam pandangan pribadi saya, sensor tertentu adalah penting, karena setiap negara memiliki latar belakang sosial dan budaya yang berbeda. Saya punya cukup ruang untuk bergerak dalam program saya,” ujarnya kepada Newsweek.

Prestasi Demi Prestasi

Dilansir Britannica, pada tahun 1993, Yang dianugerahi Golden Microphone Award China untuk kategori pembawa acara televisi. Kerja kerasnya mampu membawanya menjadi salah satu selebriti paling populer di negara itu. Ia menjadi pembawa acara dalam banyak kesempatan, termasuk upacara pembukaan Konferensi Dunia Keempat PBB tentang Wanita pada tahun 1995 di Beijing.

Pada tahun 1996, Yang meraih gelar master dalam hubungan internasional dari Columbia University di New York City. Di negeri Paman Sam, ia hidup di bawah sorotan dan tidak banyak yang tahu tentang popularitasnya.

Sekembalinya ke China pada tahun 1996, Yang meluncurkan acara dokumenter baru berjudul Yang Lan's Horizon. Acara ini mengupas hubungan budaya antara Amerika Serikat dan China, serta menjelajahi topik-topik seperti kesejajaran antara musikal Broadway dan jingxi, yang dikenal dalam bahasa Inggris sebagai opera Peking.

Pada tayangan awal, program barunya mampu meraup sekitar 200 juta pemirsa. Kebutuhan untuk meningkatkan kualitas televisi China dengan mengembangkan lebih banyak acara sendiri dan kurang bergantung pada impor dari Amerika Serikat menjadi perhatiannya.

Meskipun ia percaya televisi China bisa menghasilkan pertunjukan-pertunjukan yang bagus untuk menggantikan acara-acara dari Amerika, namun ia tetap berharap dapat mempromosikan ikatan antara kedua negara, alih-alih merusaknya.

Dari tahun 1998 hingga 1999, Yang menjabat sebagai pencipta, produser eksekutif, dan pembawa acara untuk Phoenix Satellite Television. Tahun berikutnya ia mendirikan Sun Television Cybernetworks (SunTV), saluran satelit pertama di Greater China yang fokus pada sejarah dan budaya.

Yang Lan One-on-One

Dilansir Woman at Work, pada tahun 1998, ia meluncurkan acara TV wawancara pertamanya bernama 'Yang Lan One-on-One' yang menampilkan para tokoh dunia. Acara ini mendidik wawasan warga China tentang para pemimpin dunia.

Sebagai acara talk show TV, Yang Lan One-on-One berfokus untuk mengenal tokoh-tokoh terkemuka dari bidang politik internasional, bisnis, masyarakat dan budaya. Pada program ini, Yang Lan memaparkan kisah kehidupan, pengalaman karir, dan pandangan pribadi para tamu.

Ditayangkan selama delapan tahun, program ini menjadi salah satu acara talk show mendalam yang paling dibicarakan di China.

Dengan gaya pribadi dan sudut pandangnya yang unik sebagai pemandu acara tersebut, Yang Lan berhasil mewawancarai berbagai tokoh internasional dan selebriti dari seluruh dunia. Tamu-tamunya termasuk Bill Clinton, Henry Kissinger, Jack Welch, Andrew L. Webber, Tan Dun, Nicole Kidman, Jackie Chan, Kobe Bryant, Hugh Jackman, dan Michael Phelps.

Namun, tayangan televisi di China dikendalikan secara menyeluruh dan acaranya diawasi dengan sangat cermat. Ia kemudian mendirikan Sun Media Group pada 1999 bersama suaminya, Bruno Wu, dan pada tahun 2000 mereka menghimpun US$28 juta untuk SunTV serta menginvestasikan US$11 juta.

Dalam perjalanannya, SunTV mengalami kegagalan karena pada dasarnya merupakan saluran berbasis di Hong Kong dan tidak disetujui di daratan China. Meskipun sangat putus asa, Yang Lan tidak menyerah dan membuat lebih banyak gebrakan.

Pada tahun 2005, Yang mendirikan Sun Culture Foundation untuk memajukan pendidikan, meningkatkan kesadaran tentang kemiskinan, serta mendorong komunikasi budaya. Setelah itu, dia memulai 'Her Village', sebuah majalah online dan situs web yang menargetkan isu-isu perempuan dan wanita konsumen perkotaan.

Pada tahun 2007, ia memenangkan Penghargaan 'She Made It' untuk jurnalisme TV dan pada tahun 2013 namanya tercantum dalam Daftar Wanita Berpengaruh 2013 versi Forbes. Saat ini, ia telah menjadi wanita paling berkuasa di media China sekaligus pembawa acara talk show dengan track record terpanjang di China.

Dedikasi Pada Anak-anak

Pada Oktober 1995, ia menikah dalam acara pernikahan yang mewah dengan pengusaha ternama bernama 'Bruno' Wu Zheng. Keduanya bertemu di New York saat Yang menempuh program masternya di Columbia. Ini adalah pernikahannya yang kedua. Sebelumnya ia menikah dengan Yibin Zhang, namun telah bercerai.
Meski China diketahui memiliki kebijakan 'satu anak', pernikahan keduanya membuahkan dua anak. “Suami saya adalah warga negara AS, jadi menurut hukum, kami diperbolehkan memiliki lebih dari satu anak,” ungkapnya, dikutip Marie Claire.

Pada 2010, Yang Lan ditunjuk sebagai Duta UNICEF di China. Dengan penunjukannya, ia menjadi duta pertama yang ditunjuk oleh UNICEF di China.

“Kami sangat gembira menyambut Ms. Yang Lan sebagai Duta UNICEF pertama di China,” kata Dr. Yin Yin Nwe, Perwakilan UNICEF China, dalam laman resminya. “Sebagai salah satu tokoh media terkenal di China dan seorang filantropis yang sukses, dia akan menjadi advokat yang sangat baik tentang hak-hak dan kepentingan anak-anak.”

UNICEF China bertujuan meminta dukungan Yang Lan untuk advokasi publik mengenai isu hak-hak anak utama, di antaranya dukungan untuk migran dan anak-anak yang ditinggalkan, mengakhiri diskriminasi terhadap anak-anak yang terkena HIV/AIDS, serta inklusi anak-anak penyandang cacat.

Yang Lan melanjutkan dedikasinya dan komitmennya untuk pelayanan sosial dan anak-anak. Ia meningkatkan kesadaran tentang menyusui, pentingnya vaksinasi untuk mencegah penyakit masa kanak-kanak, serta tentang bagaimana mencuci tangan dengan sabun setelah menggunakan toilet dan sebelum makan dapat menyelamatkan nyawa.

Tag : tokoh
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top