Christian Dior, Pionir Tren Couture Dunia

Jika melihat merek fesyen dari House of Dior, yang pertama dapat Anda perhatikan adalah desain yang melambangkan keanggunan, inovasi, dan kecerdikan. Merek fesyen ini juga sering dikatakan adalah pionir dari mode haute-couture alias adibusana.
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh | 04 Mei 2018 13:35 WIB
Christian Dior. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA — Jika melihat merek fesyen dari House of Dior, yang pertama dapat Anda perhatikan adalah desain yang melambangkan keanggunan, inovasi, dan kecerdikan. Merek fesyen ini juga sering dikatakan adalah pionir dari mode haute-couture alias adibusana.

Terkenalnya House of Dior berkaca pada selera desain pendirinya yang juga seorang fashionista, Christian Dior. Dia adalah diktator gaya dan mode yang hebat. Kecintaannya pada dunia mode membuatnya hadir membangun House of Dior di saat dunia masih terguncang pasca Perang Dunia II.

Gaya Eropa modern yang dibawanya menunjukkan produk fesyen yang ultra femininitas dan mewah. Dior memperkenalkan lagi konsep mewah ke dalam mode untuk wanita yang berfokus pada keanggunan, struktural, dan kemegahan.

Koleksinya yang sangat feminin saat debut memang mendapatkan kritik dan menjadi bahan pembicaraan di Paris dalam waktu singkat.

Masa Kecil Christian Dior

Dior lahir di Normandia, Prancis pada 21 Januari 1905, dan merupakan anak kedua dari lima bersaudara. Ayahnya, Maurice, adalah pekerja di pabrik pupuk dan Ibunya bernama Isabelle Cardamone Dior. 

Ketika Dior berusia lima tahun, keluarganya memutuskan untuk pindah ke Paris. Dior kecil bercita-cita untuk menjadi seorang arsitek, tapi dia harus mengubur mimpinya dalam-dalam karena sang ayah menginginkannya menjadi seorang Diplomat.

 

Dior yang tidak ingin mengecewakan ayahnya, akhirnya memutuskan untuk belajar Ilmu Politik di École des Sciences Politiques.

Perjuangan Membangun House of Dior

Pada 1928, Dior tidak bisa lagi berusaha untuk memenuhi harapan ayahnya. Semakin lama belajar Ilmu Politik, dia merasa cintanya terhadap seni semakin besar.

Akhirnya, Dior memutuskan untuk keluar dari sekolahnya. Berbekal uang yang diberikan oleh ayahnya, dia memberanikan diri membuka sebuah galeri seni kecil-kecilan. Sayang, galerinya tidak bisa bertahan lama dan akhirnya ditutup pada masa Great Depression karena perusahaan keluarganya, Dior Freres tutup.

Usai galeri seninya tutup, demi bertahan hidup Dior terpaksa menjual sketsa fesyen yang dibuatnya. Hal itu berlangsung cukup lama, hingga akhirnya pada 1937 dia dipekerjakan oleh perancang busana Robert Piguet, yang memberinya kesempatan untuk mendesain tiga koleksi Piguet. Di bawah bimbingan Piguet, Dior belajar cara mendesain yang bagus.

Perang Dunia II membuat Dior harus meninggalkan Piguet demi ikut menjadi tentara di Prancis Selatan. Pada 1941, saat kembali dari Perang Dunia II, Dior bekerja untuk Lucien Lelong, di mana saat itu rumah mode Lelong menjadi favorit karena mendandani perempuan Nazi dan kolaborator Prancis.

Memulai Usaha Sendiri

Dior yang tak ingin terus-menerus berada di zona nyaman memutuskan untuk membuat lompatan besar dalam karirnya. Pada 1946, dia akhirnya mampu mengubah dunia mode dan menegaskan kembali status Paris sebagai ibu kota mode dunia. Didukung oleh produsen tekstil dan pengusaha terkaya Prancis, Marcel Boussac, Dior membuka rumah mode sendiri.

Koleksi pertamanya, menunjukkan DNA-nya yang mencintai seni juga keunggulannya dalam menciptakan desain yang mampu menonjolkan bentuk dan siluet tubuh yang indah. Dia memperkenalkan desain bahu bulat, pinggang cinched, dan rok lebar nan penuh. Korset bergaya bustier, bantalan pinggul, korset berpinggang-pilin, dan rok wanita yang memberi kesan berisi.

Tetapi, jangan dikira perempuan di era itu langsung menerima desain tersebut. Desain Dior menerima kritik habis-habisan karena dirasa terlalu menggairahkan dan terkesan berat.

Perempuan masa itu terbiasa dengan keterbatasan penggunaan kain untuk pakaian yang mereka kenakan karena pengaruh Perang Dunia. Jadi, menurut mereka pemborosan penggunaan kain untuk busana tampaknya tidak diperlukan. Namun, seiring berjalannya waktu, gaya busana Dior mulai diterima dengan baik.

Pada 1948, House of Dior sudah menjadi sangat diperhitungkan. Rancangannya sangat disukai dan dia berhasil memperluas bisnis dengan melakukan kerja sama dan melisensikan barang-barang lainnya seperti syal dari bahan bulu, stoking, dan parfum. 

Sampai saat ini, gaya desain koleksi dari House of Dior memiliki tema yang berbeda di setiap musim. Koleksi musim semi Dior pada 1953 menjadi salah satu yang paling diingat karena memiliki banyak sekali cetakan melayang dan berbunga-bunga.

Dalam koleksi musim semi 1955, sang desainer membuat desain A-line yaitu rok atau gaun dengan potongan pinggang yang tidak terlalu terlihat serta dipermanis siluet halus melebar di atas pinggul dan kaki, menyerupai huruf kapital 'A'. Ya, lagi-lagi Dior memang pionir dalam menciptakan gaya desain mode yang baru.

Tak puas dengan kemahirannya dalam menciptakan desain untuk perempuan, Dior unjuk gigi dengan menciptakan pakaian laki-laki. Debut desainnya berdetail trompe-l'oeil dan potongan maskulin yang rapi juga menarik. Namanya pun semakin melambung dikalangan penikmat fesyen.

Menjelang pensiun, Dior kembali membuat perubahan. Dia mulai merancang chemises, tunik sempit, dan kain penutup seperti sari yang dikenakan perempuan India.

Pada akhirnya, Christian Dior berhasil merevolusi fesyen wanita dalam periode pasca perang dan secara efektif membangun kembali Paris sebagai pusat dunia mode. Dia memperoleh kesuksesan fenomenal.

 

Dior juga mendapatkan ketenaran dan pengakuan yang luar biasa dari dunia fesyen. Dia menjadi salah satu desainer terpenting sampai saat ini dan merek besutannya identik dengan feysen dan gaya high end.

Selama hidupnya, Dior masuk nominasi untuk kategori Best Costume Design Academy Award pada 1955 untuk film Terminal Station. Dia juga dianugerahi Best British Costume untuk Arabesque pada 1967 oleh BAFTA. Dia juga dinominasikan pada 1986 untuk Best Costume Design di Cesar Award ke-11, untuk film Bras de fer.

Kehidupan Pribadinya

Christian Dior sedang berlibur di kota Montecatini, Italia, ketika tiba-tiba mendapatkan serangan jantung fatal pada 24 Oktober 1957. Serangan itu membuat desainer brilian ini menutup mata untuk selama-lamanya.

Setelah kematiannya, Marcel Boussac mengirim pesawat pribadinya ke Montecatini untuk membawa jasad tubuh Dior kembali ke Paris. Sebuah pemakaman diatur untuknya dan pemakamannya dihadiri oleh sekitar 2.500 orang.

Dior dimakamkan di Cimetière de Callian di Var, Prancis. Namun, kematiannya tidak membuat namanya meredup.

Nama Dior muncul dalam beberapa lagu oleh berbagai penyanyi dan penulis lagu. Di antaranya lagu Christian Dior dari Morrisey yang merupakan  dan lagu Eva Peron yang berjudul Rainbow High dari film Evita.

Pada 2010, Kanye West juga merilis sebuah lagu berjudul Christian Dior Denim Flow. Suami Kim Kardashian ini juga menyebutkan nama Dior dalam tiga lagu lainnya yakni Devil in a New Dress, Stronger, dan Barry Bonds.

Tag : christian dior, fashion
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top