Memahami Receptivity Pelanggan

Keikutsertaan pelanggan dalam sebuah produk juga menjadi salah satu cara jitu agar marketing Anda bisa lebih efektif.
Tom Mc Ifle, Founder & Ceo Top Coach Indonesia Penulis Buku Profit Is King | 01 Juli 2018 15:24 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Keikutsertaan pelanggan dalam sebuah produk juga menjadi salah satu cara jitu agar marketing Anda bisa lebih efektif.

Seorang customer pernah bertanya kepada saya seperti ini, “Coach… saya ingin tahu, bagaimana ya caranya membuat marketing saya lebih efektif?” Sebelumnya, perlu dipahami bahwa marketing yang efektif sangat bergantung dari market receptivity.

Maksudnya adalah market mau menerima produk yang kita berikan. Jadi, keikutsertaan pelanggan dalam sebuah produk juga menjadi salah satu cara jitu agar marketing Anda bisa lebih efektif.

Nah, kalau Anda bisa memahami tentang receptivity ini, Anda akan memahami lebih tepat sasaran dalam melakukan program promosi. Apa itu receptivity? Hal itu adalah tingkat penerimaan market terhadap produk.

Kalau ada orang menawarkan produk kemudian yang menerima suka dan tidak menolak sama sekali, ini artinya market tersebut reseptif. Nah, ada juga market yang tidak reseptif.

Bayangkan ketika Anda sedang berada di mal, lalu Anda bukan perokok tetapi ada seorang SPG yang menawarkan rokok kepada Anda, Anda pasti akan menolak.

Kenapa? Karena Anda tidak reseptif. Ternyata kekuatan dari marketing adalah menemukan market yang paling reseptif.

Semakin reseptif, pelanggan semakin suka menemukan produk Anda dan semakin banyak orang mencari produk-produk yang sejenis. Misalnya, Anda adalah penggemar fi lm Star Wars, fanatik sekali dengan Star Wars.

Apa pun yang dikeluarkan dan berkaitan dengan Star Wars Anda pasti akan kejar dan membelinya. Bisa jadi juga kalau Anda penggemar seorang artis tertentu, apa pun yang artis itu gunakan dan mereka pakai, Anda akan mencoba mengikuti gaya mereka. Ini yang membuat strategi sejumlah brand terkenal menggunakan figur yang sudah diterima.

Dengan menggunakan figur yang sudah diterima, mereka mengharapkan produk yang dipasarkan juga bisa diterima. Jadi, ketika fi gur tersebut sudah diterima, kemudian produk bisa di-endorse oleh fi gur tersebut, maka produk ini juga akan mudah untuk diterima.

So, pertanyaan saya adalah hal yang lebih fundamental. Kira-kira apa yang memengaruhi receptivity? Ada dua hal yang akan mempengaruhi receptivity, yakni What dan When. Pertama, what artinya apa yang menjadi selera, kebutuhan dan komunitas.

Jadi, apa yang dibeli oleh customer itu berkaitan dengan selera, kebutuhan, dan komunitas? Semakin jelas produk yang Anda berikan dan berhubungan dengan kebutuhan, semakin reseptif. Orang menjadi kian mudah untuk menerima.

Kebutuhan dalam hal ini maksudnya adalah sesuatu yang berkaitan dengan sandang, pangan, dan papan. Ketika Anda menjual produk yang berkaitan dengan hal tersebut, maka market tidak akan menolak terlalu jauh, karena ini berkaitan langsung dengan kebutuhan.

Contoh lain, di rumah Anda banyak tikus, kecoa, dan nyamuk. Lalu kemudian Anda menjual produk yang berkaitan dengan pembasmi tikus, nyamuk, dan kecoa.

Dijamin mereka akan lebih reseptif. Kenapa? karena berkaitan langsung dengan kebutuhan pokok mereka. Atau misalnya, Anda menjual air mineral. Hal itu karena setiap hari kita membutuhkan cairan di dalam tubuh kita, maka ketika menjual air minum dalam kemasan pasar lebih reseptif.

Selera. Anda tidak mungkin menjual makanan pedas kepada orang yang tidak suka makanan pedas. Tidak mungkin pula menjual makanan manis, kepada orang yang tidak suka makanan manis atau sebaliknya tidak mungkin menjual kopi kepada orang yang tidak suka kopi.

Jadi, mari kita lihat, siapa dan bagaimana customer Anda yang memiliki selera yang banyak? Misalnya, kayaknya banyak banget orang yang ingin makanan pedas, tetapi tidak ada sambal yang pedas banget. Nah, Anda bisa melihat peluang tersebut dan Anda bisa membuat sebuah restoran dengan sambal berbagai macam jenis. Tentu orang-orang yang suka pedas itu sangat-sangat reseptif, mereka akan sangat senang datang di restoran Anda dan bisa jadi produk Anda menjadi sangat-sangat populer. Komunitas. Jika ada komunitas seperti Harley Davidson, kalau ditawarkan dengan produk motor besar, pasti akan mudah diterima.

Bisa juga Anda punya komunitas motor bebek 70, Anda akan sangat suka kalau ditawarkan produk yang berkaitan dengan spare part original bebek 70. Jadi, ketiga hal tersebut harus Anda ingan agar penjualan Anda bisa meningkat dengan cepat.

Kedua, when atau timing. Timing memengaruhi receptivity seseorang. Jika Anda seorang telemarketing, maka Anda harus tahu jam berapa orang mau menerima telepon? Apakah pagi, siang, sore atau malam. Di samping itu, suasana hati atau mood seseorang menentukan receptivity. Namun, ada faktor lain dimana jika Anda menjual pada timing yang tepat maka kecenderungan orang menerima akan sangat-sangat cepat.

Misalnya, Anda menjual kue kering pada hari biasa akan sangat berbeda ketika Anda menjual kue kering saat Lebaran. Pada saat bulan puasa dan Anda jualan kurma, maka orang akan jauh lebih reseptif. Kenapa? Produk itu memang dipakai atau digunakan untuk berbuka.

So, buat teman-teman yang saat ini sedang susah menemukan customer yang positif, customer yang mau membeli produk Anda lebih banyak. Pikirkan tentang receptivity dan cari market yang benar-benar mau menerima produk Anda dengan lapang dada. Cari komunitas, cari orang yang punya kebutuhan, dan cari orang yang punya selera yang sama serta jangan lupa timing-nya harus tepat. Semoga bermanfaat dan memberikan inspirasi atau ide kreatif untuk Anda. Salam Pencerahan.

*) Artikel dimuat di Bisnis Indonesia Weekend edisi cetak Minggu (1/7/2018)

Tag : marketing
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top