Ryan Bertrand, Dari Klub Chelsea Hingga Jadi Pengusaha Fintech

Gempita Piala Dunia 2018 memang telah berakhir melalui kemenangan Prancis. Tapi kurang sreg rasanya jika tak membahas kiprah pemain asal negara berkembangnya sejarah persepakbolaan modern, Inggris.
Renat Sofie Andriani | 17 Juli 2018 11:37 WIB
Ryan Bertrand -

Bisnis.com, JAKARTA – Gempita Piala Dunia 2018 memang telah berakhir melalui kemenangan Prancis. Tapi kurang sreg rasanya jika tak membahas kiprah pemain asal negara berkembangnya sejarah persepakbolaan modern, Inggris.

Meski Inggris gagal membawa pulang lambang supremasi persepakbolaan dunia tersebut, tak berarti keharuman nama besarnya sebagai salah satu negara penghasil bibit muda bertalenta berkurang.

Banyaknya talenta pesepak bola St. George Cross mungkin saja sempat membuat pelatih tim nasional Inggris, Gareth Southgate, bingung menentukan pilihan membawa pemain yang layak membela The Three Lions di Rusia.

Coba tengok Ryan Bertrand. Ia salah satu nama yang 'terpaksa' disisihkan dari daftar skuat utama timnas Inggris di Piala Dunia 2018. Padahal, bek klub Southampton ini dinilai berperan penting bagi permainan timnas dalam laga kualifikasi.

Kegarangan pemain berusia 29 tahun ini bolak-balik ditunjukkan dalam sejumlah klub ternama dan partai-partai bergengsi seperti Liga Champions dan Eropa. Tak hanya di dalam lapangan, permainan apik Bertrand juga diakui di luar lapangan.

Bertrand memang unik. Siapa sangka jika seorang pesepak bola akan menekuni bisnis yang minim bersinggungan dengan dunianya. Bukan properti ataupun hiburan, ia justru terjun ke bidang financial technology (fintech). Berikut sepak terjangnya.

Cita-cita Bersepak Bola

Lahir pada 5 Agustus 1989 di Southwark, Inggris, Ryan Dominic Bertrand tumbuh di bawah asuhan sang Ibu yang berjuang mati-matian membesarkannya seorang diri.

Minatnya terhadap sepak bola berkembang saat ia bersekolah. Meskipun tergila-gila dengan olah raga yang satu ini, Bertrand mampu menunjukkan kepada Ibunya bahwa ia tetap berprestasi secara akademik di sekolah.

Atas alasan inilah, sang Ibu mengizinkannya masuk akademi sepak bola Gillingham pada usia 9 tahun. Walau terbilang masih ingusan, Bertrand kecil sudah bermimpi untuk menjadi seorang pesepak bola profesional.

“Suatu hari, aku mendapat masalah di sekolah. Seorang guru bertanya apa cita-citaku, dan aku menjawab 'menjadi pesepak bola'. Aku rasa dia salah paham sehingga kemudian marah,” cerita Bertrand di kemudian hari.

“Bukan berarti aku tidak menghargai seakan-akan aku tidak membutuhkan pendidikan. Aku rasa ia menginginkanku melamar ke sebuah perusahaan besar, entahlah,” ungkapnya, seperti dikutip Life Bogger.

Menggiring Bola Kulit

Bertrand memperlihatkan potensinya di Gillingham dan berhasil melewati sistem pemula. Pada Juli 2005, beberapa hari sebelum ulang tahunnya ke-16, ia memasuki sistem pelatihan pemula di Chelsea.

Sepanjang tahun 2006-2010, ia kemudian dipinjamkan ke beberapa klub ternama seperti Norwich City, Reading, dan Nottingham Forest. Debut penuhnya di Chelsea sendiri dilakukan pada 20 April 2011.

Pada 15 Juli 2011, Bertrand akhirnya menandatangani kontrak selama empat tahun dengan The Blues. Di klub ini, ia kerap bertindak sebagai pemain cadangan untuk seorang Ashley Cole yang ia kagumi secara pribadi.

Pada 19 Mei 2012, ia berhasil mencatatkan dirinya sebagai pemain pertama yang melakukan debut pada pertandingan final Liga Champions. Saat itu Chelsea berhadapan sekaligus menundukkan raksasa Jerman, Bayern Munchen, dalam laga dramatis.

Terlepas dari tampilan gemilang yang disuguhkan, ia harus berpikir ulang tentang masa depannya di klub itu. Kedatangan Jose Mourinho sebagai pelatih pada 2013 menumpulkan peluang Bertrand masuk dalam lini utama klub.

Pada 2015, Chelsea melepas Bertrand ke Southhampton dengan nilai transfer 10 juta poundsterling. Ia pun tak menyia-nyiakan kepercayaan ini.

Bertrand tampil cemerlang bersama klub yang dijuluki The Saints tersebut, bahkan beberapa kali dipanggil masuk skuat timnas Inggris sebagai salah satu bek Inggris yang patut diperhitungkan.

Mendirikan Perusahaan Fintech

Bersama rekan setimnya di Gillingham, Louis Bell, dan Matthew Kirkham, Bertrand mendirikan Silicon Markets pada 12 Mei 2015. Ini adalah sebuah perusahaan broker di bidang financial technology (fintech) yang menawarkan teknologi artificial intelligence (AI) kepada para pedagang dan investor ritel.

Bisnis ini memungkinkan investor ritel mendapatkan manfaat dari alat investasi tingkat tinggi, sehingga mengurangi kesenjangan yang lebar antara investor institusi dan ritel.

Rata-rata investor ritel biasanya sangat dirugikan oleh kurangnya alat investasi yang efektif yang umumnya hanya tersedia untuk 'investor yang lebih besar'.

“Aku mulai mengeksplorasi pasar finansial di usia 18 tahun, ketika masih mengawali karir di Chelsea,” tuturnya, dikutip Merchant Life. Menurutnya, Silicon Markets memiliki strategi bisnis baru yang revolusioner berdasarkan terobosan teknologi.

Tak cuma itu, Bertrand juga memiliki sebuah perusahaan yang memproduksi emoji-emoji berkaitan dengan sepak bola, bernama Footiemoji, bersama mantan kapten klub Chelsea, John Terry.

Tampaknya Bertrand benar-benar telah berpikir matang dan bersiap diri jika sewaktu-waktu harus mengakhiri karir profesionalnya bersepak bola.

“Aku ingin melawan pola pikir pemain sepak bola pada umumnya yang mungkin ketika mencapai pertengahan usia 30-an, berhenti dan kemudian berpikir 'apa yang akan saya lakukan sekarang?'” katanya, dikutip The Sun.

Nama Besar untuk Kebaikan

Pengalaman hidup sederhana ditopang kerja keras sang Ibu membuat Bertrand memahami arti perjuangan dan berbagi. Sebisa mungkin ia ingin menggunakan nama populernya sebagai pesepak bola untuk membantu orang-orang di dekatnya yang mengalami kesulitan.

“Itulah yang aku pikirkan. Aku bukan pesepak bola terbesar di dunia. Tapi aku memiliki semacam profil jadi aku hanya ingin melihat apa yang bisa dilakukan untuk membantu,” jelas Bertrand, dikutip The Independent.

Pada 2107, saat kebakaran hebat melanda blok komunitas Grenfell di London dan menewaskan puluhan penghuninya, Bertrand lantang menyerukan bantuan untuk para korban yang terdampak.

“Ada begitu banyak drama di dunia dan saya tidak tahu apakah itu karena dunia sebenarnya lebih berbahaya di tahun 2018 atau karena peran teknologi dan media. Tetapi itu [kebakaran Grenfell] adalah peristiwa yang aku rasa dapat bantu,” terangnya, dikutip Versus.

“Anda tidak dapat membantu semua peristiwa, tetapi kejadian itu terasa dekat dan aku merasa memiliki hubungan dengan orang-orang ini. Itu adalah kondisi hidup ketika aku dibesarkan. Aku ingin melakukan lebih banyak dan ikut bertanggung jawab.”

Ia tidak melihat dirinya sebagai teladan. Namun ia tak segan melakukan sesuatu untuk hal yang lebih baik. “Aku ingin dapat menggunakan diri sendiri atau siapa saja yang aku tahu untuk membuat perbedaan.”

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pebisnis

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top