Ketua NU Cabang Katolik, Siapa Itu?

ungkapan-ungkapan seperti ‘orang NU cabang Katolik’ atau ‘orang NU cabang Buddha' telah muncul di era Gus Dur (Abdurahman Wahid), sebagai respons atas wajah Islam yang bersahabat, damai, dan jauh dari kekerasan.
M. Taufikul Basari | 06 Agustus 2018 12:30 WIB
Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo (kedua kiri), disaksikan Direktur Perum Bulog Imam Subowo (dari kiri), Bupati Bojonegoro Suyoto dan Founder & Chairman MarkPlus Inc Hermawan Kertajaya menyampaikan presentasinya mengenai Ayo Bangun Desa di ajang The 5th Annual Jakarta Marketing Week 2017, di Jakarta, Selasa (9/5). - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA – Pada kenyataannya memang tidak ada Ketua NU Cabang Katolik, namun sebagai sebuah ungkapan atau kiasan beberapa kali terlontar sebagai bentuk keakraban.

Bahkan, ungkapan-ungkapan seperti ‘orang NU cabang Katolik’ atau ‘orang NU cabang Buddha' telah muncul di era Gus Dur (Abdurahman Wahid), sebagai respons atas wajah Islam yang bersahabat, damai, dan jauh dari kekerasan. Ada juga alasan bahwa orang tersebut dekat dan menerapkan nilai-nilai yang sejalan dengan Nahdatul Ulama (NU) sekalipun beda agama.

Nah, salah satu orang yang disebut ‘Ketua NU Cabang Katolik’ adalah guru marketing Tanah Air Hermawan Kartajaya. Lantas, siapa yang menjulukinya, dan kenapa?

Dalam buku Citizen 4.0: Menjejakkan Prinsip-Prinsip Pemasaran Humanis di Era Digital, Hermawan yang seorang Katolik bercerita soal kedekatannya dengan tokoh Islam, Komarudin Hidayat dan Said aqil Siradj. Dari dua orang inilah ia mendapat julukan ‘Ketua NU Cabang katolik.’

Salah satu tokoh favorit dan jadi inspirasi Hermawan sendiri adalah Nabi Muhammad SAW yang dinilai sebagai sosok pedagang yang jujur, transparan dan sangat ramah kepada siapa saja, termasuk para pesaingnya.

“Nabi Muhammad SAW mengajarkan berdagang itu haruslah jujur, tidak menjual janji berlebihan, terbuka atas kekurangan dari produknya, tidak memainkan timbangan, serta memisahkan kurma yang basah dengan kurma yang kering—dengan kata lain, produk yang bagus tidak dicampur dengan produk berkualitas rendah demi meraup keuntungan yang lebih banyak,” tulisnya, seperti Bisnis kutip Senin (6/8/2018).

Buku Hermawan Marketing 3.0 yang ditulis bersama Philip Kotler dan Iwan Setiawan dan telah diterjemahkan ke dalam 27 bahasa diklaim sebagai hasil inspirasi dari kejujuran Rasulullah. Seminar Philip Kotler yang membahas Marketing 3.0 di Arab Saudi pun disukai Mohammed bin Laden karena sejalan dengan Islam.  

Namun, bukan hanya kalangan Muslim yang menilai buku tersebut sejalan dengan spiritualitasnya. Di Meksiko yang mayoritas katolik, di Bali yang dominan Hindu, hingga kalangan Buddha pun beranggapan nilai-nilai yang dibawa sejalan dengan spiritualitas mereka.

Buku Citizen 4.0: Menjejakkan Prinsip-Prinsip Pemasaran Humanis di Era Digital sendiri terbit bertepatan dengan ulang tahun ke-70 sang guru marketing pada 2017.

“Buku terbaru Pak Hermawan kali ini, Citizen 4.0, memberi perspektif yang lebih luas dari pakem dunia marketing,” ujar Ignasius Jonan yang komentarnya disertakan dalam buku tersebut. Jonan adalah murid Hermawan saat sekolah di SMAK St.Louis, Surabaya.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
marketing

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top