Hamdi Ulukaya, di Antara Turki dan Yogurt Chobani

Hamdi Ulukaya mungkin merasa lega telah puluhan tahun meninggalkan negeri asalnya. Saat dunia bisnis Turki sedang bergulat dengan hantu krisis keuangan, Ulukaya sukses mengembangkan kerajaan yogurt di Amerika Serikat (AS)
Renat Sofie Andriani | 29 Agustus 2018 11:07 WIB
Hamdi Ulukaya - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Hamdi Ulukaya mungkin merasa lega telah puluhan tahun meninggalkan negeri asalnya. Saat dunia bisnis Turki sedang bergulat dengan hantu krisis keuangan, Ulukaya sukses mengembangkan kerajaan yogurt di Amerika Serikat (AS)

Tak pernah terpikir sebelumnya oleh Ulukaya untuk pindah ke Amerika, apalagi memulai bisnis yogurt bernama Chobani yang bakal menjadikannya miliarder kenamaan dunia. Jalan hidupnya bisa saja berbeda.

Bisa jadi ia terjun ke dunia politik di Turki, bisnis pembuatan keju milik keluarga, atau malah menikahi gadis kampung yang direstui ibunya. Tak sekali dua kali pengandaian ini terlintas dalam benaknya

Namun, pengalaman di masa muda berurusan dengan pihak berwenang Turki karena membela hak-hak suku Kurdi dan menyuarakan pandangan politis mengguncangnya. Ulukaya tahu bahwa sejak saat itu, kehidupannya di Turki akan penuh risiko.

Tangan Tuhan pun membawanya ke Amerika Serikat. Ia menjadi seorang antikapitalis muda tanpa tujuan yang berimigrasi ke AS hanya karena membutuhkan tempat tujuan.

Melalui ketabahan, tekad, dan pengetahuan mendalam, anak muda tersebut berhasil membangun sebuah merek besar yang pada akhirnya mendominasi industri yogurt Yunani di negeri Paman Sam, mengalahkan konglomerat internasional seperti Danone dan General Mills.

Tetapi Ulukaya adalah lebih dari sekadar kesuksesan. Dia telah membentuk kepemimpinan bisnis jenis baru, yang memadukan daya saing dengan rasa belas kasih yang luar biasa kuat.

Putra Kurdi

Ulukaya lahir pada 26 Oktober 1972 di tengah keluarga petani etnis Kurdi di Erzincan, sebuah desa kecil di Turki. Masa kecilnya dilewatkan dengan tumbuh di antara para gembala yang hidup nomaden. Mereka kerap pergi ke gunung dengan kawanan domba, kambing, dan sapi, kemudian membuat yoghurt dan keju. 

Dilansir dari Fast Company, pada awal 1990-an, Ulukaya memilih ilmu politik di Ankara University. Sebagai seorang putra Kurdi, etnis minoritas terbesar di Turki yang seringkali berkonflik dengan pemerintah, ia tertarik pada gerakan untuk membela hak-hak Kurdi dengan ambil bagian dalam demonstrasi maupun mempublikasikan surat kabar bernuansa politik.

Meski Ulukaya pribadi selalu mengingkari kekerasan dan tidak terlibat dalam kelompok ekstremis Partai Pekerja Kudistan (PKK), tetap saja keberadaannya menarik perhatian pihak berwenang Turki yang, hingga saat ini, menindak keras para aktivis.

Banyak aktivis yang ditangkap pihak berwenang tidak kembali pulang. Ulukaya sadar benar akan hal ini. Beruntung, pihak berwenang tidak melihatnya sebagai ancaman berarti dan melepaskannya.

Namun insiden itu membuatnya terguncang, dan dia tahu bahwa sejak saat itu, kehidupan di Turki, setidaknya baginya, akan berbahaya. Dia pun memutuskan untuk meninggalkan tanah kelahirannya.

Jadi Imigran AS

Tujuan pertama yang dipikirkannya adalah Eropa. Namun, pendapat seseorang mengubah pemikirannya untuk pergi ke Amerika Serikat, negara kapitalis yang pernah dinilainya sebagai sumber segala permasalahan di dunia.

Empat bulan kemudian, pada Oktober 1994, Ulukaya pun tiba di New York City. Saat itu ia hanyalah seorang pria muda kurus berbekal sebuah koper kecil dan uang senilai US$3.000 untuk biaya hidup

Tujuannya saat itu adalah mendalami pendidikan bisnis di Adelphi University Long Island. Praktis sebagai seorang pendatang asing, ia hampir tidak bisa berbahasa Inggris.

“Saya sangat takut. Saya sadar bahwa ini akan menjadi sangat, sangat sulit. Namun, pada saat yang sama saya juga merasa bersemangat,” kenang Ulukaya di kemudian hari.

Memulai Bisnis Yogurt

Jika bukan karena sang Ayah, belum tentu Ulukaya akan kembali tertarik dan memasuki bisnis produk olahan susu. Suatu hari, sang Ayah mengunjunginya di AS dan mendorongnya untuk membuat keju seperti yang dikerjakan oleh keluarga mereka di Turki.

Ulukaya pun mengalami perjuangan berat selama dua tahun berikutnya. Bukan perkara mudah baginya untuk membangun bisnis di negara asing. Ia harus bergulat dengan emosi pribadi dan dinamika bisnis, termasuk bagaimana membiayai produksi.

Kemudian datanglah salah satu momen paling menentukan dalam hidupnya. Ia membaca iklan penjualan pabrik yogurt lengkap dengan fasilitasnya senilai US$700.000. Pabrik lama yang akan ditutup itu ternyata dimiliki Kraft.

Ulukaya bergegas menghubungi pengacaranya dan bersikeras untuk membeli pabrik itu, terlepas dari berbagai risiko yang dapat dihadapinya.

“Saya tidak tahu apa itu, tapi saya merasa seperti bisa melakukan sesuatu dengan pabrik itu,” ungkap Ulukaya, seperti dilansir dari New York Times. Ia pun membulatkan tekad dan mewujudkan keinginannya. Ia mengajukan pinjaman dan pada 17 Agustus 2005, Ulukaya resmi memiliki pabrik pertamanya.

Chobani

Dilansir dari Inc., Ulukaya menghabiskan 18 bulan berikutnya untuk mencoba menemukan resep yogurt yang tepat. Tak main-main, ia khusus membawa seorang ahli yogurt dari Turki dan bolak-balik pergi ke Yunani.

Pada Oktober 2007, perusahaan mendapat pesanan pertama untuk yogurtnya dari sebuah toko di Long Island. Oleh Ulukaya, yogurtnya dinamai 'Chobani' yang dalam bahasa Turki berartikan 'gembala'.

Rasa unik yogurt Chobani disukai publik AS. Sepanjang 2007-2012 saja, nilai penjualan yogurt Chobani melonjak menjadi US$1 miliar. Yogurt Chobani telah tumbuh menjadi brand yogurt Yunani terlaris di AS.

Metabolisme Chobani yang tinggi memungkinkan Ulukaya untuk membangun pabrik Twin Falls di Idaho, pabrik yogurt terbesar di dunia, dengan biaya US$450 juta. Pabrik itu mendorong akselerasi produk-produk baru Chobani di pasar sekaligus meninggalkan para pesaingnya.

Dari hanya segelintir pekerja, termasuk sejumlah pegawai lama Kraft, Chobani semakin berkembang dan telah mempekerjakan ribuan orang hingga saat ini.

Apresiasi untuk Pekerja

Dukungan dari para pekerja diapresiasi besar olehnya. Ia telah meluncurkan program untuk memberikan hingga 10% dari ekuitas Chobani kepada para pekerjanya dan mengatur hak cuti selama enam pekan bagi para orangtua yang baru memiliki anak.

Tidak ada serikat pekerja atau kelompok pekerja yang mendesaknya, kebijakan tersebut murni diinginkan sendiri oleh Ulukaya. Ia juga telah mempekerjakan lebih dari 400 pengungsi, suatu langkah berani di tengah kebijakan imigrasi pemerintahan Presiden Donald Trump yang kontroversial.

“Sekitar 30% pekerja Chobani adalah imigran atau pengungsi. Lebih dari 20 bahasa digunakan di pabrik-pabrik kami. Ini bukan tentang politik. Ini adalah tentang kesempatan kerja dari komunitas kami,” terang Ulukaya.

Ia percaya begitu pengungsi mendapatkan pekerjaan, itulah saat mereka berhenti menjadi pengungsi. Menurutnya, setiap orang harus dibiarkan untuk menjadi dirinya sendiri.

“Jika Anda memiliki lingkungan budaya yang menerima semua orang untuk menjadi diri mereka sendiri, segala sesuatu akan berjalan baik,” tambahnya.

Ulukaya yang Kaya Hati

Salah satu impian terbesarnya adalah menjadikan perusahaan yang dibangunnya tempat di mana setiap pekerja adalah mitra, dan mereka berhak mendapat sebagian dari apa yang telah mereka bantu bangun.

“Jika Anda menghasilkan US$7 atau US$8 atau US$ 9 per jam, Anda tidak dapat memiliki rumah. Anda tidak dapat memiliki makanan bergizi untuk anak-anak Anda, apalagi berlibur. Perhitungan itu tidak masuk akal,” ujar Ulukaya.

Ia pun berupaya melihatnya dari perspektif yang lebih besar. Khusus untuk komunitas pedesaan, ia tidak melihat cara lain untuk menemukan solusi jangka panjang daripada peningkatan bisnis, untuk pekerja dan terutama untuk komunitas itu sendiri.

Pandangan itu diperdengarkannya di depan para pemimpin bisnis dalam Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, pada Januari tahun lalu. Ia menantang para pemimpin bisnis lainnya untuk mengambil lebih banyak tanggung jawab.

“Anda harus memimpin dengan memberi contoh. Chobani dapat menginspirasi cara bisnis baru, cara kerja yang baru, cara baru untuk berinovasi,” ucap Ulukaya.

Terlepas dari kekayaan dan kesuksesan yang diraihnya, semangat mantan aktivis asal Turki ini tampaknya tetap kuat seperti sebelumnya.

“Di antara peternakan domba di pegunungan, yang paling dihormati adalah nilai-nilai masyarakatnya. Anda memberi, Anda melindungi. Hal nomor satu bagi saya adalah saya selalu ada, bahu-membahu, di garis depan, di pabrik, atau di jalan. Kita bersama.”

Tag : tokoh
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top