Public Relations Hadapi Distrupsi, Begini Gambarannya

Public relations di era sekarang ini harus proaktif memberikan masukan ke organisasi dan tidak lagi hanya sekedar reaktif ketika krisis informasi terjadi.
Feri Kristianto | 05 November 2018 13:45 WIB
International Public Relations Summit bertema Shifting the Power of Strategic Communication in the Era of Digital Economy.

Bisnis.com, MANGUPURA – Public relations di era sekarang ini harus proaktif memberikan masukan ke organisasi dan tidak lagi hanya sekedar reaktif ketika krisis informasi terjadi.

Tren perubahan perilaku publik karena didorong digitalisasi membuat stakeholder memiliki beragam sikap, hal itu hanya bisa disikapi apabila public relations (PR) tidak sekadar reaktif.

Founder International Public Relations Summit (IPRS) Elizabeth Goenawan Ananto menekankan fungsi PR merupakan jembatan antara kepentingan organisasi dengan masyarakat.

"Harus proaktif jangan ketika krisis baru reaktif. PR harus berikan masukan informasi dari opini publik ke perusahaan. Dia menjadi jembatan untuk buat satu harmoni supaya tidak terjadi gap antara yang diinginkan perusahaan, NGO, atau organisasi dengan masyarakat," jelasnya di IPRS 2018, Senin (5/11/2018).

Menurutnya, mau tidak mau PR harus berubah dan organisasi wajib terlibat memberdayakan kualitasnya. Elizabeth menegaskan PR era sekarang tidak cukup hanya menguasai ilmu kehumasan. Jika ingin berkembang, harus meningkatkan kapasitasnya dengan membekali diri dengan multidisiplin ilmu salah satunya seperti geo politik.

Hal itu penting supaya dapat memberikan kontribusi positif bagi organisasi tempatnya bekerja. Selain upgrade kapasitas ilmu, dia menekankan perlunya PR bekerja sama dengan IT sehingga informasi dapat disebarkan secara cepat sebagai satu tim, khususnya di era digital sekarang.

"Sebetulnya core competence itu di PR untuk bicara value organisasi. Namun, tentu saja harus kerja sama dengan yang kuasai IT sehingga tidak berjalan sendiri-sendiri. Ada informasi yang demikian cepat itu harus diantisipasi secara tim," tuturnya

Diakuinya, dunia kehumasan sekarang berkembang tetapi belum dimaksimalkan.

Elizabeth menuturkan IPRS 2018 dengan tema Shifting the Power of Strategic Communication in the Era of Digital Economy dapat memberikan perkembangan kehumasan di internasional.

Ajang ini diharapkan memberikan standar baru kehumasan di Indonesia sehingga memiliki ciri khas dan standar khusus. Selama ini, menurutnya PR belum diberikan peran dalam memberikan kontribusi nyata bagi perusahaan.

"Nah dengan adanya IPRS diharapkan paling tidak memberikan informasi bagaimana caranya ini lebih didayagunakan di organisasi," tuturnya.

Disruption atau disrupsi merupakan kata yang menggambarkan perubahan fundamental bisnis dan cara berbisnis. Misalnya bila dulu bisnis kerap dibangun berdasar kepemilikan hulu hingga hilir, kini muncul bisnis dengan ide dasarnya berbagi peran, bergotong royong.

Tag : humas, public relations
Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top