Pesantrenpreneur, Saat Dakwah dan Bisnis Satu Atap

Citra pondok pesantren saat ini telah bergeser. Dari yang dahulu terkesan tradisional, bahkan kumuh, kini menjadi lembaga modern yang mengadopsi kurikulum yang sejalan dengan zaman, termasuk menggulirkan semangat kewirausahaan.
Aprianus Doni Tolok, Asteria Desi Kartika Sari, Eva Rianti | 16 November 2018 13:08 WIB
Santri mendapatkan pelayan petugas dalam Bank Wakaf Mikro Al Fithrah Wava Mandiri di Pondok Pesantren As Salafi Al Fithrah, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (9/3/2018). - ANTARA/Umarul Faruq

Bisnis.com, JAKARTA -- Citra pondok pesantren saat ini telah bergeser. Dari yang dahulu terkesan tradisional, bahkan kumuh, kini menjadi lembaga modern yang mengadopsi kurikulum yang sejalan dengan zaman, termasuk menggulirkan semangat kewirausahaan.

Prestasinya pun kian meningkat, tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga internasional. Dari yang menghasilkan para hafiz, atau penghafal Alquran, hingga memenangi kompetisi robot di Malaysia seperti yang ditorehkan siswa Pesantren Bahrul Ulum Jombang.

Sejalan dengan pergeseran tersebut, pertumbuhan pondok pesantren juga kian pesat. Misalnya, Pondok Pesantren Daarul Quran yang didirikan oleh dai kondang, Yusuf Mansur atau Pondok Pesantren Daarut Tauhid yang dicetuskan oleh Abdullah Gymnastiar (Aa’ Gym).

Bahkan, Yusuf Mansur berani membuka pesantren dengan pembayaran dolar AS pada 2007 untuk menyasar kalangan kelas menengah. “Waktu itu saya percaya bahwa selama ini pesantren kurang berani menyasar golongan middle up. Pesantren itu selalu identik jelek, kumuh, biasa-biasa saja, flat, horizontal, enggak ada yang vertikal ke atas,” ujarnya.

Model subsidi silang diterapkan. Pemilik usaha Paytren itu menyebut saat ini ada 8.000 pesantren yang digratiskan, dengan masing-masing menampung 50 – 400 santri. Biaya yang ditanggung a.l. makan, minum, vitamin, pakaian, snack, jalan-jalan, seragam, hingga asrama. Bahkan, jika siswa memiliki prestasi bagus bisa sekolah hingga jenjang sarjana, gratis.

Sementara itu, pesantren yang berbayar mencapai 100 unit. Adapun total santri yang belajar di ponpesnya mencapai lebih dari 1 juta siswa.

Pendiri Tahfidz Daarul Qur’an ini pun berencana membuat franchise pesantren dengan target  100 kota di seluruh Tanah Air dan hadir hingga mancanegara. Saat ini, Yusuf mengklaim sudah memiliki cabang di 5 benua dan yang paling terakhir di Irlandia.

Biaya mahal ternyata tak menyurutkan minat orang menyekolahkan anak ke ponpes. Yusuf Mansur menyebut, ponpes milik temannya di Tangerang Selatan uang masuknya mencapai Rp 120 juta. “Yang ngantri setiap tahun ada 800 orang.”

Menurutnya, orang tua ikhlas mengeluarkan biaya mahal lantaran tahu dana tersebut digunakan pula untuk menyubsidi santri-santri lain yang tidak mampu.

Pertumbuhan pesantren dan citranya yang terus naik ini juga dilirik oleh Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) lewat program penguatan ekonomi rakyat berbasis pesantren atau pesantrenpreneur.

Program yang juga menggandeng Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) itu menggarap potensi pembelajaran kewirausahaan yang bisa dilakukan santri, a.l. dengan mendirikan minimarket Ummart yang jadi jaringan bisnis dan inkubasi kewirausahaan para santri.

Ketua Bidang Organisasi BPP HIPMI Anggawira melihat ada potensi pengembangan ekonomi lewat pesantren yang jadi lembaga pendidikan penting umat muslim di Indonesia. Sayangnya, selama ini potensi besar itu belum dikelola secara maksimal.

“Untuk itu HIPMI bersama dengan stakeholder lainnya, dalam hal ini pemerintah, melakukan beberapa langkah. Paling tidak awalnya kita mensosialisasikan diri bahwa lulusan pesantren ini bukan hanya sifatnya keagamaan tetapi bisa berkembang ke wilayah entrepreneur,” katanya.

Diakuinya tak mudah memasukkan orientasi kewirausahaan ke pesantren. Namun, dia yakin dengan mengubah orientasi atau mindset di dalam pesantren itu akan bermanfaat bagi masa depan para santri.

Pilihan untuk membuka minimarket yang dikelola santri jadi salah satu pintu  masuk. Program Pesantrenpreneur juga akan membentuk kelompok-kelompok kerja untuk memberikan pembinaan lewat business coaching dan semacam akademi wirausaha.

Wakil Ketua Umum Kadin DKI Jakarta Sarman Simanjorang mengakui dampak dari Program Pesantrenpreneur tidak akan langsung, tetapi baru akan terasa setelah 4 tahun ke depan.

Sarman menilai bahwa Indonesia akan memasuki era bonus demografi pada 2020 dengan 60% penduduk berada di usia produktif. Peluang itu justru bisa jadi bumerang jika generasi muda hanya mengandalkan kemampuan sebagai pekerja, karena persaingan jadi sangat ketat.

“Makanya mulai sekarang mulai banyak diperkenalkan supaya mereka banyak menjadi calon pengusaha baru. Apabila punya kreatifitas menjadi pengusaha-pengusaha baru maka dapat memacu pertumbuhan ekonomi kita yang luar biasa,” kata Sarman.

Tantangannya, lanjut Sarman, adalah permodalan. Ia berharap pemerintah bisa turun tangan  untuk membantu masalah permodalan kepada pesantren maupun santri yang berniat jadi pengusaha.

DISAMBUT BAIK

Kehadiran Program Pesantrenpreneur disambut baik, oleh pengusaha maupun kalangan pondok pesantren sendiri. Pasalnya, pilihan karier santri selepas dari pondok pesantren jadi lebih beragam.

Pemimpin Pesantren Ma’had Imam Syafi’i, Sofyan Chalid Ruray mengatakan, dengan menjadi pengusaha maka lulusan pesantren akan lebih banyak punya waktu untuk berdakwah, dibandingkan jika jadi karyawan.

“Bagaimanapun, tugas utama mereka adalah berdakwah. Dengan memiliki penghasilan dari bisnis sendiri maka mereka akan lebih mandiri dan memiliki waktu yang cukup banyak untuk berdakwah.”

Selain itu, dengan memiliki usaha yang mandiri maka akan menjauhkan diri para santri mengandalkan umat untuk menghidupi mereka karena dakwahnya akan jadi kurang ikhlas. Hanya saja, lanjutnya, jangan sampai usaha atau bisnis mengambil porsi berdakwah.

Lebih dari itu, Islam juga memberikan banyak pedoman dalam berbisnis, sehingga akan memberi peluang pada perkembangan usaha syariah di Indonesia. Nabi Muhammad, sebagai panutan umat Muslim, juga seorang entrepreneur yang berhasil pada masanya.

Pemimpin Pesantren Daarut Tauhiid Aa’ Gym menyebut bahwa sudah seyogyanya pesantren mengajarkan kepemimpinan dan jiwa entrepreneur seperti yang dicontohkan Nabi, selain mengajarkan ilmu agama.

“Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang paling banyak manfaatnya. Bagi seseorang berjiwa entrepreneur dia bisa menciptakan manfaat sebanyak mungkin, dan ini ibadah yang sangat penting,” ujarnya.

Santri yang dibekali kewirausahaan akan berdampak positif atas citra pesantren lantaran masyarakat akan melihat hadirnya bisnis yang berlandaskan akhlak yang baik dan nilai-nilai moral.

“Ini akan bermanfaat, karena itulah yang dilakukan Rasulullah ketika hijrah, yang pertama dibangun adalah masjid, yang dibangun kedua adalah mempersaudarakan seluruh masyarakat di Madinah berbagai elemen, dan yang ketiga adalah membangun perekonomian.”

Ketua Asosiasi Usaha Mikro Kecil Menengah Indonesia (Akumindo) M. Ikhsan Ingratubun mengatakan, ke depan para santri akan lulus dengan bekal kemampuan berdakwah sekaligus entrepreneurship.

Ikhsan yakin Program Pesantrenpreneur berefek sangat besar bagi pengembangan ekonomi kerakyatan. Pasalnya, program tidak akan berkutat hanya di dalam pondok pesantren, tetapi bergulir ke masyarakat sekitar.

Sumber : Bisnis Indonesia Weekend

Tag : entrepreneur, pesantren
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top