Syafruddin: Sang Pewaris Jusuf Kalla

JK dan Syafruddin juga senantiasa muncul dengan tangan dingin mewarnai lembaga atau bidang yang dikelolanya.
| 27 Desember 2018 20:21 WIB
Jusuf Kalla dikawal Syafruddin.

Bisnis.com, JAKARTA – Tokoh-tokoh datang dan pergi seperti mengalirnya air dan hembusan angin di palagan politik Indonesia yang berpusat di tanah Jawa.

Ada yang hilang begitu undur diri dari kekuasaan, ada yang bertahan dan meninggalkan nama yang harum jauh setelah tak lagi disorot kamera media massa. Mereka datang dari berbagai daerah, lalu menjadi tokoh di ibu kota yang kehidupan politiknya begitu centang perenang.

Salah satunya adalah Makassar, tanah yang melahirkan banyak tokoh di negeri ini, dari sebelum kemerdekaan sampai era pembangunan ini. Sebut saja mantan Menhankam Pangab Jenderal M Jusuf, Presiden RI ke-3 BJ Habibie, dan yang sampai kini masih anteng di singgasana kekuasaan adalah Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Jenderal M Jusuf, satu dari tiga pelaku sejarah Supersemar yang menjadi tonggak peralihan kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto adalah lelaki yang berbicara dengan dialek Bugis nan kental. Ia seorang legenda di militer. Namanya sungguh populer di kalangan prajurit karena di masanya sebagai panglima, tentara dan polisi berpangkat rendah sampai tinggi, sejahtera di semua lini. Ia rajin mengunjungi prajurit, bertanya sampai ke urusan sekolah anak dan usia kandungan istri.

Soeharto nyaris kalah populer, dan kabar yang beredar, M Jusuf terjungkal karena telah menjadi matahari yang sama terangnya dengan Sang Presiden.

Tokoh penerus Jenderal M. Jusuf adlah Jusuf Kalla. Dan mereka memang begitu dekat. M. Jusuf pernah menjadi Menteri Perindustrian, Jusuf Kalla pun begitu. M. Jusuf memulai program mobil rakyat yang terjangkau, bekerja sama dengan Toyota dalam bentuk produksi mobil Toyota Kijang dan NV Hadji Kalla, perusahaan JK adalah penyalur besar mobil buatan Toyota di Indonesia timur.

Perjalanan Jenderal Jusuf dan Jusuf Kalla bertaut dan beriringan. Sampai-sampai, suatu ketika, JK yang sudah jadi seorang menteri berkunjung ke rumah Jenderal Jusuf dan berkelakar: “Saya sudah jadi seorang Menko Kesra, tapi pangkat saya di sini masih ajudan,” kata JK, menunjukkan rasa hormatnya.

M. Jusuf meninggal pada tahun 2004, ketika JK baru naik menjadi Wakil Presiden mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Setelah itu, JK mewarnai dunia politik elite Indonesia sampai hari ini. Dua kali JK menjadi Wakil Presiden dengan Presiden yang berbeda.

Begitulah. Kini, JK di tahun terakhir berkiprah di kekuasaan. Dan kita pun bertanya, siapa setelah JK? Siapa pewaris lelaki kelahiran Bone itu dalam kiprah politik dan kekuasaan?

Sesungguhnya, tak sulit menemukan jawabannya. Melihat orang-orang yang lalu lalang di sekitar hidup dan kiprah JK di panggung kekuasaan, kita akan menemukan satu nama: Syafruddin, seorang jenderal polisi, menteri, pembina olahraga berprestasi, pengurus dewan masjid dan berbagai predikat lainnya.

Jika JK menyebut diri sebagai ajudan Jenderal M. Jusuf, maka Syafruddin benar-benar adalah ajudan Jusuf Kalla semasa ia jadi Wakil Presiden periode 2004-2009. Syafruddin belajar banyak, sesuai gaya dan tindakan, sejalan pikiran dan tanggung jawab, terutama: kemampuan menemukan jalan keluar atas pelbagai persoalan yang lama menjadi ciri khas Jusuf Kalla. Keduanya pernah menjadi tubuh dan bayangan. Di mana ada JK, di situ ada Syafruddin.

Keduanya tak henti berjalan beriringan. Ketika JK jeda sebagai pejabat dalam kurun 2009-2014, Jenderal Syafruddin yang telah meniti karirr di kepolisian sebagai Kapolda atau Kepala Lemdiklat Polri, tetap bersamanya. Di luar markas polisi, Syafruddin membantu JK di Dewan Masjid Indonesia sebagai wakil ketua umum.

Ketika JK naik lagi menjadi Wakil Presiden mendampingi Presiden Joko Widodo, Syafruddin tetap berkisar di sekitarnya. Ia naik menjadi Wakil Kepala Polri dengan pangkat jenderal berbintang tiga. Bahkan sejak Agustus 2018 lalu, Syafruddin diangkat menjadi Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi.

Sejauh itu, publik melihat begitu banyak kemiripan dalam diri JK dan Syafruddin. Semasa di Makassar dulu, JK adalah pembina klub sepakbola elite Indonesia, Makassar Utama. Saat ini, Syafruddin adalah Ketua Dewan Pembina klub Persija Jakarta yang baru saja menjuarai Liga I.

Syafruddin pula yang sukses memimpin kontingen Indonesia sebagai Chef de Mission menduduki peringkat empat Asian Games 2018, sejarah baru dalam keikutsertaan Indonesia di pesta olahraga bangsa-bangsa Asia itu.

JK dan Syafruddin juga senantiasa muncul dengan tangan dingin mewarnai lembaga atau bidang yang dikelolanya. Semasa menjadi Menko Kesra, JK bersinar dengan kiprahnya menjadi Juru Damai konflik Ambon dan Poso.

Kantor Menko Kesra yang sebelumnya jauh dari sorotan publik menjadi bintang media. Syafruddin dalam hitungan bulan sebagai Menteri PANRB telah membawa kementerian yang sebelumnya senyap itu jadi sorotan pemberitaan.

Gaya Syafruddin juga mengingatkan pada JK: begitu pandai merasionalkan sebuah peristiwa dengan angka dan data yang telak.

Ketika ada desakan kepada pemerintah untuk segera mengangkat para honorer sebagai Pegawai negeri Sipil dalam momen perekrutan ASN besar-besaran tahun 2018, Syafruddin muncul dengan jawaban: semua harus ikut tes dan menaati segenap aturan yang berlaku.

Ia menyebutkan, dari 4,35 juta PNS di seluruh Indonesia, setidaknya 1,1 juta di antaranya atau lebih seperempatnya, berasal dari pegawai honorer. “Bayangkan, 26 persen PNS kita diangkat tanpa melalui seleksi. Ini tidak boleh lagi dibiarkan. Kita mencari PNS dari talenta-talenta terbaik Indonesia. Bangsa ini harus berubah kalau ingin bisa bersaing dengan bangsa-bangsa lain,” katanya kepada media massa, kepada Presiden Joko Widodo, kepada masyarakat, kepada siapa pun yang menemuinya.

Dulu ajudan, sekarang jadi menteri, dan JK tetap sebagai Wakil Presiden. Dan semua tahu, JK begitu ketat mencari orang terdekatnya. Syaratnya tak tertulis tapi jelas belaka: punya karakter dan pemikiran yang mirip dengan dirinya. Dan itulah yang ditemukan JK dalam diri Syafruddin.

Sampai sekarang pun, Syafruddin masih mendampingi JK di berbagai kesempatan, resmi atau di luar acara kenegaraan. Terakhir, Syafruddin mendampingi Wapres Jusuf Kalla ke Konferensi Tingkat Tinggi negara-negara G20 di Buenos Aires, Argentina, akhir November 2018.

Tidak heran jika suatu ketika, Syafruddin pernah berseloroh: “Saya sudah menteri, tapi bersama Pak JK, saya masih tetap ajudan.” Kelakar yang sama dan mengingatkan ucapan JK dulu kepada Jenderal M. Jusuf, pendahulunya.

Begitulah. Tanah Makassar semenjak dahulu tak henti menyumbangkan orang-orang terbaik di pentas politik dan kekuasaan negeri ini. Setelah Jenderal M. Jusuf, ada Jusuf Kalla. Dan sebelum menutup karir puncaknya di pemerintahan, JK sudah mendapatkan pewaris dan pelanjut karier.

Dia adalah Syafruddin, seorang jenderal polisi, menteri, pembina olahraga berprestasi, dan pengurus dewan masjid.

Tag : jusuf kalla, tokoh
Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top