Fantasi Gurun Berbuah Manis

Dengan berkah ‘emas hitam’, wajah padang pasir yang mematikan berubah drastis dan menjelma menjadi ‘surga dunia’.
Inria Zulfikar | 25 Januari 2019 18:29 WIB
Senior Manager Asia Pasific International Operation Dubai Corporation of Tourism and Commerce Marketing (DCTCM) Tourism Hoor Mohammad Noor Al Khaja (kiri) dan Director Of Marketing IMG Worlds of Adventure Alan Lee (tengah) berpose, seusai pemamparan Dubai Leisure Roadshow di Jakarta, Senin (22/1). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA--Iri rasanya melihat negara lain terlihat begitu mudah mendatangkan devisa dari sektor pariwisata. Strategi dan manajemen pariwisata mereka tampak tersusun rapi dan bervisi jangka panjang.

Bahkan, strategi yang paling ‘ekstrim’ pun ditempuh demi sebuah perubahan. Bentuknya bisa macam-macam. Contohnya, ‘menyulap’ wajah sebuah kawasan/wilayah menjadi salah satu magnet bisnis global.

Tak ada salahnya kita belajar dari pengalaman ini. Zamrud Khatulistiwa harus terus dibangun dengan inovasi tanpa henti. Kita petik kisah sukses dari negara lain yang lebih dulu berhasil.

Saya ingat betul ketika Newsweek edisi 21-28 April/2008 menurunkan laporan khusus yang menarik mengenai rezeki minyak dan sumbangannya bagi industri pariwisata. Tak pelak lagi, negara-negara petro dolar ‘pendatang baru’ seperti Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait dan sederet negeri mini nan kaya lainnya menjadi sorotan utama.

Negara-negara di kawasan teluk tersebut memperoleh kelimpahan rezeki yang sangat luar biasa. Dengan ‘emas hitam’, wajah padang pasir yang mematikan berubah drastis dan menjelma menjadi ‘surga dunia’.

Newsweek mengistilahkannya dengan Arabian fantasies.

Segala bentuk kemewahan dan kesenangan duniawi tumpah ruah. Semua yang Anda dambakan tersedia di depan mata dalam kemasan first class. Semua itu tampaknya belum cukup.

Kemilau industri pariwisata di dunia Arab masih akan terus berproses dalam wujud yang lebih menjanjikan lagi. Terlalu banyak bila disebutkan contohnya satu per satu.

Namun yang jelas dalam beberapa tahun mendatang, kemapanan Barat sepertinya akan berpindah ke Timur (Arab) dalam kemasan budaya lokal yang khas. Welcome to paradise. Kalimat itu pula yang menjadi judul laporan khusus Newsweek mengenai industri pariwisata di negara-negara teluk tadi.

Megapolitan Dunia

Kalau Anda berwisata ke Dubai, misalnya, akan menyaksikan dengan jelas bahwa kota tersebut telah menjelma menjadi megapolitan dunia dalam tempo tiga dekade saja.

Gurun pasir kering kerontang berganti wajah menjadi properti mewah atau bahkan super mewah. Salah satu rekor gedung tertinggi dunia digenggam Burj Dubai (Menara Dubai) yang menjulang setinggi 810 meter.

Konstruksi dalam skala masif telah menempatkan Dubai sebagai salah satu kota dengan pertumbuhan tercepat di dunia.

Bila daratan tak mampu lagi menampung pencakar langit, laut menjanjikan harapan baru yang tidak kalah sensasional. Hal ini bisa kita lihat di Dubai Waterfront yang dirancang sebagai tepi laut terbesar buatan manusia. Proyek tersebut memperluas pesisir pantai sejauh 820 kilometer, 12 kali lebih panjang daripada pesisir pantai yang asli. Luas arealnya mencapai 440 km2 air dan lahan pembangunannya tujuh kali lebih besar ketimbang Pulau Manhattan, New York.

Dubai Waterfront menggabungkan kanal dan pulau yang mengelilingi Palm Jebel Ali, salah satu pulau dari Palm Islands yang berbentuk pohon palem raksasa.

Riyadh, ibukota Arab Saudi, sang pemain lama dalam barisan petro dolar, tak berbeda jauh kemilaunya. Bandara internasional King Khalid yang dibangun dengan dana US$3,2 miliar siap menyambut wisatawan mancanegara berkocek tebal untuk menikmati eksotisme pariwisata negeri itu yang sangat berkelas. Sebuah kombinasi menawan antara sentuhan unsur tradisional dan modern.  

Terbang ke Qatar, turis juga akan menjumpai pemandangan yang kurang lebih sama. Penggila belanja merek-mereka berkelas atau kolektor properti mewah bisa mendaftar sebagai penghuni kompleks Pearl yang konsepnya mirip Dubai Waterfront.

Jantung kemewahan Pearl berada di Qanat Quartier yang kerap digambarkan sebagai `desa pesisir berwajah Venesia dan Amsterdam`.

Industri pariwisata negara mini ini kian kinclong saat dihela Sheik Hamad al-Thani. Sang emir berambisi Qatar yang imut mampu menggetarkan dunia lewat posisi geografisnya sebagai cultural hub dan tidak sekadar mencontoh gaya tetanggannya, Dubai.

Sentuhan Emas

Lain al-Thani, lain pula Mohammad bin Rashid al-Maktoum, penguasa emirat tersebut, yang `menyulap` wajah Dubai seperti sekarang. Al-Maktoum ingin berkibar di pentas dunia melalui mesin uang andalannya, Dubai Group.

Pria ini yang sukses menggolkan kesepakatan bisnis rumit senilai hampir US$5 miliar yang melibatkan Borse Dubai, Nasdaq, OMX Group (operator bursa asal Swedia), dan London Stock Exchange. Buah dari kepiawaian lobi yang didukung dana nyaris tak terbatas itu adalah akuisisi OMX oleh Nasdaq Stock Market Inc, sedangkan 20% saham operator bursa asal negeri Paman Sam itu dicaplok Borse Dubai.

Melalui mega transaksi itu, giliran Nasdaq mengambilalih sepertiga kepemilikan di salah satu sayap usaha Borse Dubai.

Al-Maktoum tidak hanya doyan main saham. Dia juga berjaya di bisnis hiburan. Masih dengan Dubai World, dia sempat membeli 5% saham Metro-Goldwyn-Mayer Inc (MGM), raksasa perfilman AS, senilai US$1,2 miliar berikut komitmen untuk menggelontorkan dana US$2,7 miliar sebagai `partisipasi` bagi pembangunan hotel dan kasino berkonsep futuristik pertama di Las Vegas.

“MGM merupakan perusahaan hiburan yang paling tertata baik dan paling ramah di dunia. Itulah alasan mengapa kami tertarik berinvestasi,” ujar Laiboon Yu, chief investment officer Dubai World.

Magnet fantasi gurun memang sulit dilawan kecuali kita mempunyai ‘jurus’ yang lebih mumpuni.

 

 

 

Tag : dubai
Editor : Inria Zulfikar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top