Buta Sejak Lahir, Srikanth Bolla Membuka Mata Dunia

Terlahir buta, Srikanth Bolla berulang kali menghadapi diskriminasi. Ia bangkit menantang kondisinya, lulus dari universitas terbaik di dunia, dan masuk daftar Forbes.
Renat Sofie Andriani | 29 Januari 2019 15:17 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Terlahir buta, Srikanth Bolla berulang kali menghadapi diskriminasi. Ia bangkit menantang kondisinya, lulus dari universitas terbaik di dunia, dan menyematkan namanya di daftar Forbes.

Seluruh cerita kehidupan Bolla menjadi saksi bagaimana dia telah mendorong banyak perubahan baik dalam kehidupannya sendiri maupun orang lain.

Ia terlahir tanpa penglihatan di tengah keluarga petani di Seetharamapuram di Machilipatnam, Andhra Pradesh, India, pada 1992. Kondisi ini saja bisa menghancurkan semangat hidup jiwa yang rapuh, tetapi tidak untuk Bolla.

Ia bergulat melawan kesulitan, berjuang di setiap langkah, mulai dari memperoleh pendidikan yang layak hingga menjelajah karier wirausaha.

Kini ia telah menjalankan Bollant Industries Limited, berlaku sebagai CEO-nya dan mempekerjakan lebih dari 650 orang, hampir separuhnya adalah pria maupun wanita penyandang disabilitas.

Kasih Orangtua

“Kedua orangtua saya, Damodar Rao dan Venkatamma (yang adalah sepupu), luar biasa sedih ketika bayi mereka terlahir buta,” kisah Bolla, seperti dilansir dari The Hindu Business Line.

Kebutaan itu adalah buah efek genetik dari perkawinan sedarah. Setelah Bolla terlahir, orangtuanya harus menelan berbagai cemoohan. Anak laki-laki mereka dikatakan sama sekali tak berguna dan bakal hidup menyusahkan.

Untung saja kedua orangtuanya Tuli sehingga tak mengacuhkan segala pandangan lingkungan sekitar. Mereka justru sangat menyayangi dan memutuskan untuk membesarkan putra mereka sebaik mungkin.

“Namun di setiap tahap, sejak mereka mendaftarkan saya ke sebuah sekolah di daerah pedesaan, mereka harus melawan 'sistem',” kenang Bolla.

Karena Bolla menghadapi kerap diskriminasi di sekolah, sang ayah kemudian memindahkannya ke sekolah untuk Tuna Netra, di mana ia dibimbing oleh guru kebutuhan khusus.

Tak jarang ia merasa kesepian di masa kanak-kanaknya. Tak ada kawan yang tertarik mengajaknya ikut bermain atau pun berolah raga. Kesendirian itu melecut Bolla untuk unggul di setiap kesempatan.

“Saya bekerja keras dan tidak pernah menengok ke belakang,” ujarnya, dikutip dari laman MIT. Pertama, dia belajar Braille, lalu bahasa Inggris dan cara menggunakan komputer. Berbagai penghargaan dimenangkannya entah itu dalam debat, penulisan kreatif, catur, atau kriket untuk orang buta.

Masuk MIT

“Itu baru awal perjuangan saya melawan sistem dan terus berlanjut selama bertahun-tahun. Tapi setiap rintangan yang saya hadapi membuat saya lebih kuat karena saya harus menantang sistem yang ada dan mencari ruang untuk diri saya sendiri,” lanjutnya.

Setelah menyelesaikan sekolah dasarnya, ia kembali menghadapi kesulitan mendapatkan tiket masuk kursus tingkat menengah. Padahal Bolla selalu menorehkan prestasi di setiap jenjang yang dilaluinya.

Keinginan Bolla belajar ilmu pengetahuan dimentahkan. Alih-alih, ia diberi tahu hanya bisa belajar seni karena kebutaannya.

Bolla jatuh bangun memperlihatkan kegigihannya hingga bangku kuliah. Di tingkat perguruan tinggi, lagi-lagi ia menerima penolakan dari sejumlah institusi ternama di India, termasuk IIT (Indian Institute of Technology), karena kondisinya.

Lalu apakah semangatnya kali ini benar-benar hancur? Yang terjadi adalah sebaliknya. “Jika IIT tak menginginkan saya, saya juga tak menginginkan IIT,” batinnya saat itu. Bolla menantang dirinya untuk mendaftar ke kampus internasional yang lebih bergengsi.

Doanya terjawab. Tak hanya satu, ia berhasil diterima di empat kampus ternama di dunia, yaitu MIT, Stanford, Berkeley, dan Carnegie Mellon, seperti dilansir The Better India.

Pilihannya dijatuhkan pada Massachusetts Institute of Technology (MIT) di Amerika Serikat. Ia resmi memasuki kampus terbaik dunia yang terkenal merupakan sarang lahirnya para penguasa teknologi tersebut sekaligus menjadi mahasiswa internasional pertama yang buta.

Lingkungan pembelajaran di MIT membuat perbedaan besar bagi Bolla untuk membentuk pandangan atas dunianya sendiri. Ia bertekad untuk mencoba sesuatu yang sama sekali berbeda dengan usahanya sendiri suatu hari nanti.

“Setelah menghadapi tantangan di setiap tahap selama pendidikan saya, saya selalu memiliki keinginan untuk melakukan sesuatu yang berbeda,” tutur Bolla.

Lahirnya Seorang Pengusaha

Dengan gelar Sarjana Bisnis Manajemen dari MIT, Bolla justru menolak beberapa tawaran pekerjaan di perusahaan multinasional dan memutuskan untuk menjadi wirausahawan sehingga ia bisa menjadi penyedia pekerjaan alih-alih pencari kerja.

“Saya memilih opsi ini karena memberi saya kesempatan untuk melakukan sesuatu untuk mereka yang memiliki masalah sama seperti saya,” ungkapnya.

Pada 2014, berbekalkan uang yang dimiliki, Bolla memulai perjalanan kewirausahaannya dan mendirikan Bollant Industries Ltd. Perusahaan ini membuat produk-produk sekali pakai yang ramah lingkungan serta menyediakan solusi pengemasan yang seluruhnya terbuat dari daun alami dan kertas daur ulang.

Portofolio produknya termasuk pelat daun pinang, alat makan, nampan makanan, serta cangkir dan produk ramah lingkungan, termasuk piring sekali pakai, gelas kertas dan produk-produk yang terbuat dari daun sirih.

“Setelah melihat pentingnya pelat dan produk berbahan dasar kertas di AS, di mana darinya beberapa perusahaan dapat meraup omset jutaan dolar, saya memutuskan untuk memasuki segmen ini, yang tidak terorganisir dan terfragmentasi tetapi memiliki potensi besar di India,” terang Bolla.

Namun Bollant memiliki misi yang lebih besar. Ia bertekad menghasilkan peluang kerja bagi jutaan orang dengan disabilitas, yang sebagian besar tidak berpendidikan dan tidak memiliki keterampilan.

Dari sebuah pabrik kecil di Hyderabad, Bollant telah mendulang pundi-pundi berlipat ganda dan berkembang menjadi beberapa unit manufaktur melalui kombinasi pertumbuhan organik dan anorganik yang tersebar di sejumlah titik di India.

Buka Mata Dunia

Terlepas dari kesuksesannya, Bolla terus berinovasi dan mengawasi kinerja pabrik-pabriknya demi memastikan kualitas terbaik. Kembali lagi, keputusannya menjadi seorang wirausahawan adalah untuk membuat perbedaan.

“Saya memilih studi manajemen meskipun saya memiliki bakat dalam ilmu komputer. Saya ingin menjadi seseorang yang memimpin dan bukan orang yang bekerja di bawah perintah orang lain,” tegasnya.

Salah satu inisiatif awal perusahaan ini adalah mendirikan Samanvai, sebuah pusat untuk anak-anak dengan berbagai disabilitas, guna membantu mereka mengatasi banyak tantangan mereka.

“Isolasi terhadap orang-orang yang menyandang disabilitas dimulai sejak masa kanak-kanak dan berlanjut sepanjang hidup mereka. Di sekolah, kamu kerap dikucilkan dan dijauhi. Impian saya adalah melihat semua orang yang menyandang disabilitas untuk dipekerjakan,” kata Bolla.

Selama beberapa tahun terakhir, upaya Bolla telah diakui. Serangkaian penghargaan diraihnya, di antaranya Emerging Leadership Award, yang diberikan oleh ECLIF Malaysia, dan penghargaan Emerging Entrepreneur of the Year 2016.

Pada 2017, namanya bahkan masuk dalam daftar prestisius “30 under 30” di kawasan Asia versi majalah Forbes, salah satu dari tiga warga India yang tercantum.

“Ambisi saya adalah menjadi Presiden India,” kata Bolla, yang pernah menjadi anggota Lead India 2020, sebuah gerakan nasional untuk melatih kaum muda dalam kepemimpinan, nilai-nilai kemanusiaan, dan keterampilan kerja.

Bolla benar-benar menjadi contoh nyata inspirasi bagi banyak orang, termasuk yang tidak berkekurangan, dengan caranya bekerja keras dan mencapai tujuan. Ia telah membuka mata dunia dengan kebutaannya.

Tag : tokoh
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top