Medan Panas Inovasi, 4 Negara Ini Pengusungnya

Inovasi tiada henti. Sering kali ucapan ini mengalir dari seorang CEO yang berhasil memimpin korporasi. Dimana benih-benih inovasi tumbuh subur?
Inria Zulfikar
Inria Zulfikar - Bisnis.com 27 Februari 2019  |  08:27 WIB
Medan Panas Inovasi, 4 Negara Ini Pengusungnya
Bus nirawak berteknologi 5G diuji coba di Chongqing, wilayah baratdaya China. - People\\\'s Daily/Antara

Bisnis.com, JAKARTA--Negara-negara yang memandang inovasi sebagai ‘harta karun tak ternilai’, mereka menempatkannya sebagai agenda nasional nomor wahid (at the top of national agendas).  

China, Cile, Singapura, dan Finlandia telah lama ditempatkan sebagai pengusung inovasi kelas global yang layak mendapat perhatian. Tidak saja layak untuk diperhatikan sepak terjangnya tetapi juga mempelajari jurus-jurus yang mereka terapkan.

Benang merah yang bisa diambil dari inovasi global tersebut adalah membangun iklim dan kebijakan pendidikan yang berwawasan jauh kedepan (forward -looking education) dan mengembangkan sumber daya manusia berbakat.

Itu belum cukup. Investasi raksasa juga digelontorkan untuk menggairahkan munculnya inisiatif skala besar. Langkah strategis lainnya adalah menghimpun aset-aset baru yang berwujud modal intelektual (intelectual capital) dan infrastruktur.  

John Kau, Chairman Institute for Large Scale Innovation, AS, mengulas inovasi global tersebut dalam tulisannya berjudulTapping the World’s Innovation Hot Spots(Harvard Business Review, Maret 2009).

 Empat Model Besar

 Menurut dia, ada 4 model besar inovasi, baik yang mencakup tataran negara maupun korporasi.

Pertama, Focused Factory. Inovasi model begini mengkombinasikan strategi yang jelas dan berfokus pada infrastruktur serta bakat-bakat yang luar biasa untuk menemukan sekaligus menawarkan sebuah solusi dalam menjawab tantangan zaman.

Untuk model ini kita bisa menoleh ke Singapura dan Denmark. Kedua negara tersebut memfokuskan inovasi pada pengembangan industri atau bidang riset.

Indonesia pantas berguru kepada negara tetanggannya itu. Betapa tidak? Singapura telah memperlihatkan komitmen yang sangat mengagumkan di bidang riset ilmu pengetahuan.

Hal ini antara lain terlihat dengan ditingkatkannya anggaran untuk membiayai kegiatan penelitian dan pengembangan, teknologi ramah lingkungan, dan media digital.

Pada 2003 negara itu telah memiliki Biopolis, pusat penelitian biomedis yang berdiri diatas lahan 2 juta meter persegi. Di fasilitas riset bergengsi ini ‘bersarang’ ilmuwan top . Hingga 2015 Biopolis menargetkan merekrut 4.000 peneliti lagi dari seluruh dunia.

Wajar bila fasilitas riset skala dunia semacam itu menarik minat perusahaan multinasional macam GlaxoSmithKline. Perusahaan farmasi asal Inggris ini mendirikan Centre for Research in Cognitive and Neurodegenerative Disorders di Biopolis.

Saat ini Fusionpolis juga sudah beroperasi di lokasi yang berdekatan. Saat awal berdiri, ditargetkan diisi oleh sedikitnya 6.000 ilmuwan. Sebagai perbandingan, US National Institute of Helth saja yang kerap dipakai sebagai perbandingan hanya mempekerjakan sekitar 10.000 ilmuwan.

Kedua,  Brute Force. Ini adalah model inovasi yang mengedepankan jumlah unit yang besar. Dengan bermodalkan upah buruh murah dan berbagai insentif investasi, China, India, dan Brasil optimistis bahwa SDM andal akan memunculkan ide-ide brilian yang mampu melahirkan berbagai penemuan berkelas dunia.

China, yang kini merajai manufaktur alih daya, akan diarahkan menjadi negara yang bergerak atas dorongan inovasi (innovation-driven country) pada 2020. Sebagai persiapannya, pemimpin negara tersebut telah menetapkan 10 universitas utama yang akan mendapatkan tambahan anggaran dalam jumlah signifikan.

Hal ini bertujuan agar lembaga pendidikan terpilih tersebut mampu bersaing dengan universitas papan atas dunia lainnya. Untuk itu mereka harus meningkatkan kualitas di segala bidang agar dapat menyabet status kelas dunia.

Sebagai gambaran, jumlah lembaga pendidikan menengah di negara itu naik dua kali lipat dari sekitar 2.000 menjadi 4.000 buah dalam tempo tiga tahun saja (2002-2005).

Kesungguhan China dalam meningkatkan kualitas SDM ini mampu meyakinkan seorang Warren Buffet untuk membenamkan dana US$230 juta di BYD Company, produsen batere untuk mobil listrik.

Microsoft juga tidak ragu untuk terus meningkatkan kinerja pusat risetnya di Beijing yang sudah berusia satu dekade. Bill Gates paham betul bahwa China menyimpang segudang SDM andal. Tsinghua, Fudan, Beida, dan Jiao Tong merupakan beberapa nama ilmuwan Microsoft yang masih terdaftar sebagai dosen di sejumlah universitas di China.

Kao mengemukakan bahwa korporasi yang menerapkan model inovasi brute force perlu membangun hubungan kemitraan jangka panjang dengan universitas lokal, inkubator modal ventura, asosiasi perdagangan, dan rekan bisnis lainnya.

Ketiga, Hollyworld.  Meski namanya mirip pusat industri film di AS tetapi sasaran yang ingin dicapai dalam model inovasi ini adalah membangun ‘kelas global yang kreatif’(global creative class).

Bila di sebuah tempat, kota atau kawasan di sebuah negara berkumpul para wirausahawan yang smart, mereka yang memberi warna tersendiri bagi pengembangan daerah tersebut.

Kita masih ingat bagaimana Silicon Valley bisa berkembang pesat di awal dekade 1990. Orang-orang yang bergerak di bidang teknologi informasi telah sukses membuatnya seperti sekarang.

Kini wajah-wajah baru bermunculan di muka bumi. Sebut saja Bangalore, Helsinki atau Toronto.

Keempat, ekosistem skala besar. Beberapa negara kini serius mengembangkan sistem end to end innovation yang dikawinkan dengan kepiawaian dalam menyusun mekanisme, badan penyantun, lembaga riset, struktur bisnis, dan kolaborasi akademik.

Untuk ini, dunia boleh belajar ke Finlandia. Ada Universitas Aalto. Oleh masyarakat setempat akrab disebut universitas inovasi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
inovasi

Editor : Inria Zulfikar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top