Kiat Mencari Ide Membuka Usaha di Era Milenial

Ide untuk memulai usaha bisa datang dari mana saja, baik dari kebiasaan sehari-hari maupun hasil bertukar cerita dengan orang lain.
Agne Yasa | 22 Maret 2019 15:17 WIB
Pemilik Kebab Turki Baba Rafi Hendy Setiono, General Manager Kaizen Jason Budiarto, dan Founder Whats'up Cafe Valentino Ivan memaparkan kiat mencari ide untuk membangun usaha dalam sesi "Seminar Wirausaha Inspiratif" di ajang Info Franchise & Business Concept Expo (IFBC), di Balai Kartini, Jakarta, Jumat (22/3/2019). - Bisnis/Agne Yasa

Bisnis.com, JAKARTA -- Mencari ide usaha bisnis bisa dibilang gampang-gampang susah. Apalagi, mencari ide yang akhirnya bisa diimplemetasikan.

Pada dasarnya, ide berusaha bisa datang dari mana saja. Mulai dari kebiasaan sehari-hari, menemukan inspirasi ketika jalan-jalan, dan lainnya.

Pemilik Kebab Turki Baba Rafi Hendy Setiono mengatakan mencari ide bisa dimulai dengan mengikuti pameran-pameran ide bisnis hingga nantinya bisa berkembang jadi peserta pameran. Selain memiliki Kebab Turki Baba Rafi, kini dia juga mengembangkan berbagai brand lain di bawah Baba Rafi Enterpresie dan Hendi Setiono Foundation.

"Ada pergeseran tren dari 10 tahun lalu mulai usaha dengan milenial yang baru mulai bisnis. Saya ada di perbatasan generasi itu. Baba Rafi mulai dari ide sendiri, era sekarang berbisnis begitu lagi. Ide, kembangkan sendiri, bisa tapi slow. Sekarang di era milenial justru kuncinya sifatnya yang kolaborasi. Anak milenial punya ide bagus, bisa kolaborasi, supaya scale up, misalnya kami dengan Cakekekinian, dan lainnya," papar Hendy dalam sesi "Seminar Wirausaha Inspiratif" di ajang Info Franchise & Business Concept Expo (IFBC), di Jakarta, Jumat (22/3/2019).

Dia menerangkan kolaborasi yang dilakukan bergantung pada tingkatan yang ada. Misalnya, untuk tahap awal, bisa mengikuti franchise yang sudah ada sebagai bentuk memulai keberanian berusaha.

Namun, tak ada formula yang pasti dalam mewujudkan ide bisnis hingga berhasil. Hendy menuturkan ada pengusaha yang sukses karena terlebih dulu membuat perencanaan bisnis, tapi ada juga yang langsung melakukan eksekusi dan berhasil.

"Itulah yang membuat usaha ini bersifat dinamis. Tidak pernah ada jawaban benar dan salah, menurut pendapat kita mana yang terbaik, ya dijalani. Saya memulai dengan tidak membuat business plan, jalan-jalan ke Qatar, buat Baba Rafi. Tapi sekarang 17 brand, ada yang gagal juga. Dari pengalaman, sekarang saya buat business plan juga, ada tim juga," jelasnya.

Sementara itu, General Manager Kaizen Jason Budiarto menerangkan usaha yang diusungnya adalah pelayanan potong rambut yang singkat, cepat, ekonomis, dan juga higienis yang dimulai sejak 2004. Dia bercerita bahwa pendiri Kaizen mendapat ide ketika berjalan-jalan ke Jepang dan melihat konsep potong rambut tanpa cuci tapi rapi.

Akhirnya, muncul ide untuk diadaptasi ke Indonesia. Pada 2013, Kaizen pun mulai melakukan kolaborasi lewat franchise.

Dari awalnya hanya ada 7 outlet--itu pun seluruhnya berlokasi di Jakarta, sekarang Kaizen sudah memiliki 114 cabang di seluruh Indonesia dan 7 cabang di luar negeri.

Outlet yang berada di luar negeri di antaranya berlokasi di Filipina, Myanmar, dan Kamboja. Selain itu, mulai Minggu (24/3), Kaizen juga akan beroperasi di stasiun MRT Jakarta.

Jason menyatakan belum ada yang mengusung konsep bisnis Kaizen. Namun, pihaknya berani dengan risiko yang diambil dengan mencoba konsep ini diterapkan di Indonesia.

"Apalagi, orang zaman dulu ingin yang potong rambut dicuci. Tapi seiring berjalannya waktu, ingin cepat. Di Kaizen, 10 menit selesai, apalagi yang dekat perkantoran. Lebih banyak di weekdays pelanggannya dibandingkan weekend," jelasnya.

Sementara itu, Founder Whats'up Cafe Valentino Ivan mengungkapkan bisnis kedainya mengsusung tema kafe kekinian dengan pasar kelompok milenial yang butuh tempat nyaman dan mampu mengisi konten sosial medianya. Makanan yang dijual antara lain mie instan dan nasi goreng.

What'up Cafe mulai menjadi franchise pada akhir 2016. Hingga akhir 2017, sudah ada 15 cabang yang tersebar di Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi.

Pihaknya juga mengembangkan brand lain yaitu Moshi Moshi, yang diadaptasi dari street food Jepang dan Korea Selatan (Korsel), di mana kemitraan bisa dimulai dari Rp20 juta.

"Untuk mendapatkan ide, kalau menurut saya, ide ada di mana saja, makin sering berkomunitas, banyak sekali konsep bisnis yang keluar. Makin sering komunikasi, ikut seminar, komunitas, ide akan datang sendiri. Kalau idenya buntu berarti malas, tidak mau berkomunitas, tidak mau ngobrol," tambahnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
waralaba, peluang usaha

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top