Disrupsi, Kisah Cerita, dan Masa Depan Bisnis

Di zaman penuh anomali ini, kepemimpinan puncak korporasi mengalami ujian berat, apakah sang CEO mampu melalui badai bisnis dengan selamat dan selanjutnya berdiri kokoh. Atau malah tinggal kenangan.
Inria Zulfikar
Inria Zulfikar - Bisnis.com 29 Maret 2019  |  10:58 WIB
Disrupsi, Kisah Cerita, dan Masa Depan Bisnis
Chief Executive Officer Lazada Group Pierre Poignant saat memaparkan perkembangan Lazada lampau dan ke depan. - Bisnis/Yanuarius Viodeogo

Bisnis.com, JAKARTA--Sekarang bukan era transisi lagi. Tapi disrupsi. Perubahan fundamental di alam pikir dan tindakan yang belum ada duanya telah membuat kegiatan bisnis dan ekonomi berubah sangat drastis juga.

Sebuah perbedaan ibarat siang dan malam. Malah mungkin lebih dari itu. Dunia bisnis, model bisnis, korporasi maupun gerak organisasi dibuat super bingung.

Lalu apa yang perlu dilakukan agar kapal bisa tetap selamat sampai pelabuhan tujuan di tengah badai besar perubahan yang belum diketahui jenis kelaminnya ini?

Selama masa transisi besar sebagai dampak hantaman langsung dan tidak langsung disrupsi ini--bisa berupa merger, akuisisi, perubahan model bisnis yang sangat mendasar, pergantian manajemen, pemutusan hubungan kerja atau penjualan yang terjun bebas--peran seorang pemimpin puncak, sang nakhoda, sang CEO akan sangat menentukan.

"Pesan-pesan harian dari sang CEO menjadi kritis untuk mengendalikan rasa aman para pegawai," ujar Evelyn Clark dalam bukunya Around the Corporate Campfire,.How Great Leaders Use Stories to Inspire Success.

Dalam menghadapi pergolakan cuaca bisnis ini, akan terlihat apakah sang CEO akan berada di jalur menuju kematangan atau malah tersungkur dilumat sang badai perubahan.

Namun satu hal perlu diingat oleh mereka bahwa di saat ada kabar buruk pun, pengisahan cerita yang efektif menjadikan kabar ini lebih mudah diterima orang.

Cara Pandang

Anda mungkin pernah mendengar juga bahwa ketika para eksekutif berbagi situasi terakhir perusahaan secara mendetail dan menjelaskan alasan-alasan dibalik keputusan mereka, para pegawai umumnya akan dapat menempatkan diri mereka dalam sudut pandang sang eksekutif dan dapat memahami tindakannya.

Permasalahannya, apakah tindakan para eksekutif itu sudah benar untuk merespons ancaman atau krisis yang terjadi. Hal ini sebenarnya bisa didalami lebih jauh mengenai efektivitas keputusan yang diambil manajemen.

Bila memang sudah ada komitmen kuat dari top manajemen untuk menghadapi krisis dan dengan piawai pula 'menceritakannya', bisa jadi kebanyakan orang akan tetap mendukung organisasi dan berupaya untuk tetap produktif, atau bahkan tetap loyal terhadap perusahaan.

Para pegawai yang senantiasa mendapatkan informasi mengenai perusahaan dapat dipercaya.

Gambaran di atas bukan isapan jempol. Ini pengalaman langsung Clark yang kemudian terlihat berkembang menjadi prinsip yang luar biasa ketika dirinya bersama seorang rekan melakukan bimbingan kehumasan di sebuah korporasi yang sedang berada dalam reorganisasi besar-besaran.

Struktur organisasi yang baru akan mengubah secara drastis budaya dan kebiasaan lama. Kemampuan menjual akan menjadi panglima. Tentu saja tak cuma menjual tapi berapa besar nilai jualannya! Dulu, nama besar sudah bisa membuat lawan ciut nyali. Sekarang, nama besar puluhan tahun atau bahkan satu generasi, perusahaan besar dan yang serba besar lainnya banyak yang kalah lincah dibandingkan para unicorn yang baru muncul kemarin sore.

"Percaya apa tidak?" begitu pertanyaan yang sering diucapkan kawan saya.

Inti pesan yang disampaikan Clark adalah Corporate Storytelling. Ada seninya, ada strateginya. Bukan sekadar bicara 'kita sudah berada di jalan yang benar', 'kita sudah adaptif', 'kita sudah melakukan efisiensi' atau semacamnya.

Bukan pula sekadar berani membuat terobosan yang malah justru membuatnya terperosok. Dalam hal korporasi di negeri ini, apapun langkah yang diambil seirama dengan era disrupsi ini, mungkin jawabannya akan kembali ke satu kata jua: untung! Laba!

Tak ada salahnya mengadopsi jurus yang ditawarkan Clark. Dalam ruang lingkup kompetisi pasar, jelasnya, korporasi swasta yang bisa menjawab pertanyaan yang diajukan Corporate Storytelling--perusahaan yang paham akan apa yang membuat mereka unik dan dapat menyampaikan perbedaan tersebut dengan jelas--akan 15 kali lebih sukses dibandingkan dengan mereka yang tidak melakukan hal yang sama.

Malah perusahaan yang piawai ber-Storytelling ini diklaim akan enam kali lebih sukses dibandingkan dengan para pesaingnya.

Kadar kesuksesan ini merupakan temuan duo pakar manajemen, James C. Collins dan Jerry I. Porras. Diulas mendalam pula dalam buku mereka Built to Last, Successful Habits of Visionary Companies. Buku yang disusun saat keduanya mengajar di Graduate School of Business Stanford University.

Anda sedang memimpin perusahaan berusia seumur jagung, satu dekade, usia perak, usia emas atau sudah seabad?

Tak ada salahnya belajar dari Collins dan Porras yang menelaah korporasi yang rata-rata berusia hampir 100 tahun.

Apa yang membuat perusahaan tertentu benar-benar luar biasa dan berbeda dibandingkan dengan lainnya? Ditemukan dua alasan utama yang membedakan perusahaan 'visioner' yang memimpin industri.

Pertama, nilai-nilai inti (kepercayaan yang dipegang teguh, ibarat filosofi hidup seseorang) yang disampaikan dengan jelas. Kedua, sebuah misi (alasan untuk ada).

Atau Anda punya senjata lain yang lebih mumpuni?

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
korporasi

Editor : Inria Zulfikar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top