Perang Dagang AS-China, Potret Pendiri Huawei, dan Taksi

Berlarutnya perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China mengancam kedigdayaan Huawei Technologies. Pemerintahan Trump mungkin mengira akan dapat membendung Huawei. Tapi jangan main-main dengan sosok bernama Ren Zhengfei.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 10 Juni 2019  |  07:53 WIB
Perang Dagang AS-China, Potret Pendiri Huawei, dan Taksi
Pendiri Huawei Technologies Co., Ren Zhengfei - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Berlarutnya perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China mengancam kedigdayaan Huawei Technologies. Dimulai dengan barter pengenaan tarif, konfrontasi dua ekonomi terbesar dunia ini meluas hingga menyentuh ranah supremasi teknologi.

Pemerintahan Presiden AS Donald Trump mungkin mengira akan dapat membendung kekuatan China utamanya di bidang teknologi dengan memberikan sanksi terhadap Huawei.

Dengan sanksi tersebut, Huawei tak dapat memperoleh pasokan dari perusahaan-perusahaan penyedia perangkat lunak dan komponen elektronik di AS. Langkah ini jelas mengancam keberlangsungan produksi Huawei.

Namun Trump tidak boleh lupa dengan sosok bernama Ren Zhengfei. Di balik kerut di wajah yang tenang tersimpan karakter tegas tetapi juga rendah hati yang tak selalu dimiliki setiap pemimpin besar.

Tempaan Militer

Usia motor berdirinya Huawei itu memang terpaut dua tahun lebih tua daripada Trump, tetapi kegarangan Ren Zhengfei tak tampak termakan waktu. Kebijakan AS terhadap Huawei ditanggapinya dengan tegas.

Berulang kali ia menampik tuduhan spionase yang dilayangkan oleh pemerintah AS terhadap Huawei. Pria kelahiran 25 Oktober 1944 ini menegaskan bakal melakukan apapun agar perusahaannya selamat.

"Huawei akan baik-baik saja, bahkan jika perusahaan tidak dapat membeli chip dari pemasok AS, karena kami telah mempersiapkan hal ini," tutur Ren seperti dilansir Nikkei.

Beberapa strategi sudah disiapkannya, baik meningkatkan pasokan chip sendiri atau mencari alternatif untuk dapat tetap menjadi yang terdepan dalam teknologi smartphone dan 5G.

Kemunculan Ren, yang dikenal sangat jarang berbicara dengan media asing, di dalam lampu sorot sejak awal tahun 2019 menggarisbawahi dalamnya serangan terhadap Huawei, simbol terbesar kekuatan teknologi China.

Secara berkala Ren memecahkan kebisuannya ketika kerajaan teknologi yang susah payah dibangunnya menghadapi krisis terbesar selama lebih dari tiga dekade berdiri.

Bisnisnya ini dimulai pada 1987 dengan menjual kembali peralatan elektronik untuk diimpor ke China. Berbekalkan sedikit uang, berdirilah Huawei di Shenzhen. Modal terdaftar perusahaan itu awalnya berjumlah 21.000 yuan atau sekitar US$3.000.

Perlahan Huawei Technologies menjadi raksasa bisnis telekomunikasi di China bahkan salah satu perusahaan telekomunikasi terbesar di dunia dalam beberapa dekade berikutnya.

Padahal, Ren memulai kariernya sebagai insinyur teknik sipil pada tahun 1960an setelah meraih gelar sarjana dari Institute of Civil Engineering and Architecture of Chongqing.

Namun prospek lapangan kerja pada masa itu terbilang genting di China yang terimbas oleh gejolak Revolusi Kebudayaan.

Dia kemudian bergabung dengan jajaran Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) pada 1974 untuk mengerjakan proyek pembuatan serat sintetis di Liao Yang. Tak ada satupun warga yang ingin bekerja di daerah miskin dan terpencil tersebut.

Pemerintah China terpaksa mengirimkan tentara untuk menyelesaikan proyek ini dengan merekrut mereka yang bersedia untuk membantu membangun pabrik baru.

Nyatanya Ren mampu mendapatkan karier yang gemilang dalam kondisi yang serba kebetulan ini. Jenjang demi jenjang dalam militer dilaluinya hingga naik pangkat menjadi wakil direktur.

Sebagai hadiah, ia diundang ke Konferensi Ilmu Pengetahuan Nasional pada 1978 selaku delegasi PLA dan menghadiri Kongres Nasional ke-12 Partai Komunis pada 1982.

Pada 1983, titik balik dalam kariernya di bidang teknik kemiliteran memaksa Ren untuk beralih ke kewirausahaan. Seluruh korps bidang ini dibubarkan oleh pemerintah China. Ren terpaksa meninggalkan militer setelah kenaikan pangkat yang luar biasa.

Keluar dengan nilai pensiun yang terbilang kecil, mau tak mau ia bekerja untuk departemen logistik di Shenzhen South Sea Oil Corporation. Ini menjadi masa transisi yang sulit bagi Ren karena ia tidak menyukai lingkungan bisnis baru itu.

Di titik inilah ia memutuskan membuat bisnis peralatan elektronik dan mendirikan Huawei. Latar belakang dan pengalamannya di bidang militer disebut-sebut menjadi hal yang memicu pertanyaan khususnya tentang kaitan Huawei dengan pemerintah China.

Tiga Kali Menikah

Karier yang terbilang sukses tak lantas berjalan seiring dengan kehidupan pernikahannya. Ren menikahi istri pertamanya, Meng Jun, dan memiliki sepasang putra dan putri bernama Ren Ping dan Meng Wanzhou, pada awal 1970-an.

Tidak lama setelah mendirikan Huawei, Ren menceraikan istri pertamanya dan menikahi Yao Ling. Dari pernikahan keduanya ini, ia memiliki seorang putri bernama Annabel Yao.

Menurut laporan-laporan media China, Ren menikah untuk yang ketiga kalinya dengan Su Wei. Kabarnya, istri ketiganya itu pernah berlaku sebagai sekretarisnya.

Pada Desember 2018, kehidupan keluarga terpandang ini menjadi bulan-bulanan media dengan ditangkapnya putri tertua Ren, Meng Wanzhou, di Kanada.

Sebagai putri pendiri Huawei dan kemungkinan bakal pewaris perusahaannya, penangkapan Meng Wanzhou meningkatkan pertaruhan hubungan perdagangan yang sudah rumit antara China dan AS.

Sejak bergabung dengan Huawei lebih dari 20 tahun yang lalu, peran Meng melesat dari sekadar membantu di pameran-pameran penjualan menjadi tokoh sentral dalam kepemimpinan perusahaan. Kendati demikian, tetap ada pertanyaan apakah dia akhirnya akan mengambil alih posisi ayahnya nanti.

Anak lelaki satu-satunya Ren Zhengfei, Ren Ping, sempat dipandang kuat bakal menjadi pimpinan berikutnya di Huawei hingga ia menuliskan surel internal pada 2013 yang dengan tegas menampik spekulasi itu.

Dalam surelnya, Ren Zhengfei menjabarkan sejumlah kualitas yang harus dimiliki seorang penerus perusahaan, termasuk visi, karakter, dan pengetahuan khusus industri.

Kesimpulan dari tulisannya cukup mengagetkan. Menurut Ren Zhengfei, tidak ada satu pun dari anggota keluarganya yang memiliki kualitas tersebut, seperti dilaporkan layanan berita online Sina Tech.

Tak terusik dengan pemberitaan ini, karier Meng justru terus menanjak di Huawei. Pada 2011, perusahaan mengungkapkan posisinya sebagai sebagai direktur eksekutif dan CFO. Pada Maret 2018, Meng bahkan menggantikan posisi sang Ayah sebagai Vice Chairman perusahaan.

Berbanding terbalik dengan kehidupan pribadi Meng Wanzhou, putri Ren Zhengfei lainnya, Annabel Yao, justru cukup dikenal sebagai seorang sosialita.

Menempuh pendidikan ilmu komputer di Harvard University, gadis muda berusia awal 20 tahun ini memiliki kecintaan pada balet dan fesyen. Tak lama sebelum kakak tirinya dikabarkan ditangkap di Kanada, Annabel tampil dalam pesta mode papan atas di Paris.

"Ketika saya memulai Huawei, saya harus berjuang untuk kelangsungan hidup perusahaan," kata Ren, mengisahkan bagaimana dia harus bekerja shift selama 16 jam di kantor. Masa-masa itu meninggalkan keretakan dalam hubungannya dengan putra putrinya.

"Saya pernah bertanya kepada anak-anak saya apakah mereka lebih suka saya menghabiskan lebih banyak waktu dengan mereka atau membangun platform untuk mereka agar bersinar. Mereka memilih platform untuk pengembangan profesional mereka,” ungkapnya, seperti dikutip dari Fortune.

Rela Antre Taksi

Ren Zhengfei sendiri dikenal tidak suka bergaya hidup seperti taipan dunia pada umumnya. Lahir di tengah keluarga pedesaan, Ren menghabiskan tahun-tahun sekolah dasar dan menengahnya di sebuah kota pegunungan terpencil di Provinsi Guizhou.

Kedua orang tuanya berprofesi sebagai guru sekolah, seperti dilansir dari laman resmi Huawei.

“Saya berasal dari latar belakang keluarga yang sederhana. Kami punya garam untuk dimasak sehingga kami dianggap berkecukupan,” kisahnya kepada BBC pada 2015.

Pada pertengahan 2016, media sosial China diramaikan oleh sebuah foto yang memperlihatkan Ren Zhengfei sedang mengantre untuk naik taksi. Banyak pengguna internet kontan mengungkapkan kekaguman mereka terhadap sifat sang taipan.

Ren, yang terkenal karena sifatnya yang rendah hati, sekejap menjadi sensasi di dunia maya setelah fotonya menunjukkan dia mengantre taksi di luar Bandara Hongqiao Shanghai.

Ia dapat terlihat berbicara di ponselnya sambil berdiri dengan barang-barang bawaannya di ruang tunggu luar dekat deretan taksi-taksi berwarna kuning.

Foto itu diunggah ke situs web microblogging weibo oleh seorang pendiri startup bernama Chen Xueping. “Teman saya mengambil foto seorang pria yang tampak seperti Ren Zhengfei mengantre taksi di Bandara Hongqiao,” tulisnya.

“Saya langsung dapat mengenali bahwa itu adalah Ren. Pendiri Huawei itu sedang mengantre untuk naik taksi, tanpa asisten atau sopir yang menunggu untuk membantunya,” lanjut Chen, seperti dikutip dari South China Morning Post.

Bukan sekali itu Ren terlihat 'merendahkan dirinya' di depan publik. Media sosial kembali ramai ketika foto lain memperlihatkan Ren sedang menaiki bus antarjemput bandara.

“Sebagai seorang bos, ia bertindak sebagai panutan yang baik untuk karyawan-karyawan perusahaannya,” tulis seorang blogger, yang komentarnya menjadi salah satu yang paling "disukai" di portal berita Tencent.

“Di sisi lain, banyak eksekutif senior perusahaan milik negara melakukan hal sebaliknya, sehingga menyebabkan pemborosan sumber daya yang besar dan juga kinerja perusahaan yang buruk.”

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
china, amerika serikat, huawei, perang dagang AS vs China

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top