Kamar Keluarga Tawarkan Peluang Passive Income Lahan dan Properti Tidak Produktif

PT Hoppor International atau Kamar Keluarga membuka peluang kerjasama bagi masyarakat yang memiliki lahan atau bangunan tidak terpakai untuk dijadikan bangunan indekos dengan konsep co-living yang akan memberikan passive income.
Mia Chitra Dinisari
Mia Chitra Dinisari - Bisnis.com 28 September 2019  |  12:40 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - PT Hoppor International atau Kamar Keluarga membuka peluang kerjasama bagi masyarakat yang memiliki lahan atau bangunan tidak terpakai untuk dijadikan bangunan indekos dengan konsep co-living yang akan memberikan passive income.

Direktur Utama Hoppor International Charles Kwok mengatakan menjawab kebutuhan indekos co-living yang semakin tinggi, Kamar Keluarga membuka peluang bagi masyarakat pemilik lahan maupun bangunan tidak terpakai untuk dijadikan passive income. Ini sesuai dengan identitas Kamar Keluarga sebagai startup property, yang mengubah aset tidak produktif menjadi aset produktif dengan passive income.

“Kamar Keluarga akan membangun lahan maupun bangunan tidak terpakai menjadi bangunan kamar kos-kosan yang aman, nyaman dan terjangkau. Nantinya kami akan memberikan bagi hasil untuk pemilik lahan maupun bangunan awal dengan besaran disesuaikan dengan pembangunan yang dilakukan Kamar Keluarga,” kata Charles, Sabtu (28/9) seperti dikutip dari siaran persnya.

Charles menambahkan sesuai dengan salah satu pilar bisnis perusahaan, yakni Kamar Keluarga Aset, disini perusahaan bekerjasama dengan banyak investor. Investor disini maksudnya adalah orang pemilik lahan yang sulit untuk dijual atau lahan peninggalan orang tuanya seperti rumah warisan, rumah tua, bisa diubah oleh Kamar Keluarga dengan skema kerjasama yang baik agar menghasilkan passive income.

“Dengan pola BOT (Build Operate Transfer) atau sistem bagi hasil, bagi pemilik lahan atau bangunan, Kamar Keluarga menjadikan lahan/bangunan tidak produktif menjadi indekos. Nantinya mereka akan mendapat uang sewa jangka panjang 10-25 tahun tergantung besarnya dana yang kami keluarkan. Setelah dimasa akhir penyewaan maka bangunan akan menjadi milik mereka, terserah mereka mau perpanjang atau tidak,” ujar Charles.

Charles menambahkan Kamar keluarga unggul dalam memaksimalkan lahan terbatas namun menjadi sangat efektif, seperti membangun 32 kamar kos di atas tanah 105 meter. Dengan demikian dapat memaksimalkan passive income kepada pemilik lahan/bangunan.

Selanjutnya, Kamar Keluarga akan mengelola indekos tersebut secara professional. Untuk itu, Kamar Keluarga bekerja sama dengan berbagai aplikasi seperti Traveloka, Tiket.com, Agoda, Booking.com, AirBnB, PegiPegi, Airy Rooms, dan Mister Aladin untuk layanan pemesanan kamar.

Direktur Hoppor International, Ferry Lukas mengatakan Kamar Keluarga menyediakan layanan hunian co-living dengan jaringan terlengkap di Indonesia. Saat ini kamar yang dimiliki Kamar Keluarga sebanyak 2.041 di 75 lokasi strategis dan gampang diakses oleh transportasi umum yang berada di Jabodetabek dan Bandung.

Kamar Keluarga memanfaatkan teknologi untuk memberikan fasilitas dan pelayanan yang komprehensif sehingga seluruh kebutuhan end to end pelanggan dapat terpenuhi hanya dengan telepon genggam saja.

“Kamar Keluarga ini beda, karena kami menggunakan konsep co-living. Yang membedakan adalah, di Kamar Keluarga kita juga membangun komunitas. Penghuni kos nantinya tidak hidup sendiri-sendiri, kami mempertemukan mereka dengan membuat acara-acara edukasi, talkshow, mengundang ahli-ahli yang menarik untuk pengembangan diri penghuni juga,” kata Ferry.

Dengan konsep hunian co-living yang nyaman maka akan terbuka peluang untuk layanan baru Kamar Keluarga yang masuk kedalam kebutuhan keluarga seperti Transportasi, Logistik, Makanan, Gaya Hidup, Atraksi Kegiatan, Entertainment, dan Belanja Kebutuhan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Tempat Indekos

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top