Perawatan Kecantikan dalam Genggaman Tangan

Teh dan masker daun kelor semakin diminati oleh masyarakat dari berbagai kalangan. Produk asal Dompu ini juga diincar oleh penduduk Korea, Taiwan dan China.
Novita Sari Simamora
Novita Sari Simamora - Bisnis.com 30 September 2019  |  17:23 WIB
Perawatan Kecantikan dalam Genggaman Tangan
Ilustrasi - Makeupandbeauty

Satu gundukan bubuk masker daun kelor berada di atas tatakan. Satu sendok makan air bersuhu normal mengelilingi bubuk hijau tersebut lalu diaduk hingga tercampur rata dengan dengan air.

Diaduk perlahan. Seolah sedang mengelus kulit bayi lalu dioleskan pada wajah dan didiamkan hingga selama 20 menit. Perawatan tersebut bukanlah pertama kali dilakukan Putri, gadis milenial berusia 25 tahun. Dia ingin menghilangkan beberapa bekas jerawat yang berada pada jidat dan kulit rahang bawah. Baginya, dua bagian tersebut sangat rawan dikunjungi jerawat, sebab rambutnya sering sekali menutupi area kulit itu.

Ditambah lagi dengan rutinitasnya sebagai pekerja swasta yang sangat bergantung pada aplikasi transportasi berbasis online di Jakarta, kian menambah jumlah kunjungan jerawat. Sering kali dia menemukan helm berbau tak sedap. Lembab. Busa pipi dan jidat helm yang hitam pun sudah berubah warna.

Kegiatan perawatan wajah tersebut dilakukan satu kali dalam seminggu, tepatnya Sabtu, karena hari libur.

Putri membeli masker daun kelor lewat smartphone. Caranya, berselancar di situs-situs belanja online menggunakan ponsel cerdas saat makan siang. Tangan kanan memegang sendok makan, tangan kiri menggenggam ponsel pintar. Keputusan membeli masker daun kelor muncul saat membaca khasiat yang tertera pada keterangan produk serta ulasan dari pembeli-pembeli sebelumnya.

Sebelum memutuskan untuk membeli masker daun kelor, Putri mencari marketplace yang menyediakan pengiriman gratis. Untungnya, Shoppee menggandeng JNE untuk memberikan vocer gratis ongkos kirim. Wajahnya merekah, bibirnya tersenyum kecil dan masker daun kelor pun dipesan.

Pemesanan masker daun kelor ini pun menambah koleksi Putri di kamar. Sheet mask dari Korea hingga Amerika sudah menjadi penghuni meja kosmetiknya.

Daun kelor memiliki nama latin moringa. Masker moringa tersebut berasal dari Kecamatan Kilo, Kabupaten Dompu Nusa Tenggara Barat (NTB). Kilo berjarak 67 km dari ibu kota kabupaten Dompu. Produk asal NTB ini dipesan oleh konsumen dari Pulau Sumatra, Jawa jagoan di provinsinya.

Nasrin H Mukhtar adalah pendiri Moringa Kidom yang mengolah daun kelor menjadi teh dan masker. Kini ada 5 macam produk yang dimiliki oleh Moringa yakni teh kemasan aluminium, teh kota, bubuk teh dalam kaleng, kapsul dan masker.

Bak peribahasa, dunia tak selebar daun kelor. Kalimat tersebut memecut Nasrin untuk tak cepat berpuas diri. Ekspansi melalui melalui marketplace lokal dan internasional menjadi strateginya.

Dia pun menjual Moringa Kidom melalui Alibaba.com. Produk daun kelor tersebut telah dipesan oleh konsumen asal Taiwan, China dan Korea. Kini, dia mengatur strategi ekspor teh ke Eropa dan Amerika Serikat. "Orang-orang di Asia Timur ingin teh berwarna merah ke hitam-hitaman, sedangkan dari Eropa dan AS ingin teh yang hijau," ungkapnya kepada Bisnis baru-baru ini.

Selama ini, Nasrin menjemur teh di atas terik matahari untuk menciptakan warna cokelat pada daun teh. Kali ini, dia akan memanggang daun kelor menggunakan oven untuk menjaga daun tetap menghasilkan warna hijau.

Baginya, bisnis teh daun kelor sangat menjanjikan. Kini dia telah menambah produksi hingga 500 teh kotak per hari dan 1.000 kaleng per hari. Strategi marketing di dalam negeri juga diperkuat dengan bekerja sama pada beberapa komunitas, bahkan Moringa telah meneken kontrak untuk memproduksi 4.000 kotak teh per bulan pada jasa perjalanan jemaah haji.

Untuk penjualan dan pengiriman di dalam negeri, Nasrin memilih menggunakan jasa PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE), karena menciptakan rasa aman, nyaman dan sesuai dengan waktu yang ditentukan. Pemantauan pengiriman barang dapat dilakukan dengan mudah.

Bagi konsumen yang memesan Moringa tanpa melalui situs belanja online, bakal mendapatkan foto resi pengiriman barang. Pemberitahuan durasi pengiriman juga bakal diberitahukan kepada pembeli.

Saat permintaan teh dan masker daun kelor semakin meningkat, Nasrin justru kesulitan memperoleh bahan baku. Hingga saat ini, dia menerima permintaan daun kelor hingga 4 kointaner per bulan, Timur Tengah sekitar 500 ton per bulan. Permintaan tersebut belum terpenuhi olehnya.

"Ini semua permintaan dalam bahan baku. Saya punya prinsip, kalau permintaan bahan baku, maka saya agak sulit mengiyakan. Tetapi kalau permintaan dalam bentuk produk, saya siap untuk melayani," tambahnya.

Untuk memenuhi permintaan tersebut, Nasrin menggandeng dan mengajak petani-petani lain untuk menanam daun kelor. Sampai saat ini, telah ada 30 ha lahan baru yang ditanami daun kelor. Harapannya, ketersediaan bahan baku memenuhi permintaan teh dan masker di dalam dan luar negeri.

DIGITALISASI PERKUAT EKSPOR

Usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) bisa naik kelas dengan mudah bila pengusahanya kreatif dan aktif mendigitalisasi penjualan produk-produk.

Asosiasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (Akumindo) mencatatkan, kontribusi UMKM terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional diprediksi akan terus tumbuh hingga 5 persen, hingga akhir 2019. Tahun lalu, kontribusi UMKM terhadap PDB tahun 2018 lalu mencapai sekitar 60,34 persen. Diperkirakan untuk tahun ini bisa mencapai angka 65 persen atau sekitar Rp2.394,5 triliun.

Dalam rangka mendigitalisasi beraneka produk UMKM, maka JNE menyediakan fasilitas digital payment cashless untuk memudahkan pelanggan ketika bertransaksi. JNE juga menyediakan e-fulfillment logistic guna mempermudah proses bisnis para pelaku UMKM atau industri kreatif.

Berbagai kemudahan pun disiapkan JNE seperti berkolaborasi dengan Gopay dan OVO, untuk membayar jasa pengiriman. Kerja sama ini semakin menguatkan dan memperluas integrasi pembayaran digital, serta memudahkan masyarakat serta pelaku usaha.

M. Feriadi, Presiden Direktur JNE, mengungkapkan, kolaborasi tersebut adalah bentuk nyata komitmen perseroan untuk terus berinovasi agar dapat selalu memenuhi kebutuhan pelanggan di era digital. Apalagi dengan terus meluasnya transaksi nontunai juga seiring dengan perluasan jaringan JNE di seluruh nusantara.

Hingga saat ini, JNE rutin mengirimkan sekitar 20 juta paket pelanggan setiap bulan. Jumlah tersebut secara meningkat lebih dari 30 persen setiap tahun. Saat ini, dompet digital tersedia di kota, kabupaten dan desa-desa di seluruh Indonesia.

Kolaborasi JNE dengan dompet digital tersebut, semakin memudahkan Putri. Rutinitan belanja online gadis milenial ini bakal semakin mudah.

Usai mengenakan masker daun kelor dari Moringa Kidom, Putri merasakan kulitnya lebih lembut dan bekas jerawat memudar. Baginya, perawatan kecantikan kini dalam genggaman tangan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
jne, kecantikan

Editor : M. Taufikul Basari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top