Meninggal Dunia dalam Tidur, Ini Sosok Menginspirasi CEO Bernard J. Tyson

Tak ada yang tahu kapan ajal akan menjemput. Kematian Tyson terbilang mengejutkan. Sehari sebelum ia wafat, Sabtu (9/11/2019), Tyson masih menjadi pembicara dalam acara AfroTech di Oakland, California.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 11 November 2019  |  14:18 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Bernard J. Tyson, Chairman dan CEO penyedia layanan kesehatan ternama di Amerika Serikat (AS) Kaiser Permanente, dikabarkan telah wafat dengan tenang dalam tidurnya pada Minggu (10/11/2019) waktu setempat.

“Atas nama Dewan Direksi, para karyawan dan dokter, kami menyampaikan simpati yang terdalam kepada keluarga Bernard selama masa yang sangat sulit ini. Ia meninggal dalam tidurnya,” terang manajemen Kaiser dalam sebuah pernyataan, dikutip dari USA Today.

Tyson menjadi CEO Kaiser pada 2013 setelah bekerja di perusahaan selama hampir tiga dekade. Pria kelahiran 20 September 1959 ini berhasil mendorong pendapatan organisasi dan meningkatkan keanggotaan dalam rencana asuransi perusahaan.

“Bernard adalah seorang kolega yang luar biasa, seorang pemimpin yang penuh passion, dan seorang pria terhormat. Kami akan sangat merindukannya,” ujar Edward Pei, seorang direktur perusahaan.

Naiknya peran Tyson menjadi CEO bertepatan dengan penerapan undang-undang kesehatan (Affordable Care Act) yang diusung oleh Presiden Barack Obama pada masa pemerintahannya. Masa-masa ini menjadi periode yang transformatif dalam perawatan kesehatan di Amerika.

Menurut situs perusahaan, pendapatan Kaiser tumbuh dari US$53 miliar pada tahun ia mengambil kendali perusahaan menjadi US$79,7 miliar pada 2018.

Keanggotaan layanan kesehatan perusahaan pun tumbuh menjadi 12,3 juta dari 9 juta. Pada 2017, ia didaulat masuk ke dalam daftar 100 Orang Paling Berpengaruh versi Time Magazine, seperti dilansir Bloomberg.

“Selama masa jabatannya, Bernard fokus pada kesehatan masyarakat dan perawatan pencegahan, ketimbang hanya mengobati penyakit. Ia berupaya untuk memberikan perawatan kesehatan yang berkualitas tinggi, terjangkau, dan dapat diakses untuk semua anggotanya,” tutur seorang tokoh Partai Demokrat, John Lewis

“Dan dari posisinya yang berpengaruh besar, ia telah membawa aspek kedokteran yang sering diabaikan ke permukaan, yakni kesehatan mental dan emosional,” ungkap Lewis.

Tak ada yang tahu kapan ajal akan menjemput. Kematian Tyson terbilang mengejutkan. Sehari sebelum ia wafat, Sabtu (9/11/2019), Tyson masih menjadi pembicara dalam acara AfroTech di Oakland, California. Saat itu ia tampak bersemangat bahkan mengunggah beberapa foto di Twitter.

“Sabtu ini, saya akan membahas teknologi dan ekuitas di AfroTech.. Saya harap bisa bertemu Anda semua dalam kesempatan itu,” tulis Tyson dalam akun Twitter miliknya.

Tyson menggantikan George Halvorson sebagai CEO pada 2013 dan telah memimpin Kaiser selama enam tahun terakhir. Dengan kepemimpinannya, ia menorehkan sejarah sebagai CEO berkulit hitam pertama perusahaan sejak didirikan pada tahun 1945.

Tyson menghabiskan 34 tahun dengan Kaiser Permanente dalam berbagai posisi, termasuk sebagai administrator rumah sakit, menurut biografi perusahaan.

Warga San Francisco Bay Area ini menerima gelar sarjana dalam manajemen layanan kesehatan dari Golden Gate University di San Francisco dan pernah memegang sejumlah peran di tengah masyarakat.

Di antara peran yang pernah diembannya adalah anggota Business Council and the Bay Area Council. Ia juga pernah duduk dalam dewan direksi American Heart Association, menurut beberapa sumber.

Kurang dari sepekan sebelum kematiannya, Tyson blak-blakan mengomentari rencana "Medicare for All" yang dibawakan calon presiden dari Partai Demokrat, Elizabeth Warren.

Kepada MSNBC, Tyson mengatakan hal itu dapat memaksa beberapa karyawannya keluar dari pekerjaan mereka. Isu-isu kesehatan memang bagian besar dari kehidupan Tyson.

Tyson telah membantu Kaiser Permanente menjadi pemimpin dalam mentransformasikan bagaimana sistem perawatan kesehatan dapat memiliki dampak yang lebih besar pada kesehatan penduduk.

Secara historis, banyak rumah sakit dan sistem perawatan kesehatan di AS telah terlalu fokus pada perawatan rawat inap dan sakit, karena memang di area inilah uang mengalir.

Di bawah kepemimpinan Tyson, Kaiser Permanente namun mengambil langkah-langkah besar untuk memperluas peran perawatan kesehatan di luar dinding rumah sakit dan klinik.

“Misalnya, ada inisiatif yang berkelanjutan untuk mengatasi obesitas dan tuna wisma di komunitas-komunitas sekitar fasilitas Kaiser,” tulis Bruce Y. Lee, kontributor Forbes.

“Contoh lain adalah kemitraan pertama perusahaan dengan liga basket AS, National Basketball Association (NBA), untuk menangani atau membantu masalah kesehatan anak-anak,” lanjut Lee.

Ada pula soal perubahan iklim. Menyadari dampak yang dapat diterima karyawan mereka akibat polusi dan iklim, Kaiser Permanente telah mengambil langkah-langkah untuk menjadi netral karbon pada tahun 2020.

“Ketika saya berbicara dengan Tyson awal tahun ini, percakapannya lebih tentang visi bagaimana perawatan kesehatan semestinya dan apa yang harus dilakukan sistem perawatan kesehatan yang baik ketimbang ulasan mengenai betapa hebatnya hal-hal yang sudah ada,” papar Lee.

Sebagai gantinya, Tyson berbicara panjang lebar tentang bagaimana Kaiser berusaha untuk tidak hanya menjadi reaktif tetapi juga mengangkat faktor penentu kesehatan seperti meningkatkan infrastruktur dasar, mempromosikan makan sehat, dan berolahraga.

Dari mana inspirasinya ini datang? Menurut Lee, Tyson ternyata mendapat inspirasi yang luar biasa besar dari ibunya. Sepanjang hidup Tyson, sang ibu dikisahkan sering sakit-sakitan. Pada masa-masa inilah, ia dan ibunya memperoleh perawatan dari dokter yang hebat.

Sebagai seseorang berkulit hitam, Tyson juga tidak segan berbicara tentang ras, etnis, dan jenis kelamin. Sayangnya, karakteristik demografis ini masih memengaruhi perawatan kesehatan di dalam dan luar rumah sakit.

Oleh karenanya, ia memiliki minat yang kuat dalam mengurangi kesenjangan perawatan.

"Fakta bahwa seseorang mungkin tidak mendapatkan apa yang seharusnya mereka peroleh karena warna kulit atau orientasi seksual adalah sesuatu yang tidak dapat diterima. Titik,” tegas Tyson pada suatu waktu.

Setelah mengabdi selama lima tahun sebagai CEO dan lebih dari 30 tahun di Kaiser, Tyson terbukti menorehkan dampak besar pada bidang perawatan kesehatan dalam banyak hal. Tugasnya di dunia kini telah usai pada usia 60 tahun.

“Di atas segalanya, Bernard adalah suami, ayah, dan teman yang berkomitmen. Kita semua akan kehilangan kehadirannya yang luar biasa dalam hidup kita,” pungkas Kaiser dalam pernyataannya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ceo

Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top