Mengeluh, Apa Manfaatnya?

Mengeluh dan terus merasa kekurangan hanya akan menghasilkan kekecewaan dan kesedihan, yang ujungnya akan membuat hidup menjadi sengsara. Jauh dari nikmat hidup yang kita sebut sebagai bahagia.
Pongki Pamungkas*
Pongki Pamungkas* - Bisnis.com 18 November 2019  |  08:22 WIB
Mengeluh, Apa Manfaatnya?
Pongki Pamungkas - Jibi

" Apapun alasannya, mengeluh tak akan pernah menyelesaikan masalah " (Muamar Agus Salim).

" Duuh panas banget sih hari ini. Payah banget penjualan bulan ini. Kenapa sih atasan enggak percaya juga ama gua ? Capek deh mendidik anak gua yang satu ini ! Duuh, saham-saham gua merosot terus ! ". Keluhan demi keluhan terlontar dari mulut banyak orang, dalam rupa-rupa kasus.

Dan memang benar, apa yang dikatakan-Nya dalam Alqur'an, "Manusia adalah mahluk yang suka berkeluh kesah". Dan tentu firman-Nya ini adalah tantangan bagi hamba-Nya untuk memperbaiki diri, untuk menjauhi kebiasaan berkeluh kesah. Saya sendiri masih terus berjuang, agar kebiasaan saya mengeluh ini setidak-tidaknya berkurang. Perjuangan yang tak mudah, memang.

Padahal saya juga paham terhadap yang dikatakan Greg S. Reid ini, "Jangan pernah mengeluhkan masalah Anda. Karena 95% orang tidak peduli, dan 5% lainnya gembira karena hal itu terjadi pada Anda". Lebih buruk lagi, keluhan kita itu akan menjadi bahan pembicaraan negatif yang akan menyebar kemana-mana. Keluhan itu seolah menjadi siaran ulang berbagai kelemahan kita yang akan didengar banyak orang.

" Perjuangan akan makin berat manakala kita mulai mengeluh dan membandingkannya dengan beban orang lain yang terlihat lebih ringan", kata Harry Slyman. Kita mengeluh dan melihat rumput tetangga lebih hijau. Kita merasa iri terhadap nasib orang lain. Padahal, bisa jadi " Hidup yang Anda keluhkan, kadang adalah hidup yang orang lain inginkan ". Idiom Jawa menyebutnya sebagai " sawang sinawang ". Saling melihat dan saling mengiri.

Nasihat klasik ini relevan. Mari terus belajar sabar. Belajar dalam artian melatih pikiran dan sikap positif yang akan menolong 'hasrat' mengeluh untuk lebih terkendali. Bersabar dalam artian, bahwa sesudah kegelapan, akan muncul sinar nan cerah. Bersabar bahwa badai pasti berlalu. "Sabar itu ilmu tingkat tinggi. Belajarnya setiap saat. Latihannya setiap saat. Ujiannya sering mendadak".

Mengeluh, secara spiritual, adalah sikap yang seakan menyalahkan Dia Yang Maha Kuasa. Segala sesuatu yang terjadi di alam fana ini adalah semata-mata kehendak Nya. Karena itu pula, selain sikap sabar yang perlu kita terus latih, kepandaian bersyukur pun wajib selalu diasah. "Orang-orang yang bersyukur akan selalu merasa bahagia. Tapi orang-orang yang mengeluh akan selalu merasa kurang".

Mengeluh hanya akan menambah beban pikiran kita. Dan penambahan beban pikiran (negatif) hanya akan membuahkan penyakit. Karena kita tahu, separuh dari penyebab munculnya penyakit, di luar dari kombinasi pola hidup yang tak sehat, adalah faktor pikiran. Mengeluh dan terus merasa kekurangan hanya akan menghasilkan kekecewaan dan kesedihan, yang ujungnya akan membuat hidup menjadi sengsara. Jauh dari nikmat hidup yang kita sebut sebagai bahagia.

Khrisna Pabicara bertutur, " Aku ceritakan kesedihanku kepada sungai, agar sungai mengajariku bagaimana mengalir tanpa sedikitpun mengeluh ".

*Penulis buku-buku "Life and Management Wisdom Series" :

  • The Answer Is Love
  • All You Need Is Love
  • To Love and To be Loved
  • Love of My Love

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
motivasi

Editor : Fajar Sidik
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top