Unicorn Indonesia Dituntut Makin Profesional Tahun Depan

Unicorn dituntut lebih jeli dalam mengedepankan strategi inovasi dan keberlanjutan. Gonjang-ganjing OVO beberapa waktu lalu juga jadi pelajaran penting. Bakar uang untuk promosi tak bisa lagi jadi andalan.
M. Taufikul Basari
M. Taufikul Basari - Bisnis.com 03 Desember 2019  |  05:58 WIB
Unicorn Indonesia Dituntut Makin Profesional Tahun Depan
Salah satu pelaku IKM mencoba pembayaran nontunai melalui aplikasi Ovo. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Kasus bakar uang platform penyedia ruang kerja WeWork patut menjadi pelajaran bagi startup unicorn di Indonesia. Pasalnya, bakar uang tidak selalu berdampak positif, walaupun bukan hal yang salah untuk terus menerus berekspansi.

Unicorn dituntut lebih jeli dalam mengedepankan strategi inovasi dan keberlanjutan. Gonjang-ganjing OVO beberapa waktu lalu juga jadi pelajaran penting. Bakar uang untuk promosi tak bisa lagi jadi andalan.

Apalagi, tahun depan ekonomi global diprediksi akan semakin bergejolak dan volatile di tengah dampak perang dagang yang tak kunjung reda. Bahkan, jika tidak dibarengi kebijakan tepat, Indonesia bisa terkena dampaknya. Karena itu, perlu pendekatan dan inovasi dari para unicorn agar konsumen tetap loyal.

“Tahun depan memang besar kemungkinan ekonomi global melambat. Investor startup juga diperkirakan akan mengurangi bakar uang,” kata Direktur Riset Core Indonesia Piter Abdullah,Senin (2/12).

Menurutnya, investor tidak akan selamanya bakar uang. Ada waktu mereka melambat dan kemudian berhenti bakar uang. 

Apalagi investor unicorn di Indonesia sudah cukup lama bakar uangnya. Kecuali, bila nanti ada unicorn baru dengan produk-produk baru, investor akan kembali bakar uang untuk promo.

Namun untuk unicorn yang sudah eksis, seperti Bukalapak, Tokopedia, OVO, dan lain-lain, strategi itu akan dikurangi. Menurut Piter, pengelolaan unicorn juga perlu profesional. Apalagi, para investor yang menanamkan duit, sudah mulai menyinggung soal laba dan keuntungan bisnis.

“Mereka tetap investor profesional. Tujuan mereka tetap laba. Cuma cara mencari laba nya yang tidak lagi sama dengan pendekatan bisnis konvensional dan mengambil lebih banyak lagi risiko. Unicorn sejatinya adalah bisnis inovasi, terlepas dari kondisi ekonomi,” kata Piter.

Para investor dan unicorn akan belajar banyak dari kasus WeWork untuk pengelolaan startup yang mereka danai. Dengan begitu, akan ada evaluasi dan penekanan terhadap perusahaan yang didanai agar lebih efisien dan tidak bakar-bakar uang lagi.

Menurutnya, Unicorn Indonesia dapat meniru profesionalisme Alibaba dalam melakukan scale-up, meningkatkan efisiensi, dan menghasilkan keuntungan. Alibaba berhasil melakukan semua ini meskipun baru saja ditinggal pendirinya, Jack Ma.

Perusahaan bervaluasi Rp2.000 triliun itu telah melakukan pencatatan perdana di bursa saham Hong Kong dan berhasil menghimpun dana sebesar US$ 11,3 miliar. Pada hari pertama perdagangannya, harga saham Alibaba melesat naik lebih dari 6%.

Menurut Piter, apa yang diraih Alibaba karena manajemen memiliki visi yang sangat jelas dan kemudian dieksekusi dengan sangat baik. Alibaba juga tidak bergantung pada figur, namun pada kepemimpinan manajerial kolektif yang profesional.

Seluruh rangkaian keberhasilan manajemen Alibaba ini menciptakan track record yang membuat mereka sangat dipercaya. Kepercayaan ini selanjutnya berpengaruh kepada pihak eksternal yang kemudian meyakini apapun yang dilakukan oleh Alibaba akan berhasil.

Di sisi lain, faktor kepemimpinan selalu berperan di organisasi khususnya di sebuah perusahaan. Pemimpin yang baik tidak saja mampu memaksimalkan pemanfaatan semua sumber daya organisasi, tapi mempersiapkan sistem agar organisasi menjadi tidak bergantung kepada satu orang pemimpin saja.

Termasuk juga, mempersiapkan suksesi yang menjamin tidak terputusnya kepemimpinan yang baik di organisasi, seperti Alibaba.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ovo, Unicorn

Editor : M. Taufikul Basari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top