Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pelajaran Pemasaran Bisnis dari Pendiri Nike, Phil Knight

Dengan kekayaan bersih US$38,4 miliar, menurut data Forbes Real-Time Billionaires List, dia juga salah satu wirausahawan mandiri terkaya dan merupakan orang terkaya di dunia ke-25 versi Forbes
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 30 Juni 2020  |  12:31 WIB
Phill Knight
Phill Knight

Bisnis.com, JAKARTA -- 56 tahun yang lalu, salah satu pendiri Nike Inc. , Phil Knight, membangun perusahaan dari ide yang dimilikinya di sekolah pascasarjana hingga menjadi salah satu perusahaan terbesar di dunia.

Dengan kekayaan bersih US$38,4 miliar, menurut data Forbes Real-Time Billionaires List, dia juga salah satu wirausahawan mandiri terkaya dan merupakan orang terkaya di dunia ke-25 versi Forbes.

Knight mungkin telah mengundurkan diri sebagai chairman Nike pada 2016, tetapi warisannya akan tetap hidup.

Dilansir melalui Business Insider, ide untuk Blue Ribbon Sport, yang kemudian menjadi Nike Inc., pertama kali terbesit oleh Knight saat dia belajar di Sekolah Pascasarjana Bisnis Stanford.

Bersama dengan Bill Bowerman, yang merupakan pelatih larinya, mereka masing-masing menempatkan modal US$500 untuk membangun sebuah perusahaan dari nol.

Awalnya, strategi bisnis BRS adalah untuk mengimpor sepatu dari Jepang, Onitsuka Tigers, dan mendapatkan keuntungan dari markup harga jual tinggi di AS.

Pada tahun 1971 Bowerman membuat desainnya sendiri, yang kemudian menjadi sol karet waffle khas Nike. BRS tetap unggul di pasar Asia dan membuat sepatu yang diproduksi jauh lebih murah daripada pesaing seperti Adidas, yang beroperasi di Jerman.

Knight dan Bowerman melakukan rebranding pada 1971 dan melahirkan Nike yang kita kenal sekarang.

Koneksi Knight dan Bowerman dengan komunitas lari dan fokus pada menghasilkan produk berkualitas tinggi menjadikan Nike pilihan utama bagi atlet profesional.

Salah satu desain sepatu yang menandakan awal kejayaan Nike adalah "Nike Cortez" yang dirilis pada 1972 bersamaan dengan Olimpiade 1972 di Munich.

Nike Cortez, yang beberapa tahun belakagan kembali booming di pasaran, tersedia dalam berbagai warna dan memulai debutnya dengan logo “swoosh” Nike yang menjadikannya salah satu sepatu kets pertama yang sangat menarik dan dianggap memiliki nilai fashion.

Salah satu prestasi terbesar Knight adalah ketika dia meneken kontrak dengan Michael Jordan untuk kesepakatan sponsor dan peluncuran Air Jordan, sekarang salah satu waralaba sepatu sneaker paling sukses sepanjang masa.

Setelah berhasil merilis AirForce 1 dan Air Jordan, penjualan Nike mulai runtuh pada pertengahan 1980-an, Knight sadar perusahaan perlu membuat perubahan besar.

Saat itulah dia menyadari meskipun Nike memasarkan produknya kepada para atlet top, mayoritas pelanggannya adalah masyarakat biasa, yang kebanyakan dari mereka bahkan tidak menggunakan sepatu Nike untuk olahraga.

Knight mengubah Nike dari perusahaan yang berorientasi produk menjadi perusahaan yang berorientasi pemasaran.

Dia mulai menarik perhatian masyarakat umum, yang akhirnya membalikkan penjualan. Pada akhir tahun 1991, perusahaan telah memperoleh kembali pijakannya, dengan penjualan berjumlah lebih dari US$3 miliar.

"Hal terpenting yang kami lakukan adalah memasarkan produk," kata Knight kepada Harvard Business Review pada 1992.

“Pemasaran menyatukan seluruh organisasi. Elemen desain dan karakteristik fungsional dari produk itu sendiri hanyalah bagian dari keseluruhan proses pemasaran," ujarnya.

Ide jenius pemasaran Knight berasal dari fakta bahwa dia tidak fokus hanya pada penjualan sepatu, dia selalu membuat bisnisnya memiliki nilai lebih. Dia menyatakan bahwa dia tidak berada dalam bisnis sepatu - sebaliknya, dia berada dalam bisnis hiburan.

Pada tahun 1990-an, Nike menghadapi kendala lain karena menggunakan pabrik-pabrik sweatshop dan praktik perburuhan yang tidak adil.

Pelanggan mulai memboikot merek dan melakukan protes di luar tokonya, menciptakan stigma negatif yang luas terhadap Nike dan berlangsung hampir satu dekade.

Ditambah dengan tekanan krisis moneter yang menyerang dan penjualan yang sangat rendah pada 1998, Nike terpakasa memangkas jumlah pekerja.

Sekali lagi, Knight yang saat itu menjabat sebagai CEO mengambil alih krisis.

Dia mengakui reputasi buruk perusahaan, menaikkan upah minimum yang dibayarkan kepada pekerja, meningkatkan pengawasan praktik perburuhan, dan memastikan pabrik memiliki kondisi kerja yang lebih baik.

Persepsi publik mulai berbalik, dan Nike menemukan dirinya kembali di atas.

Menurut Forbes, saat ini pendapatan Nike Inc. mencapai US$39 miliar.

Knight juga diketahui telah menyalurkan lebih dari US$500 juta dalam bentuk sumbangan untuk Universitas Oregon dan Sekolah Pascasarjana Bisnis Stanford, almamaternya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

nike tokoh bisnis
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top