Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pemimpin Marah, Jangan Sampai Permalukan Anak Buah

Para pemimpin harus peduli dengan kesehatan mental bawahannya untuk menciptakan lingkungan kerja dan produktivitas yang positif.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 03 Juli 2020  |  15:41 WIB
Pemimpin yang pemarah sulit mengendalikan emosi dan cenderung mempermalukan anak buah - Slideshare
Pemimpin yang pemarah sulit mengendalikan emosi dan cenderung mempermalukan anak buah - Slideshare

Bisnis.com, JAKARTA - Pemimpin bijak adalah yang  mampu mengendalikan emosinya saat sedang marah kepada bawahannya.

Semua orang tahu bahwa pemimpin memiliki tanggung jawab untuk menjaga kestabilan perusahaan. Sayangnya sebagai salah satu bentuk ketegasan, ada kalanya Anda harus menegur anak buah yang melakukan kesalahan.

Meski demikian, Anda wajib melakukannya dengan cara yang benar. Maklum, menurut psikolog klinis dewasa dari Tiga Generasi @ Brawijaya Clinic, Alfath Megawati atau yang biasa dipanggil Ega mengatakan bahwa amarah atasan bisa berdampak buruk bagi pekerja.

Pertama dari segi kesehatan mental karyawan, Ega mengatakan bahwa kemarahan atasan dapat membuat para pekerja tertekan.

“Bos yang mudah marah dapat merugikan dari sisi kesehatan psikologis pegawai. Bahkan, bisa mengurangi ikatan (engagement) positif antara pegawai-perusahaan atau pegawai-atasan,” katanya, Jumat (3/7/2020).

Hal tersebut juga pada akhirnya bisa mempengaruhi kinerja para pekerja.

“Frekuensi marah yang sering, tidak hanya bisa membuat pegawai tertekan, tapi mungkin juga tidak lagi efektif membuat bawahan untuk bekerja produktif. Karena marah bukan lagi pendorong atau memotivasi, tapi menjadi hal biasa yang melekat pada atasan,” katanya.

Untuk itu, marah bisa dilakukan dengan cara yang benar. Tidak boleh terlalu sering marah dan wajib berdiskusi lewat teori OCDAC. Apa itu? OCDAC sendiri adalah kepanjangan dari open, clarify, develop, agree dan closing.

Dari opening, kita harus meluruskan tujuan agar tidak ada perbedaan persepsi. Kemudian, mulailah clarify atau mengklarifikasi mengenai ekspektasi yang dimiliki atasan dan menanyakan pula ekspektasi bawahan.

Lalu, develop atau dicari solusi serta aksi untuk memperbaiki kesalahan yang dilakukan. “Saat ini kita akan mencapai kesepakatan atau agreement dan terakhir jangan lupa menutup (closing) dengan ucapan terima kasih,” katanya.

Ketika OCDAC sudah dilakukan, Ega mengatakan masalah bakal lebih mudah diatasi. “Jadi, tidak ada yang dipermalukan, dan jelas juga bagaimana masalah tersebut dapat ditangani,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pemimpin marah Tips Kerja

Sumber : Tempo.co

Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top