Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Tadashi Yanai: Ingin Perusahaannya Lampaui H&M and Inditex

Sebuah anekdot menceritakan bahwa Tadashi Yanai menyimpan nama Uniqlo setelah salah mengeja singkatan untuk nama perusahaan yang seharusnya disingkat menjadi Uniclo.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 13 Juli 2020  |  12:46 WIB
Tadashi Yanai - Bloomberg
Tadashi Yanai - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA -- Tadashi Yanai adalah orang terkaya di Jepang yang juga chairman dan pemegang saham terbesar Fast Retailing Co. Ltd., pengecer pakaian terbesar di Asia dan induk dari Uniqlo.

Bloomberg Billionaires Index mencatat, grup yang berbasis di Tokyo ini memiliki sekitar 1.000 toko dan melaporkan pendapatan sebesar 2,3 triliun yen atau senilai US$20,8 miliar pada tahun yang berakhir 31 Agustus 2019.

Tadashi sekarang adalah orang terkaya ke 41 di dunia (Forbes) dan miliarder terkaya di Jepang (Bloomberg). Dia lahir pada tahun 1949, putra dari seorang penjahit dan seorang ibu rumah tangga di Jepang selatan selama pendudukan AS pascaperang.

Sebulan setelah dia lahir, ayahnya memulai bisnis toko pakaian pria di pinggir jalan, Men's Shop Ogori Shoji, di kota pertambangan Ube, sekitar 75 mil dari Hiroshima.

Toko itu terletak di lantai pertama sementara keluarga Yanai tinggal di lantai atas. Bisnis ini berkembang menjadi beberapa outlet di tahun 1960-an dan 1970-an.

Tadashi lulus dengan gelar di bidang ekonomi dan politik dari Universitas Waseda pada tahun 1971, dan memulai karirnya dengan menjual peralatan dapur dan pakaian pria di supermarket Jusco. Setelah satu tahun, dia berhenti dan bergabung dengan bisnis ayahnya.

Pada tahun 1984, Tadashi memulai Unique Clothing Warehouse di Hiroshima, kemudian menyingkat namanya menjadi Uniqlo. Dia mengubah nama perusahaan ayahnya Ogori Shoji menjadi Fast Retailing pada tahun 1991, yang mencerminkan strategi ekspansi rantai pakaian jadi.

Sebuah anekdot menceritakan bahwa Tadashi menyimpan nama Uniqlo setelah salah mengeja singkatan untuk nama perusahaan yang seharusnya disingkat menjadi Uniclo.

Usahanya tidak butuh waktu lama untuk menjadi pengecer dengan pertumbuhan tercepat di Jepang, dengan lebih dari 100 toko selama tiga tahun.

Dia mulai merancang, memproduksi, dan hanya menjual pakaian merek Uniqlo.

Jaket fleece Uniqlo, dijual seharga US$15, menjadi produk unggulan. Diperkirakan satu dari empat orang Jepang telah membeli barang dari Uniqlo pada tahun 1998.

Pada tahun 200 Uniqlo telah menjual 26 juta jaket fleece melalui lebih dari 400 toko, semuanya di Jepang. Tadashi mulai berekspansi ke luar negeri pada tahun 2001, namun akhirnya menutup 16 dari 21 toko di Inggris.

Tadashi Yanai: Ingin Perusahaannya Lampaui H&M and Inditex

Dia pun memulai bisnis distribusi makanan yang juga berakhir gagal. Kegagalan tidak menghentikan miliarder ini untuk membuka toko di seluruh dunia.

Sampai dengan Juli 2015, ada lebih dari 1.600 toko Uniqlo di seluruh dunia, di mana 630 di antaranya berada di luar Jepang.

Perusahaan berencana untuk membuka 100 toko setiap tahun di China, ini adalah pasar luar negeri terbesar, menurut laporan tahunan 2014 Fast Retailing.

Selain Uniqlo dan merek diskon GU, Fast Retailing telah berkembang dengan mengakuisisi bisnis mode lainnya, termasuk Helmut Lang, Theory, Comptoir des Cotonniers, Onezone, Cabin Corp. dan Princesse tam.tam.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pengusaha uniqlo tadashi yanai
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top