Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Selama Pandemi Covid-19, Berapa Banyak UMKM yang Gugur dan Tumbuh?

Menurut Founder dan CEO Legalku, M. Philosophi, selama masa pandemi Covid-19 tak dapat dipungkiri bahwa jumlah UMKM yang tutup usaha cukup banyak. Uniknya, selama 5 bulan masa karantina ini, ada banyak pula UMKM yang bermunculan.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 24 Juli 2020  |  12:34 WIB
Ilustrasi UMKM
Ilustrasi UMKM

Bisnis.com, JAKARTA – Selama masa pandemi Covid-19, banyaknya jumlah UMKM yang gulung tikar akibat krisis ternyata tidak mengurungkan niat tumbuhnya UMKM lain.

Menurut Founder dan CEO Legalku, M. Philosophi, selama masa pandemi Covid-19 tak dapat dipungkiri bahwa jumlah UMKM yang tutup usaha cukup banyak. Uniknya, selama 5 bulan masa karantina ini, ada banyak pula UMKM yang bermunculan.

“Jadi banyak yang gugur dan banyak juga yang baru tumbuh. Mungkin karena banyak yang kena PHK, lalu melihat ada peluang usaha baru muncul saat krisis ini,” kata Philo dalam IG Live bersama Bisnis, Jumat (24/7/2020).

Dia pun memberikan sejumlah tips sukses yang jitu bagi pelaku usaha yang baru memulai bisnis pada masa pandemi ini.

Pertama, pentingnya melakukan validasi bisnis. Adapun proses validasi ini adalah tahap awal memulai usaha, karena 90% potensi validasi bisa memproyeksikan peluang kesuksesan hingga kegagalan usaha terkait. Proses validasi yang penting dilakukan adalah validasi pasar (market validation) maupun validasi produk (product validation).

“Maka kita bisa mulai misalnya produknya skala kecil dulu yang berbiaya rendah, kalau masih belum optimis pada hasil validasi bisa dengan cara menjadi reseller dulu. Ketika proses validasi menyatakan sudah ada peluang pasar, barulah kita merilis produk,” ujar Philo.

Dia juga menegaskan dalam proses validasi, sangat penting bagi pelaku usaha mempersiapkan dana tunai untuk menjaga cash flow. Dengan dana tunai yang besar, maka pondasi usaha bisa lebih kuat melalui proses krisis yang penuh ketidakpastian.

“Jadi kalau misalnya bayar cicilan, ya cicilan jangan langsung full. Lalu kalau customer bisa biaya full, sebaiknya full. Kalau usaha B2B pastikan down payment bisa menutup capex. Jadi kata kuncinya, dengan cash yang banyak, UMKM laku, bisa meminimalisir krisis,” sambungnya.

Dia mengambil contoh, ada banyak klien Legalku yaitu UMKM sektor kuliner yang berguguran akibat cash flow yang mampet. Sebagai contoh, klien kuliner ini bermitra dengan hotel namun karena pembayaran dari hotel terkendala, akhirnya UMKM juga gugur.

“Maka penting sekali untuk berkolaborasi, pelaku usaha UMKM harus berkomunitas. Untuk sekiranya bisa menyelesaikan problem-problem tersebut,” ungkap Philo.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

umkm pandemi corona
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top