Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Nasib Bisnis Waralaba Restoran Siap Saji Semasa Pandemi

Sementara semua restoran, dari restoran kecil hingga rantai besar, telah dirugikan oleh kebijakan lockdown dan imbauan tinggal di rumah untuk mengurangi penyebaran virus corona baru.
Mia Chitra Dinisari
Mia Chitra Dinisari - Bisnis.com 04 November 2020  |  10:00 WIB
Papan tanda menyala pada malam hari di restoran McDonald's Corp. di Los Angeles, California, AS - Bloomberg/Kyle Grillot
Papan tanda menyala pada malam hari di restoran McDonald's Corp. di Los Angeles, California, AS - Bloomberg/Kyle Grillot

Bisnis.com, JAKARTA - Beberapa bisnis terpukul oleh pandemi COVID-19 seperti restoran.

Industri ini kehilangan 2,3 juta dari 12 juta pekerjaan, dan diperkirakan 100.000 restoran di seluruh AS akan tutup tahun ini.

Nyaris semua restoran, dari restoran kecil hingga rantai besar, telah dirugikan oleh kebijakan lockdown dan imbauan tinggal di rumah untuk mengurangi penyebaran virus corona baru.

Hal itulah yang memicu restoran siap saji Burger King merekomendasikan pelanggannya untuk membeli makanan dari kompetitornya, seperti McDonalds, Subway dan Pizza Hut.

Menurut artikel yang dilansir dari Mashable, bisnis restoran yang paling terpukul adalah yang skala kecil, sedangkan waralaba besar cenderung aman.

Alasannya, rantai makanan cepat saji memiliki keunggulan aplikasi seluler dan drive-thrus yang efisien yang membuat pembelian makanan menjadi nyaman dan aman. Sementara ruang makan di tempat-tempat seperti McDonald's dan Pizza Hut telah ditutup, rantai bisnis mereka tetap jalan dengan memanfaatkan layanan drive-thrus dan pengiriman selama pandemi.

Hal ini memungkinkan mereka untuk setidaknya tetap mendapatkan pemasukan.

Pendapatan di restoran rantai besar memang tercatat turun lebih dari 20 persen selama puncak pandemi, di bulan Mei. Tapi penjualan bulan yang sama, di restoran kecil tanpa jaringan atau hanya punya satu atau dua lokasi turun lebih dari setengahnya.

Pengunjung yang mendapati restoran lingkungan favorit mereka tutup selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan mulai lebih sering mengunjungi restoan dengan waralaba besar yang masih bertahan buka selama pandemi.

Adanya pelanggan baru membantu satu pewaralaba yang mengoperasikan 400 restoran cepat saji Pizza Hut tumbuh 18 persen dalam penjualan di toko miliknya.

Tapi, restoran dengan jaringan tidak semuanya beruntung. Misalnya untuk restoran di Ruby Tuesday, California Pizza Kitchen, dan beberapa rantai restoran kasual lainnya yang mengajukan  kebangkrutan.

Bahkan waralaba besar seperti Starbucks, Pizza Hut, dan Dunkin Donut berencana menutup 1.500 lokasi.

Meskipun, mereka memiliki simpanan yang fleksibilitas untuk tumbuh ketika pasar menguntungkan. Starbucks sendiri dikabarkan akan menginvestasikan US$1,5 miliar selama tahun depan untuk membuka 800 lokasi baru di AS dan China yang akan menekankan konter drive-thrus dan pick-up.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

waralaba makanan siap saji
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top