Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Startup Biotek Singapura Produksi Susu Terbuat dari Sel, Diolah dalam Laboratorium

Teknologi telah berkembang pesat seperti kita hidup dalam sebuah film fiksi ilmiah, namun ini adalah kehidupan nyata.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 09 November 2020  |  16:03 WIB
Pemilik TurtleTree Labs
Pemilik TurtleTree Labs

Bisnis.com, JAKARTA -- Teknologi terus berkembang. Di tahun 2020, mobil tanpa pengemudi sedang diuji, taksi terbang mungkin dapat segera menjadi kenyataan dan pengganti daging dapat berasal dari tumbuhan.

Teknologi telah berkembang pesat seperti kita hidup dalam sebuah film fiksi ilmiah, namun ini adalah kehidupan nyata.

Di Singapura, salah satu perusahaan rintisan membuat susu di laboratorium, tanpa bantuan dari sapi, manusia, atau mamalia apa pun.

Dilansir melalui Channel News Asia, TurtleTree Labs menyebut dirinya sebagai perusahaan bioteknologi pertama di dunia yang menggunakan metode berbasis sel untuk membuat susu di laboratorium, dengan tetap mempertahankan rasa dan komposisi yang sama seperti susu yang berasal dari cara alami.

Meskipun teknologinya mungkin sulit dipahami banyak orang, ini adalah inovasi yang telah memenangkan beberapa penghargaan bagi perusahaan.

Pada bulan Juli tahun ini, TurtleTree Labs dinobatkan sebagai pemenang utama The Liveability Challenge 2020, pencarian solusi tahunan untuk beberapa masalah terbesar yang dihadapi kota-kota di Asia Tenggara.

Perusahaan dianugerahi hibah sebesar 1 juta dolar Singapura oleh Temasek Foundation untuk mengembangkan produknya di Singapura, dan pada akhirnya meningkatkan solusinya di Asia dan sekitarnya.

Baru-baru ini, TurtleTree Labs membawa pulang hadiah utama untuk Entrepreneurship World Cup 2020 yang bergengsi, dengan hadiah uang tunai sebesar US$500.000.

Kompetisi global ini menarik 175.000 peserta dari 200 negara dan bertujuan untuk melahirkan generasi pengusaha berikutnya.

CEO TurtleTree Labs Lin Fengru mengungkapkan bahwa perjalanannya dimulai dengan keju.

“Saya memiliki hobi membuat keju di masa lalu. Dan untuk membuat keju yang bagus, Anda membutuhkan susu mentah [kualitas tinggi]. Saya [melakukan perjalanan] ke seluruh Asia, tetapi saya segera menyadari bahwa ada masalah dengan peternakan [di wilayah tersebut]. Ada hormon dan antibiotik yang disuntikkan ke sapi-sapi itu, akibatnya susunya terganggu,” tutur Lin.

Ketika Lin bekerja di Google, Lin bertemu dengan seseorang yang sekarang adalah Chief Strategist TurtleTree, warga asli California, Max Rye.

Rye sebelumnya adalah CEO sebuah perusahaan teknologi di Silicon Valley. Dia datang ke Google untuk sesi berbagi tentang teknologi transformatif, termasuk perusahaan yang membuat daging dan makanan laut dari sel.

SUSU SEHAT UNTUK GENERASI MASA DEPAN

Lin menjelaskan bahwa pekerjaan mereka adalah menyederhanakan ilmu di balik pembuatan susu di laboratorium. Mereka mampu mengisolasi sel langsung dari susu yang baru diperah.

Banyak orang mungkin tidak mengetahui hal ini, tetapi ketika seorang ibu memeras ASI, dalam beberapa jam pertama, masih ada sel-sel hidup di dalam ASI itu.

TurtleTre mampu mengisolasi sel-sel ini dan menumbuhkannya menjadi sejumlah besar.

“Selanjutnya, kami menempatkan sel-sel ini ke dalam lingkungan yang mirip dengan ambing sapi atau payudara manusia. Sel-sel tersebut kemudian akan diubah dalam media laktasi ini, dan hasil akhirnya adalah cairan susu,” ujarnya.

Visi keseluruhan perusahaan, menurut Rye, adalah menyediakan makanan dalam bentuk susu dan produk susu kepada dunia, tanpa harus merusak planet ini.

Saat ini, peternakan sapi menyumbang 37 persen dari emisi metana global. Kami juga tahu itu membutuhkan tanah, dan banyak sumber daya lainnya, untuk beternak.

“Bagaimana kita terus memberi makan orang tanpa dampak karbon? Dalam jangka panjang, kami ingin dapat menyediakan pangan bagi dunia dengan cara yang berkelanjutan. Dan di sini, di Singapura, ketahanan pangan adalah masalah besar, jadi bagaimana kita mengatasinya?" kata Rye.

“Jika Anda melihat produk susu, itu adalah segmen makanan terbesar di dunia, senilai US$700 miliar dolar. Dengan cara ini, TurtleTree benar-benar dapat memberikan dampak yang sangat besar,” tambah Lin.

Sementara di lab mereka memulai dengan membuat pengganti susu sapi, TurtleTree juga mengeksplorasi pembuatan ASI dan melihat banyak komponen aktif biologis berharga yang ada di dalamnya.

Susu formula mungkin tidak bisa menyamai komposisi ASI, tapi banyak wanita yang kesulitan menyusui. ASI yang dibudidayakan di laboratorium TurtleTree berharap untuk mencapai komposisi yang mirip dengan ASI manusia, kata perusahaan itu.

Menerapkan ilmu pengetahuan mereka untuk menciptakan ASI akan memungkinkan perusahaan untuk membidik industri bernilai miliaran dolar yang saat ini bernilai US$45 miliar.

TurtleTree Labs berharap dapat berkolaborasi secara strategis dengan berbagai organisasi dan institut untuk menembus pasar ini, berpotensi membangun pendapatan dari tahap awal.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

teknologi susu
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top