Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kisah Dana Maulana Mendirikan Label Danjyo Hyoji

Terkenal sebagai sosok tangan dingin di belakang label fesyen Danjyo Hyoji, Dana Maulana memiliki perjalanan panjang sampai ke titik ini.
Janlika Putri Indah Sari
Janlika Putri Indah Sari - Bisnis.com 08 Maret 2021  |  12:10 WIB
Danjyo Hyoji. Pada 2001 Dana membuat label Danjyo yang membatunya mandiri secara finansial.  - Dana Maulana
Danjyo Hyoji. Pada 2001 Dana membuat label Danjyo yang membatunya mandiri secara finansial. - Dana Maulana

Bisnis.com, JAKARTA - Terkenal sebagai sosok tangan dingin di belakang label fesyen Danjyo Hyoji, Dana Maulana memiliki perjalanan panjang sampai ke titik ini.

Kecintaannya pada dunia fesyen membuat Dana berani mematahkan stigma negatif pria yang masuk industri ini, termasuk perbedaan pandangan dengan orang tua.

“Awal terjun ke bisnis fesyen ketika masih duduk di bangku kuliah. Sejujurnya ide ini muncul akibat perbedaan pandangan hidup antara orang tua dan anak. Waktu itu orang tua aku bapak khususnya, mewajibkan aku untuk masuk jurusan teknik sipil dengan harapan bisa menjadi pegawai negeri seperti beliau,” kata Dana pada Bisnis, Senin (8/3/21).

Dana mengatakan itu merupakan masa sulitnya dimana mengalami pergolakan batin, namun satu sisi harus mengikuti nasehat orang tua. Nilai -nilainya pada awal perkuliahan sangatlah berantakan.

Dari nilainya yang semakin anjlok, Dana menyadari bahwa pilihannya tersebut bukan pashion-nya. Ia ingin menentukan jalannya sendiri, namun tidak tahu harus mulai dari mana. Dari sana ia mulai berfikir untuk lebih serius dalam mencari solusi untuk mengeluarkan konflik batinnya.

“Di kala itu aku cuma berpikir untuk bikin sesuatu yang bisa bikin aku mandiri secara keuangan, dan bisa menentukan sendiri jurusan di dunia perkuliahan yang aku mau dengan biaya sendiri dan tidak membebani orang tua,” katanya.

Dana kecil sudah tertarik dengan fesyen khususnya pakaian. Pada masa kuliah, ia sering berkunjung dan membeli bahan di pasar Tanah Abang. Jarak rumahnya yang dekat dengan pasar tekstil tersebut, membuatnya membeli bahan untuk membuat baju rancangannya. Pada pengerjaanya, ia meminta tolong pada tukang jahit.

“Hal- hal kecil seperti ini yang awalnya membawa aku untuk membuat sebuah brand pakaian dengan maksud agar bisa mandiri nantinya,” tambah designer Danjyo Hyoji tersebut.

Pada 2001 Dana membuat label Danjyo yang membatunya mandiri secara finansial. Dari bisnis kecilnya yang membuahkan hasil, diam-diam ia pindah jurusan dari teknik sipil ke teknik industri.

“Sejujurnya ingin sekali berada di jurusan yang ada unsur kreatifnya seperti fashion design tapi sepertinya aku tidak bisa bikin orang tua ku kecewa, karena menurut aku berhasil dan tidaknya seorang anak juga karena doa dari orang tua. Oleh karena itu supaya tetap punya title Sarjana Teknik hanya pindah jurusan,” tambah pria jebolan Teknik Industri Universitas Pelita Harapan itu.

Kendati memiliki latar belakang pendidikan berbeda dari profesinya saat ini, Dana merasakan polemik tersebut membuatnya menjadi pribadi dengan pola pikir yang lebih tertata dan lebih bertanggung jawab.

Jauh sebelum lahirnya Danjyo, Dana sempat membuat label bernama Dos+. Namun label pertamanya itu tidak berjalan sesuai harapan secara design pakaian, lokasi penjualan, dan tidak cocoknya partner bisnis kala itu.

Dari sana ia merancang strategi baru, termasuk mencari partner baru.

“Aku ingat sahabatku dari SMP yang menurutku memiliki selera yang sangat bagus untuk fesyen. Liza Masitha yang menjadi partner business-ku hingga saat ini. Liza juga mengambil jurusan kuliah yang tidak berhubungan dengan fesyen. Di awal membuat label pertama Dos +, justru aku tidak terpikir sama sekali untuk mengajak Liza,” Kenangnya.

Kerja sama Dana dan Liza semakin klop lewat label Danjyo. Nama Danjyo memiliki arti unisex dalam bahasa jepang.

Setelah lulus kuliah, Dana masuk ke lingkaran komunitas fesyen. Mulai dari menjadi reporter fesyen, menjadi penjaga toko fesyen hand bag sampai membuat acara fesyen.

Pada 2009 Danjyo mendapat predikat The Most Innovative Local Brand di kompetisi desain Cleo Magazine Fashion Award di Jakarta Fashion Week. Dari sana nama Danjyo berubah menjadi Danjyo Hiyoji.

Penggantian nama tersebut karena keduanya sepakat untuk serius pada label ini dengan mendirikan PT Danjyo Cipta Rega Pratama. Kata 'Hiyoji' memiliki arti hip, young dan crazy yang akhirnya menjadi DNA rancangan lebel tersebut untuk selalu dekat dengan generasi muda disetiap masanya.

Harajuku style yang saat itu tengah mendominasi pasar fesyen di Asia hinga kini tetap jadi inpirasi Dana dan Liza.

Bagi Dana, gelar pendidikan bukanlah hal yang terlalu penting selama ada tekad dan usaha di dalamnya. Hal tersebut yang menjadikan pondasi labelnya banyak dikenal seperti saat ini. “Aku sebenarnya tipe orang yang selalu berusaha memaksimalkan yang aku punya dan membiarkan sesuatu mengalir apa adanya,” tutup Dana.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

fesyen Danjyo Hiyoji
Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top