Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Dari Konstruksi Hingga Kesehatan, Ini Sepak Terjang Bisnis Crazy Rich Jahja Tjahjana

Nama jahja Teear Tjehjana mulai populer seiring kiprahnya mengakuisisi PT Nusa Konstruksi Enjiniring Tbk. (DGIK) melalui PT Global Dinamika Kencana (GDK).
Jajaran Direksi dan Komisaris PT Itama Ranoraya Tbk. saat seremoni pencatatan perdana saham perseroan di Bursa Efek Indonesia pada Selasa (15/10/2019). - Bisnis/Azizah Nur Alfi
Jajaran Direksi dan Komisaris PT Itama Ranoraya Tbk. saat seremoni pencatatan perdana saham perseroan di Bursa Efek Indonesia pada Selasa (15/10/2019). - Bisnis/Azizah Nur Alfi

Bisnis.com, JAKARTA - Jahja Tear Tjahjana belakangan menjadi nama yang populer di kalangan investor saham. Sepak terjang Jahja sebelumnya tidak banyak beredar karena lebih banyak di belakang layar.

Namun, seiring kiprahnya mengakuisisi PT Nusa Konstruksi Enjiniring Tbk. (DGIK) melalui PT Global Dinamika Kencana (GDK), namanya menjadi kian menjadi pembicaraan.

Jahja merupakan sosok yang membangun PT Global Dinamika Kencana. Berdasarkan penelusuran Bisnis, sosok kelahiran Bandung tersebut memiliki pengalaman bisnis yang luas.

Kiprah bisnis Jahja bermula pada 1982, ketika ia merintis usaha pertamanya, yakni penjualan komputer asal Taiwan dan penyedia material untuk proyek konstruksi dan renovasi.

Jam terbang awal itulah yang kemudian mendorong Jahja untuk mendirikan PT Citra Cendana Kencana pada 1988. Perusahaan ini kemudian berganti nama menjadi Global Dinamika Kencana pada 2002. 

Bisnis konstruksi melalui PT Dirgantara Yudha Artha (DYA) dijalankan Jahja pada 1990. Sampai hari ini, perusahaan yang rencananya bakal disinkronisasikan dengan DGIK tersebut telah memiliki 5 segmen bisnis. Di antaranya adalah konstruksi, pabrik aspal, pabrik beton, rental  alat berat, bahkan kontraktor pertambangan.

Beberapa contoh proyek besar yang sempat diikuti DYA di antaranya pembangunan Bandara Husein Sastranegara Bandung, Bandara Thaha Jambi, Bandara Sultan Syarif Kasim Pekanbaru, Tol Solo-Jogja-Kulonprogo, Tol Jakarta-Cikampek, hingga tol Semarang Batang. Perusahaan ini juga masih aktif berpartisipasi dalam Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung.

Dalam salah satu diskusi virtual yang dihelat Koperasi Berbagi Rakyat, awal November 2021 lalu, Jahja berkata bahwa kesuksesan di berbagai proyek tersebut langsung tidak sekali jadi. Ada proses panjang layaknya lari marathon yang menurut Jahja juga melelahkan untuk dilalui.

“Pada dasarnya semua itu proses, tidak bisa langsung besar. Saya melakukan ini dalam lebih dari 10 tahun, 15 tahun bahkan. Jadi tidak tiba-tiba bikin jalan tol. Kalau bicara omzet, dari awalnya Rp10 juta, jadi Rp100 juta, jadi Rp1 miliar, jadi Rp10 miliar, jadi Rp100 miliar dan seterusnya itu ada tahapan yang harus terus diikuti.” katanya.

Selain pada bidang konstruksi, Jahja juga masuk ke segmen bisnis kesehatan. Ia telah mengantarkan distributor jarum suntik sekali pakai PT Itama Ranoraya Tbk. (IRRA) melantai di Bursa Efek Indonesia pada 2019 lalu.

Selain IRRA, Jahja juga memiliki 2 perusahaan lain pada bidang kesehatan. PT Neumedik Indonesia dikelola langsung dibawah GDK, sementara PT Oneject Indonesia yang dikendalikan lewat entitas bernama PT Tri Mitra Sehati.

 


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper