Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Suka-duka Shinta Kamdani dan Ira Noviarti sebagai Pemimpin di Dunia Usaha

Walaupun Shinta W. Kamdani meneruskan usaha keluarga, bukan berarti dirinya sebagai perempuan tak menemukan tantangan di sepanjang perjalanan karirnya.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 26 Januari 2022  |  16:21 WIB
Chair B20 Indonesia Shinta Widjaja Kamdani dan Chair B20 Women in Business Action Council sekaligus Presiden Direktur PT Unilever Indonesia Tbk. Ira Noviarti berfoto bersama setelah sesi wawancara eksklusif mengenai Presidensi B20 Indonesia dorong peran perempuan di ekonomi global melalui Women in Business Action Council, Rabu (25/1/2022) - BISNIS/Dwi Nicken Tari.
Chair B20 Indonesia Shinta Widjaja Kamdani dan Chair B20 Women in Business Action Council sekaligus Presiden Direktur PT Unilever Indonesia Tbk. Ira Noviarti berfoto bersama setelah sesi wawancara eksklusif mengenai Presidensi B20 Indonesia dorong peran perempuan di ekonomi global melalui Women in Business Action Council, Rabu (25/1/2022) - BISNIS/Dwi Nicken Tari.

Bisnis.com, JAKARTA - Kepemimpinan perempuan selalu dikaitkan dengan sifat alamiahnya yang lembut dan 'membawa perasaan'. Namun, hal itu ternyata tak menjadi hambatan bagi perempuan untuk bisa mencapai posisi manajerial di dunia bisnis.

Setidaknya hal itu yang dialami oleh Shinta W. Kamdani yang kini menjabat sebagai CEO Sintesa Group yang juga aktif di Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dan kini menjadi Chair B20 Indonesia. Begitu pula dengan Ira Noviarti yang kini duduk di posisi presiden direktur PT Unilever Indonesia Tbk. dan Chair B20 Women in Business Action Council.

Walaupun Shinta meneruskan usaha keluarga, bukan berarti dirinya sebagai perempuan tak menemukan tantangan di sepanjang perjalanan karirnya. Shinta pun mengungkapkan sang ayah memang telah mempersiapkan dirinya menjadi seorang pebisnis sejak usia yang masih sangat muda.

“Di keluarga saya hanya ada 2 anak perempuan. Jadi saya sudah diekspos ke dunia kerja dari usia yang sangat muda. Kalau bisnis keluarga itu, dari kecil sudah diajak kerja, kalau liburan disuruh bantu, dan lain-lain,” kenang Shinta saat wawancara eksklusif B20 Women in Business Action Council di Jakarta, Rabu (26/1/2022).

Kendati berada di perusahaan milik keluarga, tidak berarti Shinta tidak berhadapan dengan stigma misalnya perempuan lebih emosional dibandingkan laki-laki. Dia pun mengungkapkan bahwa stigma kelemahan perempuan itu sebenarnya bisa diubah menjadi aset. 

Shinta mengingatkan bahwa setiap orang memiliki kemampuan khusus yang tidak dimiliki oleh orang lain. Dengan fokus dan memperkuat kemampuan itu, tentunya akan lebih mengurangi kesulitan yang dihadapi perempuan di dunia kerja.

“Dari perjalanan karir saya, saya selalu berinteraksi dengan banyak sekali, malahan di dalam bisnis saya, memang banyaknya laki-laki. Sewaktu saya mengambil alih bisnis ayah saya, banyak laki-laki dan bahkan usianya lebih tua dari saya. Itu tidak mudah. Tapi saya melihat di sinilah tantangan kita untuk memperlihatkan kepemimpinan perempuan,” ujar Shinta.

Di dalam forum B20 Women in Business Action Council, Shinta mengingatkan isu kesetaraan gender di dunia kerja dapat lebih digaungkan. Para anggotanya pun dapat saling membantu dan bertukar pikiran mengenai kepemimpinan perempuan.

Chair B20 Women in Business Action Council Ira Noviarti menambahkan bahwa edukasi keluarga juga menjadi penting untuk membangun jiwa kepemimpinan di dalam diri perempuan. Setidaknya edukasi keluarga itu lah yang menjadi bekal Ira hingga berada di posisi puncak Unilever Indonesia saat ini.

Dengan program yang akan dikemukakan dalam forum B20 nanti, Ira menyampaikan upaya untuk mendorong orang tua agar memperkuat kesetaraan gender di dalam keluarga bisa menjadi lebih besar.

“Di Unilever, kami memiliki banyak brand dan sejumlah program, sehingga kami bisa meng-influence keluarga yang lebih banyak. Perusahaan besar harus memainkan peran untuk membangun mindset orang tua [karyawan] di dalam keluarga,” ujar Ira.

Ira menunjukkan perusahaan-perusahaan besar memang lebih mengenal dan mengaplikasikan gender empowerment, namun masih terdapat perusahaan-perusahaan yang belum awas dengan isu tersebut.

“Sekarang bagaimana kita bisa melakukan dorongan ini agar lebih banyak perusahaan di Indonesia yang bisa memberikan kesempatan dan akses ke perempuan, misalnya dengan memberikan pelatihan skill dll kepada perempuan,” kata Ira.

Dengan gugus tugas Women in Business Action Council, Ira menyampaikan bersama dengan 151 anggota dari 26 negara dan 19 industri berbeda nantinya akan memberikan masukan dan rekomendasi kebijakan yang bisa diaplikasikan di banyak negara selama Presidensi B20 Indonesia.

Adapun, keterlibatan perempuan di dalam ekonomi terbukti membawa banyak manfaat. Ira menyampaikan keterlibatan perempuan di dunia usaha dapat mengerek ekonomi global sebesar US$2,5 triliun - US$5 triliun. Ditambah dengan kesetaraan antara perempuan dan laki-laki di dunia usaha, pertumbuhan PDB global diperkirakan bisa meningkat hingga US$28 triliun.

Di sisi lain, kekerasan terhadap perempuan justru merugikan ekonomi global bahkan mencapai US$1,5 triliun atau setara dengan 2 persen dari PDB global.

“Namun, meski telah banyak bukti bahwa kesetaraan gender merupakan hal yang penting dan memiliki peluang besar dalam pertumbuhan ekonomi global, tidak dapat dipungkiri bahwa nyatanya dalam ekonomi global, peran perempuan tetap kurang terwakili,” tutur Ira.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

unilever tips bisnis kadin indonesia unilever indonesia Presidensi G20 Indonesia
Editor : Farid Firdaus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper
To top